Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 101

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 100.

Chung Hee berpapasan dengan Hae Won di halaman depan paviliun, langsung merapikan rambutnya yang berantakan.

Ia harus kembali ke masa sebelum semuanya menjadi rumit. Prinsip dasar aritmetika adalah menyelesaikan masalah dari yang paling mudah. Chung Hee yang menarik napas dalam, membuka mulut sambil melirik sekilas bibir Hae Won yang tertutup rapat dan pipi kemerahannya yang seperti buah persik.

“Aku sudah tahu cara memecahkan kotak ajaib.”

“Bagaimana?” Perempuan itu menulis di samping kaki. “Hanya perlu mencari yang tak terlihat di antara yang terlihat.” Chung Hee menggambar empat persegi di luar kotak ajaib di atas tanah kering dan memindahkan angka-angka. Pipi merah Hae Won bertambah merah. Tersenyum, ya? Ia tersenyum? Darah segar di dalam dada mengalir deras.

“Ada pertanyaan lain?” Pertanyaan? Benar. Pertanyaan adalah satu-satunya alat untuk memecahkan rahasia. Semua orang memiliki rahasia dan bahkan mati untuk melindunginya, Kang Dae, Dae Jung, Ha Jae, Shin Ji… apakah kematian mereka disebakan oleh rahasia yang mereka sembunyikan? Mereka membawa rahasia sampai ke akhirat. Perempuan ini juga memiliki rahasia yang tidak diketahui. Chung Hee ingin mengusir tepi kegelapan dan menguak kenyataan yang tersembunyi.

“Sebuah jawaban melahirkan pertanyaan baru. Itu adalah prinsip dasar aritmetika. Kau tahu itu, kan?” Alis perempuan itu tebal dan melengkung seperti bulan purnama. Hati seorang pemuda menjadi terpikat ketika melihat matanya secara langsung.

Chung Hee yang bersemangat sekaligus takut, merasa tidak sabar sekaligus seakan dikhianati, suka sekaligus benci terhadap sosoknya yang terpantul di dalam mata itu. Perempuan itu cukup dapat membuatnya terpesona sampai ia tidak dapat menutup-nutupinya lagi. Walaupun begitu, Chung Hee masih memiliki cukup tenaga untuk berpaling. Perempuan itu ada di kejauhan bagai pelangi yang terbang semakin tinggi semakin ingin dimiliki. Perempua itu terlalu menggoda walaupun hanya untuk dilihat dan terlalu berbahaya untuk disukai. Ini adalah saat yang tepat untuk menguak konspirasi yang berkedok keindahan, menguak khayalan yang selamanya tidak akan dapat disentuh.

“Aku tidak bisa memercayai satu hal pun darimu. Kau mempermainkanku yang menanyakan rahasia kotak ajaib.” Cahaya mata perempuan yang tidak dapat berbicara itu seakan ingin menyampaikan sesuatu. Chung Hee bersusah payah menghindari tatapannya sambil berteriak kasar.

“Selain kenyataan bahwa kau bernapas, semua tentangmu adalah rahasia.” Chung Hee langsung menyesal ketika melontarkan perkataan kasar itu. Walaupun menurutnya perempuan itu jahat, hati Chung HEe tetap terasa sakit ketika menyudutkan Hae Won. Semuanya kacau. Chung Hee tidak tahu mana yang nyata, siapa memihak siapa, dan siapa musuhnya.

“Aku tidak ingin membohongimu. Dapat mengetahui akar hanya dengan melihat daunnya.” Perempuan itu mengusap dahinya untuk menaikkan anak rambutnya yang membuat gatal. Chung Hee berpikir. Selama ini perempuan ini mengekspresikan hatinya yang dalam melalui kalimat-kalimat pendek. Tujuh kata itu adalah daun, lalu maksud yang ada di hati adalah akar? Maksudnya adalah memberitahukan bahwa yang terlihat terhubung dengan permukaan yang tidak terlihat. Tujuh kata itu bagai setrikaan panas yang membakar dadanya.

“Aku bisa menyeretmu ke Biro Investigasi Kerajaan hanya berdasarkan hasil penyelidikan sampai sekarang. Walaupun berusaha bertahan kuat, kau hanya perempuan lemah. Kau pasti membeberkan seluruh kenyataan hanya dalam kurun waktu setengah hari.”

Chung Hee berusaha sekuat tenaga untuk menatap Hae Won dengan tajam. Namun, perempuan ini seakan terus memukul-mukul tubuh Chung Hee dengan tongkat dan menekankan setrikaan panas entah di bagian mana tubuhnya. Chung Hee menatap iba perempuan yang seakan bisa tumbang walaupun hanya dipandangi itu.

