Hari Terakhir di Cairo Part 15

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 14.

Setelah terkantuk-kantuk dan juga tertidur sepanjang perjalanan, aku terbangun ketika kereta mulai memasuki stasiun Sidi Gabir Alexandria jam setengah enam pagi. Adzan subuh baru saja berkumandang, kami harus segera bergegas agar tidak ketinggalan sholat shubuh. Kami naik kereta kota dengan tiket seharga dua pounds.

Setelah melalui beberapa stasiun dengan jarak tempuh seperempat jam, sampailah kami ke stasiun terdekat dengan flat Mbak Mawar, Mandarah. Dia memang bertempat tinggal di Alexandria setelah perpindahannya. Kemarin datang ke Cairo beberapa hari hanya untuk acara silaturahmi Idul Adha, halal bi halal. Dan kami berhasil diculiknya. Haha..

Cukup berjalan kaki ke flat Mbak Mawar. Para lelaki menuju rumah kak Abi setelah mengatarkan kami. Setelah masuk rumah, aku, Vera dan Mbak Mawar bergantian mengambil wudlu dan segera sholat shubuh berjama’ah. Karena tidur yang tak nyenyak di kereta, kami beristirahat sejenak. Dua jam tidur kemudian kami mandi. Setelah berbenah, sekitar jam sembilan pagi kami memulai tur backpackeran ini.

Perpustakaan Alexandria merupakan tujuan pertama hari ini. Merupakan salah satu perpustakaan terbesar dengan referensi terlengkap kedua di dunia. Keren kan. Dikenal sebagai BIBLIOTHECA ALEXANDRINA. Bangunannya eksotis dan memukau. Rak-rak buku berjajar di tiap undak-undakan. Dilengkapi dengan komputer-komputer dengan layar datar yang memuat informasi buku-buku yang ada di perpustakaan. Untuk masuk kesini, harus membayar karcis seharga dua pound.

Masih satu kompleks dengan perpustakaan ini, adalah planetarium. Bentuknya seperti keong raksasa berwarna hitam dengan garis-garis putih. Kami segera menuju loket karcis. Sayangnya harus menunggu 45 menit lagi untuk menyaksikan pertunjukan selanjutnya. Kami pun memesan tiket terlebih dahulu yang harganya lima pound. Berarti kemi menghabiskan tiga puluh pound untuk berenam. Sambil menghabiskan waktu menunggu, dari planetarium langkah kami menuju museum yang juga berada dalam satu kawasan. Kami berfoto ria di dalamnya, di depan patung-patung dan prasasti di sini.

Empat puluh lima menit berlalu, kami kembali menuju planetarium. Pintu sudah dibuka, kami segera masuk. Melewati tangga yang berputar di sepanjang dinding, akhirnya kami sampai ruangan paling atas. Kami menyaksikan Nujuum al-Fara’inah, Stars of the Pharaohs disini. Menceritakan tuhan-tuhan zaman Mesir kuno dalam bahasa Arab. Bentuk atap kubahnya yang dijadikan layar protector langsung membuat tontonan menjadi tiga dimensi. Seperti menyaksikan sebuah bioskop, besar sekali, memenuhi seluruh ruangan. Kebetulan kami mengambil tempat duduk paling belakang, paling atas. Tempat duduk di sini di tata seperti auditorium.

Setelah cukup lelah dan lapar, kami menikmati bekal makanan yang kami bawa dari flat Mbak Mawar. Ternyata tadi pagi dengan baik hati sudah memasakkan bekal untuk kami semua. Wah, lumayan jadi irit jajan nih.

Sore harinya perjalanan dilanjutkan menuju FORTRESS of QAITBEY. Sebuah benteng yang dibuat oleh Sultan Qaitbey. Di dalam benteng ini dijadikan sebuah museum maritime, dipamerkan beberapa ikan dan hasil laut pantai Alexandria. Sayangnya ternyata kami kesorean dan hanya sempat foto-foto saja di luar. Belum lagi maghrib, bulan sudah tampak muncul di langit. Menambah indah foto yang kami ambil.

Adzan maghrib berkumandang, gelap datang. Bergegas kami menuju masjid terdekat untuk sholat. Kami harus berjalan kaki lumayan jauh sehingga ketinggalan jama’ah. Selasai shalat, di depan masjid kami sempat ditawari naik delman wisata oleh orang Mesir untuk keliling kota. sayangnya tarif lumayan mahal. Kalau dipikir-pikir keliling dengan berjalan kaki juga akan lebih puas. Kita bisa berlama-lama di lokasi dan berfoto.

Dari masjid kami menuju pasar malam di MA3MOUREYYA, dengan lidah kita: makmuriyyah. Tiket masuk seharga 3,25 pound. Karena mainan yang ada hanya untuk anak-anak kecil, kami akhirnya menyewa sepeda dengan tarif masing-masing sepuluh pound per jam. Karena lama tak pernah lagi menaiki sepeda, semenjak berada di Mesir, kami senang sekali seperti anak kecil. Kami mengelilingi komplek wisata makmuriyyah yang sangat luas, menuju tepi pantai.

Sepanjang jalan tepi pantai itu kami dilihati oleh orang-orang Mesir. Sempat kudengar seorang perempuan terheran dan bertanya pada lelaki disebelahnya, mungkin mengira kami tak paham bahasanya. Aku hanya tersenyum. Maklum di sini perempuan naik sepeda adalah sebuah aib, tak sopan, tercela. Lelaki yang ditanya pun menjawab sudah biasa perempuan-perempuan Asia kesitu menaiki sepeda. Kami pun cuek saja, kami kan turis, hehe…

Pulang dari Makmuriyyah kami menuju sebuah mini market untuk belanja kebutuhan dua hari ke depan. Ada sayuran, telur, bumbu, beras dan lainnya. Kami tak ingin merepotkan shahibul bayt yang telah berbaik hati memberikan tumpangan untuk tidur dan mandi. Melewati maktabah, toko buku atau bisa juga berarti kantor atau perpustakaan, aku pun membeli peta Alexandria. Karena akan sangat berguna untuk perjalanan ini.

Sampai di tempat tinggal Mbak Mawar, kami langsung mencuci dan memotong-motong sayuran bersama-sama. Agar besok pagi tinggal memasak saja. Mengirit waktu dan tenaga. Setelah selesai, kami langsung merebahkan diri untuk tidur.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 16.