Hari Terakhir di Cairo Part 28

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 27.

Belakangan kami diberitahu oleh Ustadz Dzakir, tetangga atas kami bahwa hari ini beribu-ribu tahanan telah lepas dari jeruji besi. Banyak yang mengira tahanan tersebut sengaja dilepaskan oleh pemerintah agar mengacaukan konsentrasi massa. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka dilepas oleh pendemo agar membantu menghancurkan kantor-kantor polisi dan bangunan pemerintah lain.

Para pemuda Mesir yang ramai dibawah sedang melakukan ronda untuk mengamankan daerah kami dari para baltajy atau perampok yang kemungkinan bagian dari tahanan. Untuk beberapa hari ke depan ronda akan terus dilakukan secara bergilir oleh pemuda-pemuda Mesir dan bapak-bapak yang mampu dari beberapa imarah kawasan kami selama jam malam. Alhamdulillah, setidaknya kami sedikit tenang dari informasi yang disampaikan beliau.

Sudah beberapa hari ini, sejak demo yaum al-ghodob, tiap malam kami mendengarkan tank-tank tentara berjalan pelan melewati jalan besar dekat imarah kami menuju Hay Asyir. Hening malam terpecah dengan beberapa suara tembakan atau gaduh orang Mesir berlari-larian. Aku, Teh Dina, teh Karin, teh Fatimah, Mbak Aisyah dan Mbak Nanda hampir tak bisa tidur tiap malam. Kami selalu bergantian berjaga. Mendengar suara-suara baik tembakan, tank berjalan, gaduh peronda, membuat kami selalu berlari ke arah jendela, mengawasi kejadian-kejadian yang ada di luar sana.

Jalan di pinggir Suuq Sayyarat yang berada di sebelah imarah menjelang jam malam selalu ditutup oleh petugas ronda dengan batu-batu, besi dan penghalang lain. Kulihat tiap mobil yang lewat, baik di jalan besar atau dipinggir Suuq Sayyarat selalu di periksa. Pengendaranya akan di interogasi lama. Jika tak mencurigakan, mobil baru dipersilahkan lewat. Di tempat pemeriksaan itu mereka memasang batu-batu yang di tata zig-zag selebar ukuran mobil untuk mencegah mobil yang di periksa melarikan diri.

Jumlah bulldozer dan mobil keruk yang mangkal di pinggiran Suuq Sayyarat pun bertambah. Menjelang jam malam mobil-mobil ini akan dipindahkan ke beberapa tempat berbeda, mungkin untuk memblokade jalan. Dan sekitar pukul tujuh para pengemudi akan mengembalikannya kembali ke Suuq Sayyarat.

Dengan beraksinya baltajy yang merampok rumah-rumah penduduk Mesir di berbagai kawasan, pemerintah mengumumkan di perpanjangnya jam malam, menjadi pukul tiga sore sampai delapan pagi. Tentunya hal ini sangat membatasi gerak-gerik kami. Apalagi beredar rumor di kalangan orang Mesir bahwa anjaby yaitu warga Negara asing ikut andil, bahkan mendanai pelaksanaan demonstrasi. Rumor ini pun sangat menyudutkan kami yang warga asing, walaupun mereka tahu kami mahasiswa Al-Azhar.

Kecintaan mereka terhadap negaranya yang menurut sebagian dari mereka malah menjadi runyam karena demo sampai mengalahkan logika beberapa penduduk awam yang di bakar emosi akan ketidakmungkinan campur tangan kami. Tapi tak sedikit juga yang membela, walau masih sering terlihat warga Mesir yang menjadi sensitive akan kehadiran kami.

Demonstrasi ini sangat berdampak pada kami, warga asing. Dimana-mana paspor kami selalu di periksa, baik oleh militer maupun penduduk local. Bahkan pernah sekali perjalanan dekat, hanya seratus meter, paspor di periksa sebanyak Sembilan kali. Tak hanya itu, kejadian-kejadian menyeramkan mulai menghantui kami.

Beberapa kawan di tangkap oleh aparat karena tak membawa paspor. Mereka harus mendekam beberapa jam di dalam sel penjara sebelum dibebaskan dengan bantuan KBRI. Ada yang hampir di pukuli penduduk Mesir yang emosi, menuduh Negara kami ikut-ikutan dalam revolusi ini. Untungnya dia dilepaskan setelah warga melerai dan menjelaskan kalau warga Indonesia yang tinggal di sekitar hanya datang untuk belajar agama.

Pengalaman lain yang di alami sesame kawan mahasiswa hanya ku dengar sambung-menyambung dari teman. Ada yang pernah diacungi pistol dan senapan gara-gara di curigai. Ada yang membawakan koper seorang teman yang pindahan kemudian koper itu di tembak lima kali oleh aparat ketika di periksa dengan dasar kecurigaan karena tak membawa kuncinya. Ada juga yang hampir di keroyok oleh tiga perampok yang beraksi memanfaatkan situasi yang labil.

Dan yang paling jelas mengancam di depan mata, stok makanan yang menipis, pulsa yang terbatas dan dijual mahal, bahkan banyak toko tak menjualnya lagi yang menjadikan komunikasi seret, dan bank-bank yang tutup sehingga tak ada pengisian uang di mesin atm sedangkan tak ada lagi pegangan.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 29.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *