Hari Terakhir di Cairo Part 2

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo.

Setelah shalat safar, berdoa dan memandangi detail kamar, aku keluar rumah dengan wajah yang aku ceria-ceriakan. Berusaha menganggap bahwa perjalanan ini hanya traveling saja. Cak Wahid dan cak Maman membawa koperku, memasukkannya ke dalam mobil. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, aku berpamitan pada mereka berdua dan teman-teman lain yang hanya mengantar sampai depan mobil. Maklum, tak semuanya bisa ikut karena kapasitas mobil yang kecil. Bersama tujuh orang teman terdekat yang datang, kunaiki Avanza yang kami sewa.

Sayangnya mbak Sarah belum juga datang, padahal satu jam yang lalu dia mengabariku kalau sudah dalam perjalanan pulang dari KBRI menuju rumahku yang di kawasan Gami. Waktu yang sudah makin menipis membuatku terpaksa harus meninggalkannya. Akhirnya aku kirim sms, meminta maaf tak bisa berpamitan langsung padanya.

Bismillah…Mobil yang kami tumpangi pun segera meluncur. Memutar di belokan depan Mutsallats kemudian menuju arah Hay Tsamin. Baru saja aku berbelok ke kanan dari seberang masjid As-Salam, terlihat jalanan tertutup penuh dengan mobil. Macet.
Drrrtt..drrrrrtt… Hpku bergetar. Ada telepon masuk. Dari mbak Sarah!

“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam. Tan, aku sudah nyampe masjid Nuury Khattaab nih.”
“Wah, maaf mbak, kita udah jalan. Ini di Hay Tsamin malah macet.”
“Jadi gimana? Aku nggak nganter nih?”
“Mmmm…” Aku bingung, gugup, takut terlambat check in.

“Gimana, dia nyampe mana?” Tanya kak Adit yang duduk di depan. Kujawab sesuai pemberitahuan mbak Sarah, kemudian kutanyakan padanya bagaimana sebaiknya.
“Ya udah dijemput aja. Ga usah gugup. Insya Allah nyampe, ga telat.” Kak Adit mencoba menenangkan. Aku pun segera kembali pada mbak Sarah yang menunggu jawaban, “Iya mbak, mbak di situ aja ya. Kita mau jemput kesana.”
“Oke deh, aku tunggu.”

Mendengar percakapan kami, Rahman yang mengendarai mobil, membelokannya menuju arah Makram. Mencoba mencari jalan pintas ke Nuury Khattaab agar tak terjebak macet. Namun ternyata dugaannya salah. Tiap jalan yang kami lewati selalu padat merayap, menambah deg-degan jantungku. Aku ambil napas panjang dan menghembuskannya berkali-kali. Mas Agus yang melihat tingkahku jadi geregetan. Berkali-kali ia memintaku untuk tenang.

Seperempat jam berlalu, akhirnya kami berhasil mencapai Nuury Khattab dan menjemput mbak Sarah. Yang bikin deg-degan malah dengan santai dan pelannya berjalan menuju arah mobil kami. Iiihh… ga tau apa bikin orang semobil senam jantung. Begitu membuka pintu mobil, kami beramai-ramai mengeroyoknya dengan melempar candaan dan kekesalan yang bertubi-tubi mbak Sarah hanya meringis dan segera masuk. Berikutnya Rahman mulai memutar otak lagi mencari jalan bebas macet menuju bandara.

Dengan lihai Rahman mengendalikan kemudi. Belok kiri dari jalan dekat Madina menuju arah Katameya. Lagi-lagi tak sesuai perkiraan, jalanan ini pun macet. Tak ada lagi belokan yang bisa ditemui untuk memutar, akhirnya mobil kami mengikuti arus yang ada. Seluruh isi mobil terdiam. Tak sadar hanya tahan napas melihat barisan mobil yang menyemut sedemikian rupa. Lama diselimuti sepi, akhirnya Mas Agus melontarkan candaan untuk mencairkan ketegangan yang terlihat di wajah kami. Dan yang seperti ini selalu berhasil. Asal lontar, asal jawab, yang penting ramai. Baru empat puluh menit kemudian akhirnya kami sampai bandara.

Karena kemacetan yang harus dilewati, kami tak bisa lama-lama berpamitan. Sudah pukul setengah lima. Turun dari mobil kak Adit dan mas Agus mengangkat koperku dan dinaikkan ke atas troli yang tersedia di bandara. Sebelum masuk, aku sempatkan berfoto bersama sahabat-sahabat yang mengantar, mbak Hana, mbak Husna, mbak Sarah, Wulan, kak Adit, kak Azam, mas Agus, dan Rahman. Kemudian berpamitan kepada satu persatu dari mereka. Kujabat tangan dan kupeluk mbak Hana, mbak Husna, mbak Sarah dan Wulan bergantian.

“Terima kasih untuk semuanya ya, maafkan segala khilaf dan salahku.”
“Sama-sama Tan, doain kita ya semoga cepat lulus dan segera menyusulmu pulang.” Ah, Mbak Hana! “Insya Allah, semoga kalian dimudahkan dalam belajar, nanti kita ketemu lagi di Indonesia. Doakan aku juga ya.” Ucapku pada mereka. Mereka hanya mengangguk. “Aku ikut pulang mbak.” Wulan menarik tanganku seakan tak rela. “Makanya yang rajin belajar, cepet pulang ya.” Aku mencubit pipinya. Wulan, terkadang dia manja. Dan itu pasti nantinya yang buat aku kangen padanya.

Aku beralih pada teman-teman lelaki, kutangkupkan kedua telapak tangan sebagai isyarat minta maaf, terimakasih dan salam. Mereka melakukan hal yang sama. Terakhir aku berpamitan pada kak Adit, “Terimakasih atas semua bantuannya ya, kak. Semoga dibalas oleh allah, maaf saya tak bisa mengganti apa-apa, hanya merepotkan.” Kudengar beberapa teman berdehem menggoda. Kak Adit hanya tersenyum.

Kumasukkan koper dalam alat pemeriksa dengan bantuan kak Adit, menunjukkan paspor dan tiket pada petugas, kemudian memasuki pintu check-in. kulambaikan tangan untuk terakhir kalinya pada teman-teman. Mereka tertawa-tawa sambil memancingku agar menangis. Pastinya, usaha mereka tidak akan mempan karena tekadku. Alhamdulillah, tak ada air mata yang tumpah.

Di atas pesawat Saudi Airlines yang membawaku menuju tanah air, kupandang hamparan tanah berwarna cokelat debu padang pasir yang ada di bawah. Kubisikkan pada cairo, aku tak akan mengucapkan selamat tinggal, tetapi kukatakan aku akan kembali, menaklukkan indahmu dan kesempurnaanmu yang belum sempat kujelajahi. Insya allah. Dan senyumku pun terkembang.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 3.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *