Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 100

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 99.

Pintu Geonchunmun (pintu utara) akan terlihat jika berjalan ke kiri, dan arena panahan akan terlihat jika berjalan ke kanan dari jalan setapak yang membelah taman belakang. Atap keramik di arena panahan yang luas membuat seseorang bisa menembakkan anak panah walaupun hujan dan salju sedang turun. Yang Mulia sudah satu jam lebih melayangkan anak panah. Ia ingin menghibur hatinya yang kacau, seperti benang kusut.

Bagian belakang kepalanya terasa kaku ketika mendengar berita kematian Shin Ji dari seorang kasim Daejeon. Siapa Shin Ji? Orang baik dengan ujung bibir yang selalu dihiasi senyum itu digantung di tiang Gyeonghweru?

Yang Mulia langsung naik ke punggung kuda. Komandan Pasukan Keamanan Internal Kerajaan Chin Hwa dan dua orang anggotanya menunggangi kuda untuk menyusul Yang Mulia dengan terburu-buru.

Arena panahan dikunci. Yang Mulia melompat turun dari kuda dan langsung mendekat tanpa memedulikan pesuruh yang berlarian menghampiri untuk membukakan pintu. Ia mengambil busur dan anak panah terbaik yang disediakan seorang pesuruh bertubuh tinggi, seakan tengah merampasnya. Satu anak panah, satu anak panah lagi, satu anak panah lagi, anak panah yang dipenuhi dengan amarah, penyesalan, rasa diperlakukan tidak adil, dan kepedihan melayang ke langit musim gugur.

Beberapa saat kemudian, ia bernapas berat sambil melemparkan busurnya. Ia bahkan sudah tidak punya tenaga untuk menarik tali busurnya. Tenaga yang biasanya dipakai untuk meluncurkan lima puluh anak panah, kini bahkan sudah habis sebelum ia bisa melayangkan tiga puluh anak panah.

Yang Mulia menampik tangan para Pasukan Keamanan Internal Kerajaan yang memegangi kedua lengannya. “Lepaskan tanga kalian.” Yang Mulia memandangi langit di kejauhan tempat anak panahnya melayang. Di belakang punggungnya, terdengar suara gemeresik seragam pegawai pemenrintahan yang terbuat dari sutra. Ia berbalik dan melihat wajah yang tidak asing.

“Kenapa Daejehak ada di sini?” Seorang tua dengan janggut yang setengahnya sudah memutih, menunduk dengan sopan. “Hamba dengar Yang Mulia mendatangi tempat ini, jadi hamba menyusul dengan tergopoh-gopoh.” Suara rendah itu terdengar penuh dengan kepatuhan. Yang Mulia kembali mengalihkan pandangannya ke papan target di punggung gunung.

“Apakah kemunculanku di sini sepenting itu bagi Menteri? Sudah puluhan tahun kau menentangku, jadi bukankah hal ini malah merupakan kabar baik untuk Menteri, ya?” Yang Mulia memandang tajam bawahannya itu dengan bola mata berapi-api. Hyeon mengusap-usap janggutnya yang terurai.

“Maaf. Maksud kita berbeda sehingga cara untuk mencapainya pun berbeda. Tapi, maksud kita sama-sama ditukukan untuk Negara. Mana mungkin hamba merasa tenang?” Keriput di bawah mata Hyeon bergetar.

“Apa di matamu aku hanya tengah memikirkan Tuan Shin Ji? Jung Hyun Ki, Park Woo, Sang Kyu, Kyung, Hee Young, Sang Min.” Yang Mulia mengatupkan giginya sambil menyebutkan nama-nama bawahannya secara berurutan, sampai tubuhnya bergetar.

“Tapi, Jung Hyun Ki dituntut dengan tuduhan membahayakan keselamatan Yang Mulia, lalu Park Woo.” “Bukankah menteri selalu mengedepankan petisi para wakil menteri dan pelajar Konfusius Sungkyungkwan? Kalau usaha itu tidak berhasil, Menteri bahakan bekerja sama dengan para pelajar kuil Konfusius di seluruh penjuru negeri.” Yang Mulia berteriak dan tidak dapat menahan sifatnya yang kuat. Namun, ia segera menenangkan napas beratnya dan menakan emosinya.

“Aku tidak berniat menyalahkan menteri, kok. Ketenangan hatiku hanya tumbang sebentar.” “Mengendalikan perasaan tidak semudah mengendalikan busur, jadi lebih baik pegang busur itu saja. Mari layangkan sepuluh anak panah bersama hamba.” Hyeon mengambil busur panah yang kuar dan menarik talinya sekuat tenaga. Yang Mulia melepaskan tali busur yang ditarik sampai ketat. Anak panah meninggalkan busur sambil mengeluarkan suara angin. Bendera biru dikibarkan di belakang papan sasaran di seberang.

“Tepat sasaran, Yang Mulia!” Hyeon tersenyum memperlihatkan gigi kekuningannya sambil menarik tali busur panah. Bendera biru dikibarkan. Sebuah anak panah meluncur lagi, bendera biru dikibarkan. Anak panah lain meluncur lagi, bendera biru dikibarkan.

“Kebaikan Yang Mulia untuk menjadikan hamba sebagai landasan Jiphyeonjeon setelah masuk sebagai pegawai pemerintahan merupakan berkah terbesar hamba.” Yang Mulia tidak menjawab. Ia hanya menyeka keringat di dahi yang terasa dingin akibat terkena angin.

“Hamba harap bisa kembali ke waktu itu. Hamba dipilih langsung oleh Yang Mulia yang bijaksana dan masih muda untuk menjadi cendekiawan kelas bawah Jiphyeonjeon.”

Daejehak yang berkata begitu dan Yang Mulia sama-sama tahu kalau hal itu tidak akan bisa terjadi. Sudah terlalu jauh untuk kembali.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 101.