Hari Terakhir di Cairo Part 30

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 29.

Kudengar mbak Eli menelepon seseorang. Dengan gugup dia menceritakan pada lawan bicaranya bahwa kawan serumah sudah masuk daftar gelombang dua, sedangkan dia takut jika harus tinggal sendiri di rumah.

Agak lama dia berbicara di telpon, sementara kulihat kawan-kawan yang lain sedang sibuk mempersiapkan barang bawaan untuk kepulangan dan menelpon beberapa sahabat untuk berpamitan. Kembali pandanganku pada wajah resah mbak Eli, dia memohon pada sang kawan untuk menghubunginya jika ada seseorang yang membatalkan seat dari gelombang dua. Mungkin kawannya salah satu dari panitia evakuasi ini, pikirku.

Sedikit kelegaan terpancar dari wajah Mbak Eli setelah menutup telpon. Aku paham, pasti dia sangat resah dan panic melihat kami semua yang kawan serumahnya sudah mendapat jatah masing-masing sedangkan ia masih berada dalam sebuah ketidakpastian. Dan seperti Mbak Aisyah, visanya pun sebentar lagi mati. Ya, seperti itulah kesulitan mahasiswa asing yang baru saja lulus. Kendala izin tinggal mengharuskan mereka segera pulang walau ijazah universitas belum jadi.

Rapat keluarga pun di gelar. Membahas kelanjutan syaqqah yang kami sewa dan nasib barang-barang kami yang ada di dalamnya. Sebenarnya kami sudah membahasnya kemaren malam. Kamipun sudah menelpon Baba/ Bapak pemilih syaqqah yang kami tinggali, berpamitan padanya jika sewaktu-waktu kami harus di evakuasi.

Pamitan pada mudirimarah (Ketua RT) pun sudah. Kami menitipkan syaqah seperti yang diamanatkan oleh Baba dan barang-barang kami yang ada di dalamnya. Kali ini kami membahas igar/ uang sewa syaqqah dan beberapa faturah/ tagihan yang belum sempat kami bayar, mulai dari telpon, mayyah/ air, kahraba/ listrik hingga gas.

Obrolan sempat terhenti karna mbak Eli mendapatkan telepon. Berita yang dia harapkan. Ada seat yang dibatalkan, dan dia mendapat kesempatan menggantikannya. Berarti genaplah semua kawan rumahku akan pulang besok. Agak sedih karena berarti aku harus sendiri. Tapi ya sudahlah, ini konsekuensi dari keputusanku.

Seperti ini mungkin lebih baik. Mbak Eli sudah terlalu ketakutan. Ketika mengurus syahadah kemarin, menjelang dhuhur dia melihat beberapa orang Mesir mengemudikan mobil sambil membawa pistol. Pastilah kaget dan langsung gemetaran. Tak pernah sekalipun melihat orang memegang senjata. Di negara orang pula.

Rapat dilanjutkan. Sesaat kemudian suasan menjadi sedikit panas. Beberapa wajah terlihat kecewa dan agak marah, menanyakan kepadaku kenapa aku tidak mengiyakan saja tadi ketika dimasukkan gelombang kedua. Aku jelaskan pada mereka alasan-alasan dan pertimbanganku tadi. Hening. Aku tahu ada yang tidak puas dengan jawabanku, beberapa mencoba memaklumi. Aku mengerti kekhawatiran mereka, tak sanggup jika meninggalkanku sendiri tinggal dirumah sedangkan mereka mulai beranjak pergi.

Dan apa nantinya yang dikatakan kawan-kawan lain kalau mengetahui aku tertinggal tanpa mengetahui asal muasalnya. Maka dari itu aku memutuskan untuk meninggalkan rumah bersama mereka esok hari dan menetap di rumah seorang kawan yang tak jauh dari tempat tinggalku, masih kawasan Gami.

Walau dengan sedikit berat hati, akhirnya semua sepakat. Uang syaqqah dan semua tagihan akan kami serahkan pada ustadz Dzakir, mudir imarah beserta semua kunci syaqqah yang kami pegang. Karena aku dan Mbak Eli tak lagi punya pegangan, Mbak Aisyah menambal kekurangan. Nanti begitu sampai di Indonesia kami akan mentransfer uang yang kami pinjam.

Karena aku harus memindahkan beberapa barangku ke rumah kawan, maka aku diberi amanah untuk menyerahkan kunci-kunci tersebut. Sedangkan masalah uang akan di selesaikan Mbak Aisyah yang merupakan penanggungjawaab rumah kami.

Malam itu kami beres-beres rumah. Semua barang-barang milik kami dijadikan satu di kamarku dan teh Dina. Kalau-kalau nantinya kami tidak bisa kembali lagi ke Mesir dan Baba ingin menyewakannya pada orang lain. Karna tidak mungkin kami mengeluarkannya dari rumah sedangkan kawan-kawan kami yang lain juga meninggalkan rumah sewanya masing-masing. Tidak ada yang bisa menerima titipan dan tidak ada yang bisa diandalkan. Karena konon, semua warga Negara Indonesia di Mesir akan di evakuasi.

Dan mala mini mata tak mampu terpejam. Pikiran makin sibuk dari malam-malam sebelumnya. Suara tank-tank yang lewat masih selalu menggetarkan malam. Gaduh pemuda-pemuda Mesir yang berjaga di bawah imarah kadang masih mengagetkan. Aku masih belum bisa menghapus ketakutan. Karena masih ada beberapa esok yang harus kulewatkan. Di negeri yang kini mulai tak aman.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 31.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *