Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 109

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 108.

“Tidak ada tempat yang membutuhkan bakatku. Bakatku bukan di bidang membaca atau menghitung, melainkan bakat untuk membunuh nyawa yang masih hidup… aku hanya bisa mengutuk zaman sambil menyimpan belati di dadaku, minum-minum dan bermain pisau dengan para berandal. Membuat keributan sampai tua. Apa ada yang tidak tahu nama Gabriel di gang belakang? Anak-anak yang sedang menangis juga pasti akan berhenti menangis ketika mendengar nama Gabriel.”

“Tapi, apa maksudnya Tetua pernah dipenjara?”
“Sebelum masuk istana, aku pernah membuat kesalahan fatal. Aku dikirim ke Biro Kepolisian dan bokongku dipukuli selama empat hari. Tepat sebelum mati, aku dibuang di pintu masuk Banchon yang dialasi tikar jerami.

“Apa karena praktik pengebirian yang dilarang?”
“Aku pernah mengebiri anak-anak muda yang ingin menjadi kasim. Bagi anak-anak petani miskin yang sehari-hari sibuk mencukupi kebutuhan, menjadi kasim merupakan satu-satunya kesempatan untuk hidup layak. Karenanya, ketika kelaparan menimpa, semakin banyak yang bermimpi untuk membuang testikel mereka dan masuk ke istana.”

“Untuk menjadi kasim, seseorang harus diangkat menjadi anak oleh keluarga kasim atau harus memiliki organ vital yang tidak berkembang dengan baik. Walaupun saya pernah dengar kalau orang-orang yang memimpikan kemakmuran dan posisi, mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan rela dikebiri.”

“Orang-orang yang selamat melewati wabah kelaparan, mencari dan menjelaskan alasan mereka padaku. Katanya tersebar kabar bahwa aku adalah penjagal daging yang bahkan terkenal di Banchon, bahwa aku tahu struktur tubuh dan bahkan organ dalam enam jenis hewan ternak makanan pokok… bahkan, ada orang-orang yang mengancam akan bunuh diri jika aku tidak mengebirinya, sampai akhirnya mereka menggorok leher mereka sendiri. Aku terpaksa mengangkat pisauku demi permintaan yang tidak dapat dibendung itu.”

“Bukan hanya karena itu, kan?”
“Tentu saja aku punya ketamakan lain. Aku mengakui bahwa hasrat untuk mengetahui struktur reproduksi manusia milikku membara bagai api, dan aku bisa mengetahuinya dengan mengebiri manusia, bukan babi.”

Saat itu, sebuah pertanyaan terurai, seperti sebuah ikatan tambang. “Apakah Tetua Gabriel juga mengebiri Komandan Pasukan Keamanan Internal Kerajaan Chin Hwa?” Gariel tidak menjawab. Karena Chung Hee sudah lama bergaul dengan Gabriel, ia tahu kalau Gabriel selalu terdiam jika tengah mengiyakan sesuatu.

“Bukannya saya tidak memahami tindakan medis yang dilarang, tapi kenapa Tetua bisa melakukan hal tidak manusiawi dengan memotong bagian tubuh yang dapat menghasilkan kehidupan?”
“Itu adalah kesalahanku waktu masih muda yang ingin memberontak karena terikat di kubangan status social tanpa harapan.”

Chung Hee jadi benci melihat bibir memar dan pecah itu. Lelaki yang sampai sekarang ia anggap ayahnya sendiri dan ia ikuti seperti kakak kandungnya sendiri, mengaku telah melakukan perbuatan kotor yang bahkan tidak layak dibicarakan. Rasa dikhianati dan amarah berubah menjadi air mata yang mengalir deras.

“Umurku sudah hampir tiga puluh ketika melihat secercah cahaya saat terpaksa memotong hewan-hewan makanan pokok. Istana bagian luar memerlukan orang yang terampil menangkap hewan. Orang tersebut harus memiliki kemampuan menonjol di antara penjagal daging lainnya. Masuk istana bagi orang sepertiku bagai menggapai bintang di langit.”

“Walaupun sudah masuk istana, Tetua tetap tidak dapat meninggalkan perbuatan rendahan seperti minum-minum dan berjudi?”
“Aku sudah masuk istana, tapi aku tetaplah seorang penjagal daging rendahan yang bertugas memotong daging bau amis. Walaupun tidak masuk istana, aku tetap bisa hidup selamanya dengan mematahkan leher babi. Ah! Pengetahuan sekecil ekor tikus tak berguna!” sesal Gabriel. “Merawat orang secara sembunyi-sembunyi seperti pencuri merupakan satu-satunya kesenanganku, tapi itu bahkan diketahui oleh pemerintah.”

“Itukah yang membuat Tetua tidak tahan sehingga menghancurkan tubuh dan hati dengan minum-minum?”
“Selama ini, aku tidak dikeluarkan dari istana berkat keahlian pisauku. Walaupun sebenarnya aku tidak ingin singgah di istana karena di sini aku harus menerima pandangan penuh hinaan. Aku selalu menenggak alcohol setiap kali menghabiskan waktu sendirian di tempat penjagalan daging yang menyedihkan.”

“Jika begitu, menjadi preman Sijeon malah lebih baik, kan? Bukan satu atau dua hari Tetua selalu mabuk, sehingga sekarang tangan Tetua selalu gemetar dan bicaranya jadi terbata-bata jika tidak ada alcohol.”

“Aku menghibur diri dari mimpi yang tak tercapai dengan menenggak alcohol. Alcohol yang dibawa ke istana bagian luar lebih sering digunakan untuk kuminum dibandingkan untuk autopsy. Walaupun ingin berhenti minum, manusia yang sudah mengenal alcohol tidak akan bisa menjauh darinya.”

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 110.