Hari Terakhir di Cairo Part 20

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 19.

Syarat pendaftaran yang paling rumit adalah vaksinasi. Dua kali suntik vaksin harus kami lakukan. Yang satu suntik vaksin antivirus flu burung. Bersama teman-teman lain, kami beramai-ramai menuju Tahrir. Sambil menunggu antrean panjang di depan petugas di Mugamma yang akan memberikan cap Ta’shirah Audah atau re-entry visa di paspor kami, secara bergantian kami menuju klinik yang berada di sekitar daerah tersebut. Lumayan jauh dan pusing menghafal jalannya. Kami hanya mengikuti kawan yang pernah ke klinik tersebut.

Suntik yang kedua untuk vaksin antivirus flu babi. Qarar atau undang-undang untuk suntik ini baru ditetapkan tahun itu. Gres. Kami pun bingung. Awalnya, di beberapa klinik khusus, pemberian suntik vaksin ini dilaksanakan gratis. Tapi esoknya tiba-tiba klinik memasang tariff yang sangat tinggi. Mungkin melihat kami yang warga asing. Kami pun mencari dari satu klinik ke klinik lain. Dan kejadian itupun terus terulang. Sampai akhirnya kami mengadu nasib ke Tanta, salah satu muhafadzah yang terletak sebelum Alexandria.

Aku berangkat bersama Cak Wahid, Cak Agus, dan Cak Badar. Untuk urusan dan perjalanan haji kami memang satu paket. Aku sangat bersyukur kedua cak-cak ini membantu Cak wahid menjagaku. Seharian berada di Tanta ternyata tak membuahkan hasil. Seperti sebelumnya orang-orang yang awal datang masih diberikan suntikan secara gratis. Namun selanjutnya pihak rumah sakit tak mau memberikannya lagi. Esoknya kami mencoba ke daerah Banha, muhafadzah sebelum Tanta. Alhamdulilah kami mendapatkannya.

Syukur yang tak terhingga selalu aku panjatkan mengingat sebentar lagi akan berangkat. Kami termasuk orang-orang yang beruntung karena ternyata di tahun berikutnya tak bisa lagi mahasiswa Indonesia di Cairo berhaji dari Mesir. Karena diharuskan mengikuti kuota Negara masing-masing.

Segera kupak pakaian secukupnya, dua stel baju ihram dan mukena beserta sajadahnya. Obat-obatan, sandal, perlengkapan mandi yang telah kusiapkan sebelumnya. Tak lupa membawa buku panduan doa dan haji yang dibagikan di pelatihan manasik haji kemarin oleh Kak Arman. Juga beberapa buku tentang haji dan umroh yang kubeli sebelumnya. Besok aku harus membeli bekal makanan ringan dan minuman. Pergi ke sharafah atau money changer untuk menukarkan uang. Oh ya, pamit ke teman-teman dan menyelesaikan tanggungan. Meminta Nirma dan Kak Jay untuk membelikan muqarrar yang belum aku punya dan kesediaan mereka untuk meminjamkan catatan dan mengajariku pelajaran yang terlewatkan.

Banyak teman mahasiswa Cairo yang sudah pernah pergi menjalankan ibadah umroh dan haji backpackeran begini. Dari mereka, aku mendapat informasi untuk melakukan perjalanan ini. Dengan baik hati, mereka juga berbagi pengalaman dan persiapan yang harus dilakukan sebelum keberangkatan. Dan semuanya telah aku coba persiapkan sambil melengkapi persyaratan. karena biasanya pengumuman keberangkatan sangat mepet, seperti kali ini.

Sebagian besar teman laki-laki malah pergi dengan bekal dan uang saku tak seberapa, secukupnya. Mereka mengandalkan keahlian dan tenaga untuk mencari rezeki dan bekal selama perjalanan ibadah ini setiba di Makkah dan Madinah. Beberapa dari mereka melaksanakan umroh badal, mengumrohkan orang yang sakit atau sudah almarhum, dan mendapatkan uang saku yang lumayan dari orang yang meminta jasa ini. Ibadah plus plus. Paling sering, mereka mendorong kursi roda jamaah lain selama thawaf ataupun sa’i. melontarkan jumroh di Mina bagi jamaah yang sedang sakit atau tidak mampu dan orang tua, juga menjadi peluang untuk mendapat uang saku.

Rencananya, selama di Makkah nanti aku akan ikut tinggal brsama kakak-kakakku di maktab mereka. Tapi tak tahu bagaimana jadinya nanti jika penjagaan maktabnya ketat sehingga aku tidak diperbolehkan menginap di sana oleh pemilik maktab yang notabene orang Saudi yang keras. Juga apakah aku bisa ikut rombongan jam’ah haji mereka selama ibadah haji. Kalau diperbolehkan, menurut perhitunganku, kami hanya akan bersama selama seminggu di Makkah, lima hari ibadah haji, dan tiga hari pasca haji.

Kemudian mereka bersama jama’ah sekloter harus segera pulang ke Indonesia karena telah selesai melaksanakan ibadah haji. Sementara aku masih akan melakukan perjalanan ke Madinah. Dengan perhitungan seperti ini setidaknya aku bisa mengirit biaya hidup di sana. Untuk persiapan agar boleh mengikuti jama’ah, Mbak Dini membawakan seragam jama’ah haji Indonesia beserta gelang tanda pengenal milik Mbak Nia, Kakakku yang melaksanakan haji tahun lalu.

Tapi untuk beberapa hari tinggal di Madinah aku masih bingung. Tak tahu medan dan sikon. Apakah akan mendapat fasilitas penginapan selama berada di Madinah atau harus mencari sendiri, bagaimana transportasi menuju ke sana dan hal-hal lainnya. Ah, tak usah risau. Bulatkan tekad. Allah akan selalu bersama kita, apalagi untuk mencari jalan menuju-Nya. Kapan lagi kesempatan emas ini datang. Mumpung jarak antara Mesir ke Makkah dekat, dibanding dari Indonesia.

Bismillah. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan dan pertolongan. Kalaupun memang harus menggelandang nantinya, aku tak akan sendiri. Cak Wahid dan teman-temannya akan selalu menemani, kami harus siap dengan segala macam resiko dan kemungkinan. Para mahasiswa Cairo yang menjadi petugas melayani jama’ah haji Indonesia pada musim haji ini juga bisa dimintai info ataupun bantuan nantinya. Tak perlu bingung karena mereka tersebar di kota Makkah, Madinah dan Jeddah.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 21.

Leave a Reply