Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 119

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 118.

“Tuan sejak awal tahu segalanya, tapi malah hanya menonton saya yang bernapas terengah-engah seperti anjing.” Eun Jung memejamkan mata sejenak sambil mendengarkan suara Chung Hee yang bergetar. Ia hanya tidak ingin membiarkan anak ini tahu. Banyak orang bijak yang mati di dalam kegelapan akibat dosa karena mengetahui rahasia ini, akibat dosa karena bepartisipasi dalam rahasia ini.

“Mengetahui sesuatu merupakan hal yang berbahaya. Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam kuali berisi bahaya.”
“Saya tidak percaya Tuan.”
“Benar. Aku juga tidak percaya pada diriku sendiri. Pemuda pintar pasti akan menemukan sesuatu walaupun tidak ada yang mengatakan apa-apa, walaupun tidak ada yang menyeretnya.”

Chung Hee berlutut sambil mendekat. “Sebenarnya apa arti simbol tidak dikenal ini?”
“Ini adalah simbol-simbol yang menjadi dasar tulisan baru. Simbol-simbol ini digabungkan untuk memperlihatkan wujud semua bunyi di dunia.”
Bagian belakang kepala Chung Hee terasa nyeri bagai tersambar petir.

“Bagaimana mungkin mewujudkan semua bunyi di dunia menggunakan simbol sederhana ini? Satu benda saja harus dideskripsikan dengan kalimat yang terdiri dari beberapa huruf.”
“Suara yang dikeluarkan manusia, suara yang dikeluarkan sapi dan kuda, suara yang dikeluarkan hewan liar dan hewan di pegunungan, suara yang dikeluarkan angin dan air sungai, semua suara merupakan prinsip langit dan bumi, sehingga menjelaskan fonem akan terasa lebih sulit dibandingkan dengan menjelaskan prinsip langit dan bumi.”

“Walaupun begitu, apakah prinsip sulit itu bisa dikenali dan diwujudkan sebagai tulisan?”
“Yang Mulia menciptakan aksara baru melalui prinsip Yin dan Yang, serta lima elemen. Aksara merupakan jiwa sebuah Negara, wadah untuk menyimpan pengetahuan. Karenanya, aksara bisa membuat orangbodoh menjadi orang bijak dan membuat petani tidak punya pikiran menjadi orang intelek. Jika masyarakat kelas rendahan pun mengenal aksara, zaman yang damai akan tercipta karena semua orang bisa mempelajari ilmu pengetahuan dan ilmu alam yang tidak memiliki batas. Petani bisa meningkatkan hasil panen. Pandai besi bisa memperbaiki cara mengeraskan logam. Prajurit bisa mencatat taktik perang agar selalu menang di setiap perang.”

“Bukankah tulisan dibuat berdasarkan bentuk benda dan bunyi yang dimaksud? Misalnya seperti satu yang disesuaikan dengan bunyi il (―) dan dua dengan yi (), jadi mana mungkin satu disebut yi () dan dua disebut il (―)? Lima elemen langit dan bumi berputar saling menghancurkan dan menciptakan hal baru yang kemudian akan berubah lagi, tapi kenapa Tuan menyebut tulisan yang tidak bisa diubah bisa selaras dengan prinsip itu?”

“Satu benda yang dipasangkan dengan satu huruf dan satu bunyi merupakan aksara Cina. Butuh waktu lebih dari seumur hidup untuk menggambarkan setiap benda dan fenomena yang ada di dunia melalui tulisan Cina, jadi mana mungkin aksara seperti itu disebut sebagai aksara rakyat? Lalu, bahasa kita berbeda dengan bahasa Cina. Rakyat Negara ini menggunakan bahasa Negara ini, jadi mereka butuh aksara Negara ini. Ini sama saja dengan ketika kita membuat Chiljungsan saat mengetahui waktu kita berbeda dengan Cina, serta ketika kita membedakan music Cina dan music kita. Aksara berdasarkan bunyi merupakan yang paling tepat untuk mengekspresikan banyaknya suara yang keluar hanya dalam setengah hari. Dasar aksara ini berbeda dengan aksara Cina yang setiap huruf memiliki arti sendiri.”

“Jika bunyi berubah menjadi kalimat, apa yang hamba katakana sekarang bisa ditulis?”
“Benar. Bunyi berubah menjadi tulisan dan tulisan berubah menjadi suara.”
“Tulisan merupakan hal berharga sehingga tidak semua orang boleh mendekatinya. Jika semua orang bisa menggunakannya dengan mudah, kenapa aksara itu bisa dianggap memiliki prinsip dunia yang rumit? Bagaimana mungkin prinsip ilmu pengetahuan yang dalam dapat menyebar melalui aksara yang bisa digunakan sesuka hati oleh kelompok berandal pasar atau pedagang Nanjeon?”

Eun Jung mengeluarkan kuas dan terlihat sibuk menuliskan sesuatu di atas kertas cetak berkualitas rendah di atas meja. Chung Hee terkejut melihat gerakan kuas yang cepat itu. Eun Jung yang akhirnya selesai menulis, meletakkan kuas dan membuka mulutnya.

“Tulisan merupakan hal berharga, sehingga tidak semua orang boleh mendekatinya. Jika semua orang bisa menggunakannya dengan mudah, kenapa aksara itu bisa dianggap memiliki prinsip dunia yang rumit? Bagaimana mungkin prinsip ilmu pengetahuan yang dalam dapat menyebar melalui aksara yang bisa digunakan sesuka hati oleh kelompok berandal pasar atau pedagang Nanjeon?”

Tidak ada satu pun kata yang berbeda dari perkataan yang dilontarkan Chung Hee dengan kasar. Walaupun ingatannya sangat bagus, bagaimana bisa ia mengingat dengan sesempurna itu? Bunyi yang dicatat Eun Jung menyelamatkan ingatan yang menghilang di kepala Chung Hee.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 120.