Hari Terakhir di Cairo Part 8

Cerita sebelumnya hari terakhir di cairo part 7.

Semoga diterima ya Allah. Aku berdoa sambil mengumpulkan berkas yang kubawa pada Ustadz Soleh. Sedikit grogi. Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Ini akhir tahun keduaku di Mesir. Akhir tahun ajaran semester genap di Universitas Al-Azhar. Selama ini biaya hidup di sini masih ditanggung oleh Ibu. Tiap bulan atau dua bulan sekali Ibu akan mengisi rekening tabunganku di salah satu bank di Indonesia. Dan aku akan mengambilnya di atm yang ada di Cairo ketika membutuhkan.

Tak ingin terus menyusahkan dan memberatkan Ibu, tahun lalu ketika masih berada di tingkat satu, aku bersama Vera dan Anisa mengajukan permohonan beasiswa pada Universitas Al-Azhar. Karena salah satu persyaratan diterimanya permohonan adalah dengan menunjukkan hasil studi, maka kami menunggu selama sekitar 3 bulan untuk melaksanakan ujian semester genap dan mengambil hasilnya. Saying, walaupun hasil studi telah kami serahkan, ternyata nama kami tak turun dalam daftar penerima beasiswa tersebut. Sedih.

Memang tak ada satu pun nama orang Indonesia yang tercantum dalam daftar tersebut beberapa tahun terakhir. Pihak Al-Azhar menyatakan bahwa kuota penerima beasiswa dari Indonesia sudah penuh, bahkan melebihi seharusnya. Kami hanya bisa mengiyakan dan memakluminya.

Kali ini bersama Vera dan Kak Rudi, aku mencoba mengajukan permohonan beasiswa pada salah satu instansi pemberi beasiswa terbesar pada pelajar asing di Universitas Al-Azhar, Bait az-Zakat al-Kuwayty. Ya, lembaga ini didirikan oleh Negara Kuwait di Mesir dan Negara-negara Arab lain, salah satunya sebagai pengelola dan penyalur zakat pada pelajar, penuntut ilmu. Banyak sekali mahasiswa Indonesia yang sudah dibantu olehnya.

Berkas yang harus kami serahkan sama dengan persyaratan di lembaga pemberi mahasiswa pada umumnya. Fotokopi paspor, pasfoto 4×6 dan hasil ujian. Bedanya, untuk mengajukan permohonan pada Bayt az-Zakat disyaratkan minimal hasil yang kita dapat selama satu tahun mempunyai nilai rata-rata jayyid atau baik. Selain itu kami harus mengisi formulir khusus yang disediakan di maktab.

Alhamdulilah tahun ini hasil ujianku lebih baik dari kemarin dan memenuhi syarat. Sama halnya dengan Vera dan Kak Rudi. Makanya kami sangat antusias dan bersemangat melakukan proses administrasi dan pemberkasan ini. Pagi tadi kami berangkat dengan teman-teman lain yang akan daftar ulang. Mereka sudah terlebih dahulu mendapatkan beasiswa dari lembaga ini. Kami yang tak tahu tempat hanya mengikut sembari menghafalkan jalan. Naik tramco dari Hay Ashir menuju Hay Sabi’ kemudian naik bus besar 359 ke Dokki. Turun di depan shari’ Suriyyah kami belok kanan. Nah di jalan itulah letak maktab Bayt az-Zakat al-Kuwayty. Di sebuah bangunan sederhana, di lantai dasar.

Tak hanya kami yang datang ke maktab, ternyata banyak rombongan lain yang datang berbondong-bondong, laki-laki dan perempuan. Tiap tahunnya BeZet, sebutan kami bagi lembaga ini, menyediakan kuota yang banyak. bahkan sering kali membludak dari jumlah yang ditawarkan, tapi akhirnya keterima juga. Nama-nama penerima beasiswanya pun diturunkan sampai dua atau tiga gelombang. Jadi tak usah khawatir banyak saingan, insya Allah semua diterima asalkan memberikan berkas yang lengkap dan memenuhi syarat. Tapi tak urung hati tetap ketar-ketir, layaknya mendaftar pekerjaan.

