Hari Terakhir di Cairo Part 17

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 16.

Hari ketiga jam tujuh pagi kami pergi ke MONTAZAPALACE GARDENS, sebuah taman terbesar dan terluas di Alexandria. Terpilih lokasi tersebut karena Kak Fahri dan Vera akan pulang ke Cairo pukul sepuluh nanti naik kereta. Jadi pagi ini kami tak bisa pergi jauh-jauh. Tiket kereta sudah dibelikan Kak Andi dan Mbak Mawar tadi malam, makanya mereka tidak ikut berbelanja. Sekalian membelikan tikt untukku dan Kak Adit yang pulang besok. Kali ini kereta yang kami pilih yang kelas bisnis. Perjalanan pulang haruslah menyenangkan.

Untuk masuk ke dalam taman, aku harus merogoh kocekku enam pounds. Sekalian komplit, demikianlah tekadku kali ini. Jadi perjalanan backpacker ke Alexandria ini benar-benar dapat obyek kunjungan yang banyak.

Masuk taman, kami berenam naik taksi minta langsung diantar ke tepi pantai Alexandria, ujung dari taman. Waktu tak banyak. Kulihat banyak orang yang sedang memancing di sini. Tempatnya yang dibuat jalan dari bebatuan besar sangat mendukung untuk pemancing. Kami menikmati pemandangan indah pantai sambil berfoto. Di seberang tempat yang kami pijak terlihat istana Raja Farouk. Karena masih terlalu pagi, kawasan tersebut masih di kunci.

Puas melihat-lihat dan berfoto, kami menuju lapangan rumput untuk sarapan. Seperti hari-hari sebelumnya, kami selalu membawa bekal yang dimasak di rumah Mbak Mawar lepas shubuh. Alhamdulilah selama tiga hari di sini, walaupun makanan tak seberapa, tapi kami cukup kenyang. Sebuah berkah.

Menjelang pukul Sembilan, kami meninggalkan Montaza, menuju stasiun dalam kota untuk mengantar Vera dan Kak Fahri yang akan pulang. Mereka pulang duluan ke Cairo karena ada tugas-tugas yang sudah menanti. vera memang orang yang sibuk, organisatoris.

Karena tujuanku dan Kak Adit selanjutnya adalah POMPEY’S PILLAR atau dalam bahasa Arabnya disebut Umudu as-Sawary, kami menaiki kereta kota yang juga ditumpangi Vera dan Kak Fahri. Mbak Mawar dan Kak Andi tak ikut, karena mereka sudah pernah kesana sebelumnya dan kebetulan, tiba-tiba mereka ingin ke hammam. Di dalam kereta kami berfoto ria, cuek dilihat penduduk Mesir sekitar kami.

Vera dan Kak Fahri turun terlebih dahulu di mahattah Sidi Gabir, aku dan Kak Adit tak beranjak dari kursi kereta. Menurut instruksi Mbak Mawar, kami harus turun di akhir mahattah, mahattah Raml. Kami berdua sebenarnya tak tahu jalan, baru pertama kali keliling kota Alexandria. Tapi berbekal peta yang kemarin kubeli dan catatan berisi arahan dari Mbak Mawar yang kutulis, kami nekat saja. Untung Alexandria kota yang kecil jadi tak begitu sulit bagi kami untuk mengenalnya dekat. Kata Mbak Mawar, dimanapun tersesat, Tanya saja pada orang Mesir arah pantai dan angkutan umum ke sana, pasti kita akan kembali. Memang wilayah Alexandria berada di sepanjang pantai.

Turun di mahattah Raml kami pindah ke mahattah metro di depannya. Nah dari sini kami langsung bisa sampai ke tujuan. Karena metro nomor dua tak kunjung terlihat, padahal sudah banyak metro yang lewat, kami ragu. Berkai-kali kami bertanya pada orang Mesir sekitar, ternyata banyak juga yang tak tahu. Alhamdulillah seorang bapak baik hati yang juga sedang menunggu keretanya menghapuskan keraguan kami.

Ketika kereta datang, ia bilang pada kernet dan kondekturnya untuk mengantar kami dan memberitahu kala sampai. Sebelum naik, kami berterima kasih pada bapak itu. Penduduk Alexandria memang sangat ramah, berbeda dari orang Cairo yang individualis. Setidaknya begitulah yang kami rasakan selama berada di Alexandria. Tapi bukan berarti tidak benar loh! Mbak MAwar dan kawan-kawan lain yang tinggal di Alex pun mengakuinya.

Tiang beton tinggi mulai terlihat. Kak Adit bertanya pada kernet. Dijawabnya bahwa kami mau sampai dan tinggal mengikuti bapak-bapak di depan kami yang membawa karung dan sudah bersiap-siap di tanggan untuk turun. Aku segera berdiri mendekat. Bapak yang disebut tersenyum pada kami.

“Hatrouh ilaa 3amuud es-Sawaary? Hatsyoufha?”, Kalian akan pergi ke Pompey’s Pillar? Kalian ingin melihatnya?, tanyanya ramah.
“Aiwa, insya Allah.” Jawab kami bersama, mengiyakan sambil membalas senyumnya. “Thayyib, Emsyi ma’aya, Baik, berjalanlah denganku.”

Kami mengikutinya turun. Di depan sebuah gapura tinggi dia berhenti dan menunjuk. “Heyya dzi, 3amud es-Sawaary, ini dia Pompey’s Pillar.”
“Jazaakallah khairan. Syukron ya kabten.” Kak Adit berterima kasih.
“Syukrun Lillah.” Jawabnya, kembali tersenyum. Si bapak berpamitan, melanjutkan perjalanan.

Aku dan Kak Adit segera memasuki gapura. Membeli karcis yang satunya berharga lima belas pound. Kemudian memasuki arena wisata. Sebuah museum terbuka, seperti Roman Amphitheater. Di sini kami menyaksikan pilar-pilar, tiang bergaya Romawi.

Ada satu tiang yang sangat tinggi, paling tinggi di antara yang lainnya. Berada di tengah-tengah. Seakan menopang langit, saking tingginya. Di depannya, dengan jarak agak jauh, terdapat dua buah sphinx. Selain dua benda tersebut yang sangat menarik perhatian, ada juga bath-up Cleopatra, patung-patung, serapeum dan sanctuary. Yang terakhir ini berbentuk gua yang di dalamnya terdapat gambar banteng atau sapi, aku tidak tahu persis karena sangat gelap.

Lampu yang ada hanya dapat menerangi jalan. Beberapa tiang atau pilar lain ada yang dibiarkan begitu saja, dalam posisi tidur. Ada yang miring. Ada juga sebagian pilarnya terbenam. Kami bertahan disini sampai jam dua belas siang. Cuaca siang itu panas sekali, menyerap tenaga kami, membuat kepala sedikit pusing.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 18.