Hari Terakhir di Cairo Part 19

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 18.

Seminggu ini benar-benar menjadi hari yang sangat melelahkan bagiku. Badan pegal-pegal tak karuan. Keluar asrama pagi-pagi sekali dan pulang mepet batas akhir waktu. Malamnya mengikuti dars yang diadakan di asrama. Sampai dering ponsel pagi ini meluruhkan seluruh letih dan lelah yang kurasa.

“Nduk, tadi aku sama Cak Badar ke rumah Bang Arman. Alhamdulillah kita udah dapat tiketnya. Tiketmu dititipin ke aku. Insya Allah kita jadi berangkat tiga hari lagi.” Suara Cak Wahid menyampaikan kabar baik yang selama ini kami tunggu. Subhanallah.

“Alhamdulillah. Sios tah iki, Cak?” tanyaku tak percaya, takjub.
“Lha piye, moso ra sido rek.” Candanya dengan logat Jawa Timuran yang khas.
“Yo sido rek. Matursuwun ya cak.” Aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaan dalam nada suaraku.
“Jangan lupa siap-siap. Oh, ya nanti syukurannya barengan aja. Insya Allah bakda maghrib sebelum berangkat, sekalian aku buat bekal kita nanti di perjalanan.”

“Oke deh. Lha aku ngapain, Cak?”
“Wes, biar kita-kita yang cowok aja. Kamu pasti capek banget. Lagian banyak temen yang mau dateng ngebantu. Ntar ikut iuran aja. Kamu yang bawa jajan buat di kapal.”

Cak Wahid yang meski senang bercanda menunjukkan kedewasaannya. Tak salah, dia orang yang sangat baik hati. Tak menolak ketika aku minta untuk dijadikan mahram Haji. Bahkan sangat antusias menyambutnya. Kebetulan nama Bapak kami sama. Membuat kami seakan punya ikatan saudara.

“Nggeh, Cak. Siap! Insya Allah. Syukron ya, Cak.” Segera setelah menutup telpon, aku bersujud syukur. Kurasakan tubuhku gemetar. Subhanallah. Aku akan mengunjungi rumahMu ya Allah.

Ya, inilah kelelahan yang aku alami akhir-akhir ini. Mengurus banyak hal untuk memenuhi persyaratan haji dari tempat tinggalku kini, Mesir. Sekitar sebulan yang lalu aku mendaftarkan diri bersama Cak Wahid, Cak Agus, dan Cak Badar ke Bang Arman, salah satu orang Indonesia pemilik travel yang menawarkan haji dan Umroh di Cairo. Alhamdulilah walau agak ruwet memenuhi segala persyaratan, akhirnya kami mendapat kepastian untuk segera berangkat ke tanah suci.

Kami harus menunggu lama untuk kejelasan tanggal keberangkatan. Bahkan sampai kakak-kakakku, Mbak Suci, Mas Riki, dan Mbak Naila sudah delapan hari di Madinah dan hampir seminggu di Makkah. Aku terus berdoa dan meski bosan menerima telpon dari Ibu di Jawa yang terus menanyakan kabar dan harus menjelaskan kepada beliau tentang sulitnya pengurusan di sini, aku berusaha bersabar. Ya Allah, aku hendak datang memenuhi panggilanMu, mudahkanlah segala urusanku.

“Jangan kuatir, Nduk. Kakakmu kan sudah di tanah suci, insya Allah doa mereka agar kamu bisa melaksanakan ibadah umroh dan haji sekarang akan dikabulkan. Yang jelas minta kakakmu doain aku juga. Soalnya tanpa aku, kamu gak bisa berangkat.” Seloroh Cak Wahid.

Hal yang pertama aku urus adalah meminta keluarga di rumah untuk membuatkan surat keterangan mahram setelah mendapat persetujuan Cak Wahid. Kukirimkan scan pasporku dan paspor Cak Wahid pada kakakku, Mbak Suci. Mbak Suci lah yang menguruskan surat keterangan muhrim di kecamatan. Begitu jadi diemailkannya surat maha penting itu kepadaku.

Kemudian kukirimkan pada Kak Arman yang menerjemahkannya dalam bahasa Arab. Setelah dikirimkan kembali kepadaku, aku print surat itu dan langsung meminta stempel dari konsuler. Baru bersama berkas yang lain seperti paspor, foto copyannya, foto copy karneh atau kartu mahasiswa, dan foto ukuran 4×6 dengan background putih aku kumpulkan pada kak Arman.

Sebenarnya Cak Wahid bukan mahram, bukan kerabat. Tak ada satu pun keluargaku yang berada di Mesir. Aku kuliah sendiri di sini. Semua mahramku tinggal di Jawa. Sama sepertiku, hampir semua teman perempuan yang hendak berhaji pergi dengan mahram pengganti, tentunya dengan izin keluarga masing-masing. Tapi begitu sampai di Makkah aku akan bergabung dengan saudara-saudaraku yang berangkat dari Indonesia. Ada Kakak kandung seorang perempuan dan satu laki-laki, kakak ipar perempuan, bulek dan paklik, serta adik dari nenekku.

Mengenai mahram pengganti ini, kami yang tinggal di asrama pernah bertanya pada ustadz. Jawabannya yang sangat hati-hati, subhanallah, sungguh menenangkan hati. Kata beliau, diwajibkannya seorang perempuan disertai mahram ketika bepergian lebih dari tiga hari sebenarnya adalah untuk menjaga keamanannya. Karena masyaqqah yang akan dialami perempuan selama perjalanan sangatlah berat, dari menaiki kendaraannya (onta), menuntunnya dan lain-lain. Mahramnya yang menanggung keselamatan dan keamanannya.

Sedangkan pada masa sekarang, yang menjamin keselamatan tamu Allah adalah maskapai penerbangan atau pelayaran dan transportasi yang dinaikinya. Selain itu, selama perjalanan haji selalu akan bersama jamaah haji lain sesame jenis secara beramai-ramai yang tidak memungkinkan untuk berkhalwat. Satu hal lagi yang penting, biaya haji yang sangat mahal tidak memungkinkan seorang perempuan untuk menunggu mahramnya mampu sedangkan ia sudah memiliki kewajiban untuk menyempurnakan rukun islam yang kelima tersebut.

Ditakutkan ia belum menjalankan kewajiban, ‘terburu’ ajal menjemput. Apalagi harus menunggu sang mahram yang sudah pernah menjalankan ibadah haji. Hampir di semua belahan dunia, harus menunggu bertahun-tahun untuk berangkat ke Baitullah setelah mendaftar. Ustadz Maulana mengakhiri jawabannya saat itu dengan kalimat “Wallahu A’lam”.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 20.

Leave a Reply