Hari Terakhir di Cairo Part 16

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 15.

Paginya, sebelum subuh aku bangun dan membantu Mbak Mawar memasak bersama Vera. Seusai shalat subuh, mandi dan sarapan, kami mengepak makanan itu dalam beberapa tempat bekal. Begitu rampung kami bertiga segera turun. Untung flat Mbak Mawar hanya di lantai dua. Jadi tak terlalu menguras tenaga kami. Di bawah kami bertemu dengan Kak Andi , Kak Fahri, dan Kak Adit yang sudah menunggu.

Agar para lelaki ini bisa sarapan, kami berjalan menuju pantai. Tadi kami memang membawa bekal untuk sarapan mereka dan untuk makan siang kami berenam nanti. Di tepi pantai kami berhenti, duduk di beton duduk di pinggir trotoar. Sementara menunggu orang-orang yang sarapan, aku, Mbak Mawar dan Vera berfoto-foto. Kebetulan kami berhenti di depan belokan jalan, tempat untuk objek foto. Gdung-gedung yang ada di belakang kami pun menggoda untuk di foto.

Selanjutnya, kami berenam naik tramco, yaitu sebuah angkutan umum mobil roda empat, menuju petualangan hari kedua. Makam Imam Mursy menjadi tujuan pertama hari ini. Beliau adalah khalifah terbesar thariqah Syadziliyah. Makam Imam Abu al-Abbas al-Mursy berada dalam sebuah masjid. Ditutupi dengan kelambu yang semrawang atau transparan sehingga kami bisa melihat makamnya. Kemudian kami menuju makam Imam Syarafuddin al-Bushiri, penulis Burdah yang sangat monumental.

Agak mendung hari ini dan cuaca sedikit dingin. Namun tak menghalangi langkah kami terus melaju. Menuju makam dua belas Imam Syiah. Kedua belas makamnya ditutupi kain hijau. Tak jauh dari kawasan ini ada juga maka Nabi Danial. Makamnya panjang sekali, tertutup kelambu. Seperti makam-makam lainnya, makam Nabi Danial juga berada dalam kawasan masjid yang terkenal dengan namanya.

Makam selanjutnya merupakan makam Lukmanal-Hakim dan anaknya yang masih kecil. Kami pikir ini adalah Lukman al-Hakim yang dikisahkan dalam Alqur’an. Tetapi menurut penjaga makam, ini Lukman yang lain, salah satu murid Nabi Danial. Berada dalam masjid dengan tangga kayu yang langsung turun menuju makam. Membuat kesan tempat ini sungguh kecil, sempit dan tertutup. Kami semua berdoa dan membaca kalimat thoyibah serta tahlil di sini.

Sore harinya kami ke ROMAN Amphitheater. Harus naik tramco untuk sampai ke sana. Mbak Mawar, sang guide setia dan dengan penuh sabar mengantarkan kami. Sebuah museum terbuka. Menonton patung-patung, sphinx, pilar-pilar, peti-peti dari bebatuan. Monumen-monumen bersejarah yang di ketemukan di laut Alexandria. Ada makam-makam juga, tetapi mummy-nya sudah dipindahkan.

Terdapat teater romawi di tengahnya. Sebuah teater terbuka dengan sebuah batu bulat yang berada di tengahnya. Dengan sudut-sudut tertentu yang telah dirancang dengan apik, suara seorang orator yang berdiri di atas batu itu akan bergema dan terdengar nyaring meski tanpa menggunakan pengeras suara. Sehingga seluruh audiens atau hadirin yang duduk setengah melingkar di tempat duduk berundak itu bisa mendengar suara tersebut.

Dari amphitheater ini kami naik metro atau kereta dalam kota. harga tiketnya rubu’ atau dua puluh lima piester. Itu artinya seperempat pound. Wow. Dua jalur metro yang berbeda arah tiba-tiba berbelok sedikit kemudian saling berpapasan lagi dalam jalur yang bersebelahan. Dua jalur berseberangan ini mengapit sebuah bangunan yang ternyata di dalamnya terdapat makam Abu Darda’, dang perawi hadits.

Konon makam ini dulu pernah akan digusur karena lokasinya akan diperuntukkan bagi jalur metro yang tengah dibangun. Namun pengusaha Alexandria kala itu ternyata mendapatkan mimpi bahwa di lokasi itu memang benar ada makam seorang yang sholoh. Akhirnya penggusuran dibatalkan dan jadilah tempat makam ini unik di tengah kota kecil yang asri dan bersih. Aku sampai terkesima melihatnya, sederhana tapi apik.

Menyusuri pantai Alexandria, sebenarnya kami ingin naik bis tingkat. Tetapi urung kami lakukan karena mungkin malah bisa mengurangi keindahan menikmati pemandangan sepanjang jalan karena hari telah malam, hanya gelap yang dapat kami lihat nanti. Akhirnya kami naik tremco, ke sebuah pusat perbelanjaan. Maksudnya kawasan toko-toko yang berjajar di sepanjang jalan. Sebenarnya kami hanya ingin melihat-lihat, mengantar Kak Fahri yang hendak beli jaket. Tapi akhirnya beli juga. Harganya yang murah-murah menggoda kami untuk membelinya. Aku beli dua buah celana panjang untuk persiapan musim dingin. Kulihat Vera dan Kak Fahri akhirnya memborong banyak baju musim dingin. Wah!

Menyusul Mbak Mawar dan Kak Andi yang menunggu di pinggir pantai, aku dan Kak Adit berjalan kaki. Vera dan Kak fahri masih asyik berbelanja. Pantai sepanjang Alexandria memang berpasir. Namun kebanyakan batas antara pantai dan laut dipisahkan dengan buk beton yang bisa dibuat untuk duduk-duduk. Dan kotak-kotak beton sepanjang tepi pantai untuk menahan ombak. Memang pantai ini bersebelahan langsung dengan jalan raya. Sehingga dibuat praktis dan juga kuat sepertinya.

Kedinginan di pinggir pantai, kami berempat kembali menyebrang jalan menuju pinggir toko-toko tadi. Karena ngiler melihat es krim yang banyak dijual di sini dari kemarin, akhirnya kami membeli es krim. Ternyata makan es krim di musim dingin asyik juga. Untuk melengkapinya, kami beli sepotong kibdah atau sandwich hati untuk masing-masing.

“Ayo foto-foto lagi…” Mbak Mawar mengajak kami mengambil pose, dengan sukarela mengambil gambar kami semua. Maklum, dia jadi tuan rumah dalam perjalanan ini. Setelah puas bernarsis ria, bakda isya kami pulang ke flat untuk beristirahat malam.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 17.

Leave a Reply