Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 111

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 110.

Chung Hee bersandar di undakan batu di bantaran Hyangwonji, seraya mengeluarkan sebuah buku dari dalam pelukannya. Buku Mongolia tipis yang terdiri dari sekitar tiga puluh halaman yang dipinjamkan Yoon Myung Ho.

Jantung Chung Hee sudah berdebar-debar, bahkan sebelum ia membuka buku itu. Darah muda yang polos mengalir deras di sekujur tubuh. Satu halaman, dua halaman… setiap kali membalik halaman buku, kedua mata Chung Hee terbelalak.

Lelaki dan perempuan polos tanpa mengenakan sehelai baju pun. Frasa dan kalimat eksentrik membuat tubuhnya seperti tersetrum. Chung Hee berpikir harus menutup buku itu, tapi tanpa disadari, ia sudah membalik halaman berikutnya.

Mata Chung Hee berhenti di satu tempat di sebuah halaman. Terlihat simbol asing di tengah-tengah karakter Cina. Simbol itu terlihat seperti jejak ulat atau bekicot yang sedang merayap, serta jejak ular yang sedang ganti kulit. Chung Hee memandangi simbol tidak dikenal itu. Gambar sosok lelaki dan perempuan di buku itu seolah menghilang.

“Hoho… siapa yang sedang membalik-balik buku cabul di dalam istana yang ketat!” Chung Hee bergegas menutup buku dan memasukkannya di balik kerah, seraya merapikan bajunya lagi. Dong Sun sedang tersenyum jenaka di bawah cahaya bulan.

“Kupukir kau sosok konservatif yang lurus, tapi ternyata kau juga tidak bisa melawan gairah muda yang panas. Buktinya, kau sedang membalik-balik buku cabul di bawah cahaya bulan temaram, ya?” Dong Sun tertawa jenaka lagi sambil meledek Chung Hee. Chung Hee tidak tahu harus bagaimana dan berbicara dengan terbata-bata.

“Hamba… Cuma… mencari orang-orang yang berhubungan dengan kasus…” Semakin ingin menjelaskan, perkataan Chung Hee malah menjadi semakin tidak jelas.
“Iya, deh. Chung Hee yang konservatif mana mungkin membaca buku cabul.” Senyum jenaka tidak kunjung hilang dari ujung bibir Dong Sun.

“Baiklah. Di buku itu ada petunjuk, ya?”
“Saya tidak menemukan petunjuk khusus. Tapi, entah apa arti simbol tidak dikenal di tengah-tengah karakter Cina.” Chung Hee mengeluarkan dan membuka buku dari dalam pelukannya dengan hati-hati. Dong Sun yang matanya terbelalak ketika melihat gambar-gambar di buku, langsung menelan ludah.

“Bukannya ini huruf phalsapha, ya? Ini buku Mongolia, jadi tidak heran jika menggunakan aksara itu.”
“Huruf Phalsapha?”
“Benar. Dulu pernah digunakan sebentar, tapi sekarang telah menghilang.” Dong Sun berbicara dengan datar. Ia mengatakan apa yang tebersit di dalam kepalanya seperti kilat dalam seketika.

“Bagaimanapun, Dae Jung, Chin Hwa, dan Tuan Hyeon membaca buku cabul ini bukan karena gairah antara perempuan dan lelaki.”
“Memang apa lagi yang dicari dari buku cabul jika bukan hal itu?”
“Huruf Phalsapha… mungkin aksara ini merupakan petunjuk kasus itu.” Suara Chung Hee semakin pelan di akhir kalimat.

“Sudahlah. Aku takut keteguhanmu akan membuat tubuhmu terluka.” Dong Sun melepaskan rasa obsesi akan kasus ini dari Chung Hee. Chung Hee memasukkan buku ke pelukannya dengan tenang, seraya melemparkan tatapannya ke danau yang menyilaukan akibat cahaya bulan.

“Itu buku berharga, kan? Jaga baik-baik.”
“Tuan tidak perlu mengatakan itu.” Wajah Chung Hee memerah.
“Kau telat menikah karena terlalu lama berkelana di arena pertarungan. Karenanya, mana bisa aku menyalahkan hasrat pemuda?”
“Sampai saat ini saya sendirian di dunia, jadi lebih nyaman seperti ini.”
Dong sun berubah serius.
“Perempuan dan lelaki bergaul merupakan hukum alam dari langit.”
Chung Hee langsung berdiri ketika tiba-tiba menyadari malam sudah semakin larut dan bulan sudah bergantung tinggi.

“Maaf, Tuan. Saya harus bergegas pergi ke suatu tempat.”
“Di Taegeuksdoseol, geon adalah lelaki dan gon adalah perempuan. Kedua tenaga bercampur untuk menciptakan berbagai hal. Mereka menciptakan benda lainnya lagi, sampai muncul perubahan yang tanpa ujung… hahaha!” Suara tawa menggelegar Dong Sun meluncur di atas permukaan air yang penuh dengan cahaya bulan.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 112.