Hari Terakhir di Cairo Part 21

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 20.

Aku berangkat dari Bawabah dua, tempat tinggal adik kelasku, wulan kala itu. Aku langsung mengambil agazah atau cuti dari asrama sehari setelah dihubungi Cak Wahid. Hal ini untuk memudahkan kami berkoordinasi sekaligus memberiku kesempatan untuk mempersiapkan pikiran, hari dan jiwa, memfokuskannya untuk perjalanan haji ini. Koperku sudah berada di secretariat almamater. Aku hanya membawa satu koper dan ransel. Wulan akan menyusul datang ke secretariat ba’da isya’.

Syukuran haji kami berempat sekalian pamitan dan minta doa dilaksanakan di secretariat almamater. Setelah maghrib mulai banyak kawan yang berdatangan. Acara diisi dengan doa bersama. Menunggu tengah hari, waktu kedatangan bus yang akan membawa kami ke pelabuhan safaga, para sahabat menuliskan doa-doa dan harapan mereka yang ingin dilafalkan di depan Ka’bah maupun sepanjang doa yang kami panjatkan di sana nanti. Untungnya aku sudah mempersiapkan buku khusus. Kukeluarkan buku dan pulpen milikku untuk mereka tulisi.

Ketika jam menunjukkan waktu menjelang tengah malam, kami segera berangkat menuju Suuq Sayyarat yang terletak di samping kawasan Bawabah Tiga dimana secretariat almamater kami berada. Banyak sekali kawan yang mengantar, laki-laki dan perempuan. Semua ikut berbahagia dan antusias.

Delapan bus besar yang berbaris di pinggir jalan sudah menunggu kami. Nama-nama jama’ah haji beserta kloternya diumumkan. Kami serombongan dan seorang teman perempuan, Mbak Nilam masuk bus empat. Aku tak begitu mengenal yang lain. Mbak Mila yang kawan sekamarku di asrama beserta mahram dan rombongannya, anak-anak Kalimantan mendapat bus yang berbeda. Untunglah ada Mbak Nilam, aku punya teman.

Segera kami mencari tempat duduk di bus empat sambil meletakkan koper yang kami bawa. Aku duduk di samping Mbak Nilam, sisi jendela, tepat di depan pintu bus bagian tengah. Cak wahid dan kawan-kawannya dapat tempat duduk di belakang.

Sebelum bus berangkat, kami turun dulu untuk berpamitan pada kawan-kawan yang mengantar. Berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Bahagia pasti. Tapi kesedihan juga menyusup dalam hati. Bagaimanapun, sebagai manusia harus bersiap untuk menghadapi kejadian yang tak diinginkan, kematian. Seolah akan berpisah lama atau bahkan selama-lamanya. Dan inilah pengalaman pertamaku meninggalkan Mesir. Tangisku pecah. Mbak Nina segera memelukku erat, turut menangis kencang.

Bus yang kami tumpangi mulai berjalan pelan sesaat setelah semua penumpang naik. Ternyata banyak juga yang harus berdiri. Aku yang berada di pinggir jendela melambaikan tangan pada semua yang mengantar. Cak Maman memberikan isyarat agar aku tak menangis lagi. Aku tersenyum.

Doa safar kami lafalkan bersama dipimpin penanggung jawab kloter. Aku lanjutkan berdoa sepenuh hati, Allahumma inna nastahfidhuka wa nastaudi’uka adyaananaa wa anfusanaa wa aulaadanaa wa amwalanaa wa kulla syai’in a’thaytanaa.

Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya kami meminta perlindungan dan menitipkan pada engkau agama kami, diri kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang engkau berikan kepada kami. Dan shalawat haji senantiasa teruntai di bibir mengiringi perjalanan untuk menyempurnakan iman sampai mata terlelap.

Perjalana darat pertama yng harus kami tempuh memakan waktu delapan jam. Melewati sebuah terowongan panjang di terusan Suez. Shalat shubuh kami lakukan di musholla kecil dalam rumah makan yang kami singgahi. Kami sampai di mahattah bus Minak (Pelabuhan) Safaga jam delapan pagi. Sepi.

Bus-bus yang kami tumpangi termasuk rombongan yang datang awal. Dan ternyata kami harus menunggu cukup lama karena pelabuhan baru akan dibuka sore hari. Satu persatu penumpang pun turun berjalan-jalan di sekitar area.

Mahattah ini sangat luas. Cukup untuk berpuluh-puluh bus. Di pinggir-pinggirnya terdapat dua toilet dan kios. Sebuah masjid lumayan besar berdiri tegak di pojok. Ruang-ruang pertemuan seperti kelas terdapat di tengah lapangan yang luas ini. Ada yang terkunci, ada juga yang tidak. Beberapa penumpang yang turun beristirahat di dalamnya. Ada juga yang pergi ke masjid. Dan yang perempuan kebanyakan tetap bertahan duduk atau tidur di dalam bis saja.

Aku sms ibu, mengabarkan bahwa rombonganku sudah sampai pelabuhan Safaga dan baru nanti tengah malam kapal kami akan berangkat. Tak lupa aku sms teman-teman yang ada di Cairo, memberitahu bahwa kami telah sampai pelabuhan dengan selamat. Dari semalam baterai Hp sengaja aku hemat agar tak kesusahan berkomunikasi dngan Ibu dan teman-teman Cairo.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 22.

Leave a Reply