Bergegas aku, Vera dan Kak Rudi berangkat ke maktab. Katanya nama-nama penerima beasiswa gelombang pertama telah turun. Kami dapat info dari kawan-kawan yang telah datang kesana setelah ditelpon oleh pihak maktab. Kurang lebih setelah dua bulan dari pengajuan permohonannya.
Seperti sebelumnya, kali ini pun maktab telah dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswi asing, kebanyakan Indonesia, dengan tujuan yang sama, melihat daftar pengumuman. Kulihat Kak Karina dan beberapa kawannya di sana.

“Gimana Kak, nama kakak ada?” Tanya Vera pada kak Karin.
“Alhamdulillah ada. Tuh lihat aj tuh. Tadi kayaknya nama Kak Rudi ada.” Jawabnya, makin buat aku deg-degan.

Segera kami mengerubungi papan pengumuman. Melihat nama-nama yang tercantum dengan seksama. Di lembar pertama tak ada satupun nama kami. Mata pun segera memburu ke kertas kedua. Di baris-baris terakhir, akhirnya kami temukan nama kami. Berurutan! Nama Kak Rudi, aku kemudian Vera.

Alhamdullilah. Kami berkali-kali mengucap hamdalah sambil berpelukan. Heboh sendiri. Melihat semakin banyak orang yang datang, kami menyingkir dari papan pengumuman. Setelah bertanya apa yang harus kami lakukan pada teman-teman yang namanya juga turun, kami menuju meja Ustadz Mahmud.

“Syufti ismik?” (Kamu sudah lihat namanu?) tanyanya meyakinkan.
“Na’am, Ustadz.” Jawabku mengiyakan dengan penuh hormat.
“We enti khalashti, we enti bardu?” (Kamu sudah lihat, dan kamu juga?) Ustadz Mahmud bertanya sambil menunjuk Vera dan Kak Rudi bergantian. Yang ditanya hanya mengangguk.
“Mesyi, syuf ismik fi el-betaqah wa khudz betaqah betaik.” (Baiklah, lihat nammu di kartu dan ambil kartu punyamu).

Perintahnya sambil menunjuk tumpukan kartu yang ada di depannya. Aku pun membuka satu-satu kartu yang ada sambil melihat tulisan nama yang tertera di atasnya. Vera dan Kak Rudi ikut mengawasi. Seperti di daftar, kartu nama kami pun berurutan. Alhamdulillah.

“Khalashna Ustadz, Syukron.” (Kami sudah selesai Ustadz, terimakasih). Ucap kami serentak berterima kasih.
“Khalashtu? Mesyi ma’as salaamah.” (Kalian sudah selesai? Oke, selamat jalan)

Setelah mengucap salam, kami pun meninggalkan maktab dengan hati bahagia. Di sepanjang jalan, kami tak henti-hentinya bersyukur. Senyum selalu terkembang dari bibir. Inilah salah satu hikmah dari tidak diterimanya kami menjadi penerima beasiswa dari Al-Azhar. Ternyata Allah telah menyiapkan yang lebih baik meski menundanya. Kami mendapatkan nominal yang lebih banyak, tiga ratus tiga puluh lima pound. Lebih dari cukup bagi kami yang tinggal di asrama. Benar-benar minhah minallah, beasiswa dan pemberian dari Allah, lewat BeZet.

Di tiap bulan setelahnya, antara tanggal satu sampai lima, kadang lebih, kecuali hari jumat dan sabtu, kami mengambil beasiswa yang cair di bak Faishal Dokki. Pengambilan pada musim panas dari jam tiga sampai lima sore. Musim dingin jam dua sampai empat sore. Menyesuaikan jam kerja. Karena tinggal di asrama, biasanya aku berangkat lebih dulu. Jam satu atau setengah dua dari Hay Ashir, karena biasanya macet. Jam lima atau jam enam adalah batas akhir masuk asrama. Kalau lebih, kami bisa dihukum. Dan tentunya tak ada yang mau.

Kuingat kata-kata guruku, Allah selalu mengabulkan doa dan permintaan hamba-Nya. Namun merealisasikannya dengan tiga cara. Memberikannya langsung, menundanya, atau menggantinya dengan hal yang lebih baik. Itulah mengapa keyakinan akan dikabulkan oleh Allah menjadi salah satu adab berdoa.

Cerita selanjutnya di hari terakhir di cairo part 9.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *