Kebakaran Bagian 4

“Wah, manis!” Gumamnya sambil tersenyum puas. Sebelum turun, dia merapikan Tali pengikat tempayan.
“Sudah keluar, Ge?” Tanya Sunta sambil turun.
“Belum!” Jawab Rangge dari atas pohon.
“Keras nggak suara buahnya waktu jatuh tadi?”
“Keras!” Jawab Rangge yang masih terus memandangku tangkai buah.
“Turun dulu, Ge! Biar aku tengok dulu!”
“Ya!” Rangge turun dengan perasaan kecewa.
Sunta Naik setelah Rangge turun. Sampai di atas Sunta memperhatikan potongan pada tangkai, “kurang runcing!” Teriaknya. Sunta Lalu memotong tangkai dengan runcing Dan airnya pun segera menetes dengan cukup deras.
“Ambilkan tempayannya!”
“Ya!” Rangge segera membawa tempayan ke atas Dan diberikan kepada Sunta.
Sunta segera memasang tempayan di bawah tangkai buah. Sebelum turun, dia mencicipi airnya yang tidak kalah manis dengan pohon satunya. Sunta Dan Rangge merasa Lega karena usahanya tidak sia-sia.
“Sarapan dulu, Ta,” Rangge sudah membuka bekalnya.
“Sebentar, aku cuci tangan dulu. Kami tidak cuci tangan?” Tanya Sunta sambil berjalan menuju sungai. Rangge tidak menjawab karena dia sudah mulai makan. Rangge jadi semakin tahu cara mengambil air enau. Belajar sambil praktek sangat bagus jadi bukan hanya teori.
“Wah, lahap sekali,” kata Sunta yang sudah selesai mencuci tangannya.
Sunta duduk di depan Rangge kemudian mulai makan.
“Kapan Kita ambil?” Tanya Rangge sambil makan.
“Nanti sore.”
“Jadi nanti sore Kita kesini sambil membawa tempayan yang masih di rumah?”
“Betul, kamu memang pintar,” puji Sunta.
“Dipotong lagi, ya?”
“Ya, kira-kira segini,” jawab Sunta sambil menunjukkan jari telunjuknya. “Kamu sudah tahu caranya kan?”
“Sudah, kan tinggal mengikuti potongan yang ada.”
Setelah makan, mereka membersihkan rumput yang ada di sekitar pohon. Hari ini mereka pulang cepat karena sorenya mereka kembali lagi untuk mengambil air Dan mengganti tempayannya. Sebelum pulang Sunta mengumpulkan sisa-sisa bambu yang dibuat untuk tangga.
“Untuk apa, Ta?”
“Cetakan.”
“Cetakan apa?”
“Gula,” jawab Sunta mengikat bambu-bambu Itu jadi Satu.
Ketika pulang, bambu dipikul berdua jadi tidak terlalu berat.
Sesampainya di rumah, Sunta memotong bambu pada ruas-ruasnya. Potongan bambu tersebut dicuci di sungai Dan dijemur. Gula enau dibuat dengan merebus air enau. Sebelumnya dibuat sebuah tungku dari Dua batang pohon pisang yang dijejerkan Dan tengahnya untuk perapian. Supaya bara api bisa banyak, pada perapian tanahnya agak digali sedikit. Api yang dihasilkan oleh kayu bakar, bagus untuk membuat Gula enau. Akan tetapi, api tersebut harus selalu dijaga. Jangan sampai apinya terlalu besar atau terlalu kecil. Jika ingin membuat perapian, di sebelahnya siapkan Satu ember air. Air tersebut digunakan untuk memercikan api yang terlalu besar.
Sampai di rumah, air enau dituangkan ke tempayan yang besar. Jika sudah penuh, barulah mulai membuat Gula. Tempat memanaskan air enau, Sunta masih menyimpan wajan yang biasa disebut orang Melapi sebagai kuali. Wajan Itu besar Dan merupakan peninggalan emaknya. Dahulu juga dipakai emaknya until membuat Gula enau atau membuat dodol.
Sore in Sunta mengajak Rangge membuat Gula. Semua peralatan sudah disiapkan. Tungku api dibuat di sebelahnya Rumah Betang. Kayu bakar sudah dinyalakan. Kayu Itu mudah terbakar karena sudah kering. Sementara menunggu kayu Menjadi bara, Sunta menyusun potongan bambu berjejer. Wajan diletakkan di atas tungku api. Air enau dimasukkan sedikit Demi sedikit. Rangge Bagian mengaduk. Air enau harus terus diaduk supaya panasnya bisa merata. Diaduk memakai kayu yang panjangnya Satu meter supaya tangan tidal panas.
“Gantian, Ge. Tolong ambilkan gayung di rumahku, ya!” Kata Sunta sambil meminta kayu pengaduk.
“Di sebelahnya Mana?”
“Dekat pintu.”
Rangge Naik ke Rumah Betang untuk mengambil gayung yang terbuat dari tempurung kelapa. Hampir Dua jam mereka bergantian mengaduk air enau. Keringat membasahi tubuh mereka karena panas.
“Sudah mendidih. Gayungnya Mana?”
“Nih,” Rangge memberikan gayung kepada Sunta.
“Kamu yang ngaduk. Biar aku tuangkan dulu.”
Rangge mengaduk, sementara Sunta menuangkan air enau yang sudah mulai mengental ke dalam potongan bambu. Sunta menuangkan Satu persatu potongan bambu dengan hati-hati. Air enau yang sudah mengental dalam wajan hampir habis dituang.
“Dituang lagi?” Tanya Rangge.
“Nggak usah. Sudah malam, besok lagi Saja.”
“Kalau begitu, air in kubawa pulang lagi ya?” Tanya Rangge sambil menunjukkan tempayan kecil yang berisi air enau.
“Ya. Besok sajalah Kita buat.”
“Bambu-bambu itu?”
“Biar di sini Saja. Kalau sudah dingin, nanti Aku yang akan mengambilnya,” kata Sunta sambil mengemas peralatannya.
“Kalau begitu, aku pulang dulu, ya?”
“Ya.”