Hari Terakhir di Cairo Part 22

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 21.

Hpku bergetar beberapa saat kemudian. Ya, aku lebih suka mensilentnya. Telepon dari Ibu. Segera kuangkat. Ibu mengucapkan salam dan menanyakan kabarku. “Ya pokoke begitu tekan Jeddah langsung sms ibu karo mas Riki ya. Mengko tak kirimi nomere mas Riki seng anyar.” Ibu mengingatkanku agar mengabarinya dan kakak lelakiku yang ada di Makkah begitu sampai Jeddah.

“Njih bu. Mangkeh wonten Jeddah tumbas nomer enggal Insya Allah.” Aku mengiyakan dan berjanji untuk membeli nomor telepon provider baru di sana. Ibu kembali mengingatkan agar janjian dulu dengan Mas Riki sebelum bertemu, “Nek tekan Makkah yo telpon. Janjian neng pintu Ka’bah, di deloki nomere, engko kondho mas Riki.”

“Njih Bu, Insya Allah. Nyuwun pandunganipun mugi-mugi selamet.” Tutupku meminta doa dari beliau. Dari seberang sana Ibu mengiyakan kemudian mengucap salam dan menutup teleponnya.

Mumpung kakak-kakakku sedang berngkat haji, Ibu mendorongku untuk juga berangkat. Biaya lebih murah, lebih dekat dan dapat bertemu di sana. Setidaknya meringankan berat rindu yang terpendam. Tak apa walau tak bisa bertemu Ibu. Dan lagi pula aku anak terakhir. Dengan berangkatnya kami kali ini, berarti semua anak Ibu telah menepati rukun islam yang kelima.

Ternyata hal inipun menjadi sebuah cerita tersendiri. Ibu berulang-ulang kali menceritakan mimpiny yang antara sadar dan tidak ketika melaksanakan haji pada tahun 2001. Aku masih kelas enam SD ketika beliau tinggal berangkat ke tanah suci. Saat mendapatkan pengalaman itu Ibu sedikit terkantuk tapi merasakan hal tersebut seolah nyata. Ibu yang tengah berada di dalam masjidil haram melihatku datang ke arahnya bersama anak-anak kecil lain sambil berlar-lari.

Ibu pun bertanya pada sosokku menanyakan dimana Mbak Nia. Aku di situ menjawab bahwa Mbak Nia tengah mengambil air wudlu. Dan dengan keberangkatan kami ini, menjadi penjelasan dari mimpi yang hanya sekelebat itu. Tengah asyik dengan lamunanku itu cak Wahid memanggil, mengajakku turun dari bus untuk sarapan bersama.

“Nduk, sarapan sek yok neng ngisor. Bareng-bareng. Ben rodo seger.” Aku mengajak Mbak Nilam. Namun dia menolak karena membawa bekal sendiri yang telah disiapkan oleh teman-teman serumahnya. Dia bertahan untuk duduk di dalam bus. Aku segera turun memenuhi undangan cak Wahid. Semua bekal makanan berat untuk rombongan kami memang dibawa bergantian olehnya, cak Agus dan cak Badar.

Di pinggir dinding ruang pertemuan yang berlantai keramik kulihat cak Badar, cak Agus dan beberapa kawannya duduk di sana, membuka bekal yang dibawa. Aku pun duduk di tempat yang sama, agak jauh. Cak Wahid menyodorkan padaku lontong yang dibuatnya dalam bungkusan plastic kecil-kecil. Cak Badar mendekatkan lauk berupa kering temped an ayam goreng yang dipotong kecil-kecil. Terasa sekali aku menjadi adik mereka, memang aku yang paling kecil, baik dari usia maupun fisik. Jadi benar-benar dimanja.

“Dimaem seng enak Nduk.” Cak Wahid mempersilahkan. Aku pun memakan porsi bagianku, sementara mereka makan bersama. Selesai sarapan dan membereskan bekal kami, aku kembali ke dalam bus. Sebentar lagi waktunya shalat jum’at. Beberapa kawan serombongan ikut shalat jum’at, tapi kebanyakan memilih untuk melakukan shalat jama’ qashar dzuhur dan ashar setelah jama’ah shalat jum’at selesai. Kami tak tahu kapan akan masuk kapal dan membutuhkan waktu berapa lama sampai ke sana.

Selesai shalat jum’at dan melihat jama’ah bubar meninggalkan masjid, aku masuk untuk berwudlu dan menunaikan shalat jama’. Sekitar jam dua menjelang waktu ashar, kami dipanggil untuk segera masuk bis lagi karena perjalanan akan segera dilanjutkan menuju pelabuhan. Jalanan ternyata sangat macet. Kulihat beberapa mobil yang dipenuhi koper-koper besar di atasnya.

Mungkin jama’ah haji juga. Tak terasa sampai terdengar dari kejauhan adzan ashar telah berkumandang. Setelah melalui macet yang panjang, akhirnya kami sampai di pelabuhan. Berbondong-bondong orang turun dari kendaraannya dan menuju sebuah kapal yang telah dibuka “pintu masuk”nya. Aku dan rombongan segera berbaris mengantre sambil menyeret koper kami.

Bagian kapal yang menempel pada pelabuhan dikelilingi dengan rantai dan tongkat besi, hanya disisakan celah sedikit untuk pintu deteksi yang akan dilewati penumpang. Di sampingnya kulihat beberapa petugas berseragam biru dongker memeriksa paspor dan tiket penumpang. Segera kupersiapkan paspor, tiket, kartu-kartu vaksin dan pemeriksaan.

Di loket pemeriksaan yang ada di depan kulihat orang Indonesia yang tengah berdebat dengan petugas. Ingin tahu yang terjadi kutanyakan pada orang yang antre di depanku. Katanya anak yang dibawa si Ibu tidak diperbolehkan masuk karena belum melaksanakan vaksinasi antivirus flu babi.

Mbak itu dan suaminya mencoba menjelaskan pada petugas bahwa dokter tidak memperbolehkannya mendapatkan suntuikan vaksin tersebut karena belum cukup umur. Kulihat sang anak berusia sekitar dua tahun. Tapi petugas masih saja menahannya. Kemudian mempersilahkan antrean berikutnya untuk diperiksa dan memasuki kapal.

Si ibu bersungut kesal. Karena melihat kegaduhan itu petugas lainnya datang dan mencoba memeriksa tiket, paspor dan kartu yang dibawanya. Lagi-lagi tak boleh. Sang suami pun mencoba meminta bantuan pihak travel dari orang Indonesia untuk menjelaskan pada petugas.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 23.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *