Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 117

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 116.

“Utusan yang dikirim ke Yeongyeong pasti adalah sosok yang fasih berbahasa Cina dan menganut paham Sadaemohwa (mengagungkan yang kuat). Shin Hyun adalah sosok yang paling tepat yang dipilih sebagai utusan untuk menyampaikan kenaikan raja baru. Tapi, Tuan Shin Hyun sudah lepas dari paham Sadaemohwa sejak Yang Mulia masih menjadi pangeran. Ia juga tokoh yang mengatakan bahwa sebuah Negara harus menegakkan fondasinya sendiri.”

“Mereka ketakutan Tuan Shin Hyun akan menjadi utusan.”
“Mereka takut hubungan antara mereka dan Yeongyeong yang sudah dibina terputus dalam semalam. Mereka mendapat kekuatan dengan bersandar kepada Negara yang lebih besar. Karenanya, kekuatan mereka akan terpotong jika hubungan itu terputus. Lalu, jika Tuan Shin Hyun sampai membuat Negara besar itu tersinggung, mereka yakin akibat yang didapat akan sangat kejam.”

“Ternyata, mereka memfitnah Tuan Shin Hyun selama beliau ada di Yeongyeong.”
“Benar. Mereka mengatakan hal yang mengusik mendiang Raja yang masih berkuasa seperti dulu, serta mengajukan petisi. Bisa dibilang mereka telah memanfaatkan sifat mendiang Raja yang temperamental.”

“Berarti, Gogunthongseo dapat dikatakan sebagai syair pujian pemakaman dari Yang Mulia yang meratapi kematian tidak adil Tuan Shin Hyun .”
“Jika memang hanya itu, mereka pasti tidak akan menyerang Gogunthongseo dengan sebenci itu.”

“Buku itu punya isi yang lain?”
“Ratapan dan pemberitahuan akan kematian tidak adil Tuan Shin Hyun dituliskan dalam dua halaman. Tulisan yang menyambung di belakang merupakan kecemasan akan rakyat negeri ini yang tidak dapat membaca.” Sang Kyu perlahan teringat akan baris-baris yang masih segar di ingatan. Chung Hee hampir menangis sambil memandangi bibir Sang Kyu yang terkatup rapat.

“Sejak dulu negeri ini memiliki bahasa dan kebiasaannya sendiri, sehingga negeri ini tidak dapat dianggap sebagai Negara kecil di bawah Cina maupun Negara persemakmurannya. Karenanya, Goryeo tidak disebut sebagai kerajaan, melainkan kekaisaran. Lalu, kenapa kita perlu mengirim utusan ke Cina ketika ada raja yang baru naik takhta? Kerajaan didirikan di tanah yang disebut dengan Negara secara otomatis, tapi kenapa Negara itu masih memerlukan restu dari negeri Myeong? Kerajaan merupakan seluruh langit, tanah, dan rakyat yang ada di Negara itu, tapi kenapa takdir Negara itu dikendalikan oleh Negara yang dijuluki Negara besar? Sebuah Negara harus berdiri tegak dengan kekuatan raja, bawahan raja, dan rakyatnya, jadi kenapa Negara ini malah ingin berdiri sambil bersandar ke Negara besar? Kerajaan yang berdiri seperti itu bagaimana bisa memastikan keamanan rakyatnya dan merencanakan kemakmuran negaranya? Cina yang disebut sebagai Negara besar bahkan tidak memiliki kontribusi apa pun dalam pendirian Negara ini. Mereka hanya meminta barang persembahan dan pekerja perempuan setiap masa panen. Walaupun begitu, kita harus mengirimkan utusan ke sana. Bukankah ini hanyalah cara Negara besar untuk mengancam Negara tetangganya? Kenapa Negara seperti itu bisa disebut Negara besar dan Negara tetangga yang baik?

Alasan yang membuat kita tidak dapat membuang kebiasaan memalukan ini sejak lama adalah kaum aristocrat dan paham Sadaemohwa yang mengakar dalam dari generasi ke generasi. Apa hanya ada satu atau dua orang yang mencari kekuatan dengan bersandar pada kekuatan Negara besar, orang yang berusaha sukses dengan paham Konfusius Negara besar, orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan dan kehormatan dengan menjalin hubungan dengan pegawai pemerintah Cina, serta orang-orang yang ingin menumpuk kekayaan dengan menjual barang Cina?

Rakyat yang mengibakan harus menyerahkan barang komoditas yang mereka panen dengan susah payah. Mereka juga memutus tali keturunan mereka dengan menyerahkan putri mereka untuk dijadikan pekerja. Orang-orang itu mengejar kekayaan, kehormatan, dan kekuatan dengan mengisap darah dan mematahkan tulang rakyat. Lalu, kenapa mereka bisa disebut kaum aristocrat? Ini semua terjadi karena Negara ini tidak punya kekuatan, karena rakyat Negara ini tidak punya kesadaran. Jika pasukan militer kita cukup kuat untuk menghadapi Negara besar, pemikiran kita mengalahkan Negara besar, dan pembelajaran akan alam dan benda kita melampui Negara besar, maka Negara besar tidak akan disebut Negara besar lagi, dan Joseon tidak akan lagi menjadi Negara pembayar upeti di perbatasan. Karenanya, raja harus mengingat ini. Jangan berniat menjadi Cina kecil dengan berpura-pura kasihan. Tegakkanlah ilmu pengetahuan dan buatlah Negara ini menjadi Negara yang utuh.”

Suara Sang Kyu yang membacakan baris per baris terdengar semakin kuat. Kembang api kemerahan membara di dalam hati Chung Hee, seakan tengah dikipasi agar semakin besar.

“Ternyata Tuan masih ingat setiap baris isi buku Gogunthongseo dua puluh tahun lalu tanpa kurang satu kalimat pun.”
“Baris-baris itu merupakan titik balik hidupku. Itu juga merupakan titah yang diturunkan raja yang baru naik takhta.” Sang Kyu mengatupkan rahangnya. Otot yang menegang di dagu membuat jenggot setengah putihnya bergerak-gerak.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 118.