Hae Won tidak sedikit pun menampakkan rasa bersalah. Chung Hee menghirup napas panjang. Lalu, ia mengulurkan kura-kura heksagonal dari dalam pelukannya. “Kau pasti tidak dapat mengatakan tidak tahu kura-kura heksagonal.”

“Kau mau apa?”

“Beri tahukan angka-angka yang dimasukkan ke ketiga puluh titik ini. Mungkin teka-teki licik ini berhubungan dengan kasus pembunuhan, jawaban dari teka-teki ini bisa jadi merupakan kunci pemecah masalah.”

Tidak tahu. Alasan untuk mencari lagi perempuan yang mungkin terlibat konspirasi dalam pembunuhan ini… lalu, alasan seobsesif ini pada kotak ajaib yang kelihatannya tidak berkaitan dengan kasus ini. Walaupun begitu, Chung Hee ingin bertemu dengan perempuan ini lagi.

Jika ada seseorang yang mengintip hati Chung Hee, orang itu pasti akan segera menyeret Chung Hee ke Biro Investigasi Kerajaan dan menghukumnya. Siapa Hae Won? Dayang Daejeon. Semua perempuan istana adalah milik Raja. Jika menginginkan perempuan Raja tidak diebut tamak, bisa disebut apa lagi perasaan itu?

Setelah melihat sorot mata sedih Hae Won, hati Chung Hee langsung terasa seperti tersengat. Namun, ia tetap suka. Walaupun dinamakan ketamakan, ia tetap tidak dapat menutupi rasa cinta di dalam dada. Suara Chung Hee bergetar akibat perasaan bersalah.

“Aku tidak bisa menyelesaikan soal rumit karena bodoh, jadi tolong selesaika ini.” Sambil memadangi mata ramah Chung Hee, perempuan itu memuka tutup kuas dan botol tinta di balik sabuknya. Titik kosong terisi satu per satu. Chung Hee mengulangi satu per satu angka yang ditulis melalui ujung kuas.

26, 5, 4, 27, 21, 10… Enam angka membentuk persegi enam yang sempurna dengan jumlah Sembilan puluh tiga. Persegi enam selanjutnya dan persegi enam lainnya lagi saling terhubung dengan persegi enam lainnya. Akhirnya, masing-masing segi enam menjadi sempurna dengan angka yang berjumlah Sembilan puluh tiga.

Itu adalah kolektivisme sempurna yang berada di atas individualism yang sempurna. Chung Hee baru kali ini mengetahui kalau angka dan diagram bisa seindah ini. Keindahan angka dan keindahan perempuan itu berpadu dengan memukau.

Ekspresi perempuan itu seakan tengah menggoda. Mata yang terlihat cerah berkat campuran rasa penasaran dan tidak tenang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Chung Hee ingin menghindari tatapan itu. Ia takut berhadapan dengan kenyataan. Godaan dan perasaan berbahaya mengambang di udara.

“Indah.” Chung Hee akhirnya berbicara. Cahaya mata perempuan itu goyah. “Dunia angka.” Chung Hee seakan merasa baru terjatuh dari tebing tinggi. Perempuan itu membuka bibirnya seakan ingin mengatakan sesuatu. Chung Hee menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut itu dengan sungguh-sungguh. Namun, semuanya berakhir begitu. Hati Chung Hee melonjak. Petunjuk kasus menghilang dari dalam kepalanya.

“Indah.” Chung Hee mengulangi kalimat itu sekali lagi. Hae Won tahu. Tahu apa yang dimaksud dengan indah oleh anggota Pasukan Patroli Kerajaan ini. “Aku pergi dulu.” Chung Hee berbalik dan berjalan menjauh. Penderitaan dan debaran bertarung sengit di dalam tubuhnya.

Chung Hee malah terpesona seperti ini. Ia terayu rahasia kura-kura heksagonal, terayu kecantikan perempuan yang asal-usulnya tidak diketahui, sampai harus kehilangan tali penghubung. Tali yang berhubungan dengan konspirasi pembunuhan. Mata Chung Hee malah dibutakan oleh perempuan licik yang mungkin saja seorang pelaku pembunuhan.

Sekarang, Chung Hee harus memohon maaf atas dosa ini ke langit mana? Sekarang, Chung Hee harus memohon pengampunan atas ketamakan ini dari firdaus mana?

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 102.