Hari Terakhir di Cairo Part 18

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 17.

Berjalan ke arah belakang dari tempat ini, melewati sebuah gang panjang yang naik turun, kami sampai ke CATACOMBS OF KOM ES-SHOQAFA. Kuburan kuno di bawah tanah yang dipenuhi peti-peti ala Mesir yang terdapat mumi di dalamnya. Kata Kak Andi yang sudah pernah masuk ke sana, tempatnya indah sekali, unik. Tetapi alamak! Tiket masuknya tiga puluh lima pound dan dilarang membawa kamera masuk. Wah, sayang uangnya nih. Kami akhirnya hanya berfoto di depan bangunan, urung masuk ke dalam.

Agak kecewa, kami menuju masjid terdekat. Melaksanakan shalat dzuhur dan istirahat sebentar. Ta’mir masjid sempat mengajak kami makan siang bersama. Kami menolak dengan halus. Namun mereka memaksa. Akhirnya Kak Adit mengambil sesuap nasi dan memakannya untuk sekedar menghargai mereka. Bapak-bapak itu tersenyum aku hanya memperhatikan dari kejauhan.

Kak Adit meminta maaf karena tak bisa memenuhi undangan mereka karena terburu waktu, berterimakasih dan pamit. Mereka mengantar kepergian kami dengan senyuman. Ketulusan yang mengembalikan energy kami. Memberikan kesejukan pada hati yang menjalar, mendinginkan kepala setelah kepanasan. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya pada mereka!

Tujuan berikutnya, kali ini kami hendak ke ALEXANDRIA NATIONAL MUSEUM. Karena di dalam peta tempatnya dekat dengan lokasi terakhir yang kami kunjungi, kami pun berjalan kaki. Tetapi berkali-kali mencocokkan peta dengan nama-nama jalan yang terpampang, kok banyak yang berbeda. Mbak Mawar belum pernah ke museum ini, jadi tadi tak bisa memberikan perkiraan lokasinya. Kami pun mencari sendiri.

“Ini beneran jalan yang tergambar di peta ini, lho. Tapi kok namanya tidak sama dengan yang ada di papan nama jalan itu,” ujar Kak Adit. “Hmmm… iya nih. Padahal peta ini keluaran terbaru kan.” Aku membolak-balik peta. Kelinglungan ini terjadi beberapa kali, beberapa tikungan. Bolak balik tidak jelas. Berkali-kali bertanya pada orang Mesir yang kami lewati, banyak yang tak tahu. Beberapa sok tahu, menunjukkan arah yang berbeda-beda. Semakin membuat kami pusing. Dan jadilah kami tersesat. Akhirnya kami hanya mengikuti arus jalan. Dan baru sampai ke museum satu jam sebelum tutup.

Ufh! Untunglah sampai. Tertulis besar di depan bangunan “Muthaf al-Iskandariyah al-Qoumy”. Meski tiket masuknya dua puluh pound dan tak boleh membawa kamera masuk, tetap kubeli karena sudah terlanjur capai, sayang kalau tak jadi masuk padahal susah mencari, selain itu juga sebagai syukur telah menemukannya. Alhamdulillah karena akhirnya sampai ke tempat ini. Kalau tidak masuk, rugi dong karena tadi sudah sempat tersesat-sesat. Ada penjaga yang menerima penitipan kamera. Kak Adit menitipkan kameranya. Tahu sendiri kan aku tak punya kamera, makanya harus jalan sama Kak Adit yang punya.

Museum ini terdiri dari tiga lantai. Lantai basement memuat sejarah mesir kuno. Terdapat patung-patung, peninggalan, alat masak, alat-alat lain dan juga baju-baju zaman itu, sejarah pembuatan pyramid dan monumen lainnya. Sedangkan di lantai satunya menampilkan pembuatan amphitheater dan sejarah masa romawi dan yunani menguasai Mesir. Lantai teratas terbagi menjadi dua, menyajikan sejarah pada masa Kristen koptik dan Islam mulai masuk. Terdapat bagan yang menjelaskan perpindahan dari satu dinasti Islam yang menguasai Mesir ke dinasti berikutnya. Ada masa dinasti Umayyah, Fatimiyah sampai Turki Utsmani.

Kami keluar dari museum sekitar jam tiga sore. Setelah berfoto-foto di depan tulisan National Museum, kami jalan ke pertigaan jalan, pemberhentian tramco tak resmi. Hendak mencari tramco yang menuju Shati’el-Bahr, tepi pantai. Di pinggir pertigaan ini terdapat taman yang biasanya dikunjungi orang-orang sambil menunggu tramco. Cukup besar. Tramco yang ditunggu-tunggu penuh terus. Lama kami menunggu. Setengah jam, kami akhirnya bisa naik, walau harus berebut dengan penumpang lain.

Pantai sudah telihat. Tapi di perempatan sebelum jalan besar tramco berbelok. Akhirnya kami meminta pada supir untuk diturunkan. Kami berjalan kaki menuju pantai. Di depan pom bensin kami menunggu angkutan umum untuk pulang.

“Hei, ada bis tingkat tuh” seru Kak Adit. “Wah kebetulan banget. Ayo naik” ajakku. Akhirnya kesampaian juga naik bis tingkat sambil menikmati pemandangan pantai ketika masih terang. Turun dari bus, kami berjalan menuju sebuah mat’am (rumah makan) yang ada di tengah pasar tradisional Mandaroh. Merayakan senja terakhir di Alexandria dengan makan di sana, menikmati firah masywi (Ayam bakar) dan ruz (Nasi) ala Alexandria. Mengisi perut yang lapar dari tadi siang. Jadi makan siang dan makan malam dijama’. Setelahnya Kak Adit mngantarku ke rumah Mbak Mawar kemudian pulang ke rumah Kak Abi. Kami berdua penuh rasa penat dan lelah, tapi juga puas dan syukur.

Malam terakhir kami menginap di Alexandria. Aku dan Mbak Mawar rebahan di kasur sambil menikmati bintang-bintang. Aku menceritakan pengalaman bertualang hari ini padanya. Entah kapan lagi bisa mengunjungi Alexandria.

Pagi-pagi aku dan Mbak Mawar memasak bersama, menyiapkan bekal. Rencananya pagi ini kami akan sarapan di tepi pantai yang berpasir. Seperti biasa, Kak Andi dan Kak Adit telah menunggu di depan. Kami berjalan menuju pantai. Lebih jauh dari sebelumnya.

Pantai sudah ramai, banyak anak-anak yang sedang bermain atau berenang. Beberapa keluarga juga tampak asyik berbincang. Kami mencarii tempat yang lega dan membuka bekal. Sambil berbincang kami makan. Karena angin pantai yang agak kencang, kami mengepung makanan agak rapat. Takut pasir masuk ke makanan.

Selesai makan kami berbincang, bercanda sambil menikmati indah pantai. Tak ada yang tergesa-gesa. Tiket yang aku dapat untuk pulang ke Cairo jadwalnya berangkat pukul 16. Mbak Mawar dan Kak Andi juga fleksibel, tak ada jadwal kemana-mana hari ini. Kami berfoto, kebersamaan kami di hari terakhir di Alexandria.

Bakda Ashar Mbak Mawar dan Kak Andi melepas kami sampai mahattah Metro Mandarah. Sambil menunggu kereta datang, kami bercanda dan mengenang kembali perjalanan tiga hari yang seru kemarin.

“Kapan-kapan ke sini lagi ya. Jangan kapok.” Kata Mbak Mawar.
“Insya Allah mbak. Jangan kapok-kapok ya kita repotin.” Candaku. Semuanya tersenyum.
“Kapan-kapan kita mesti traveling lagi berenam,” ajak Mbak Mawar dengan penuh semangat.
“Ke Baitullah. Mau?” tantang Kak Andi.
“Mauuu…” jawab kami serempak.

Kereta yang akan kami tumpangi sudah terlihat. Kami pun berpamitan. Kupeluk Mbak Mawar dan cupika- cupiki. Tak lupa mengucapkan terima kasih lagi atas jamuan dan bantuannya. Bersama Kak Adam, aku naik kereta menuju Sidi Gabir. Kemudian baru naik kereta antar kota kembal ke Cairo naik Qitar atau kereta api Faronsawi, produk keluaran Prancis.

Kereta ini lebih baik dari kereta tiga hari lalu yang membawaku ke Alexandria. Tentu saja tiketnya lebih mahal yaitu Sembilan belas pound. Sering dibulatkan menjadi dua puluh pound. Kunikmati perjalanan terakhir backpackeran yang sungguh berkesan ini. Alexandria I’m in love. Benar-benar jatuh cinta dengan keindahannya dan keramahan penduduknya. Semoga nantinya bisa berkunjung lagi ke tempat ini.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 19.

Leave a Reply