Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 123

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 122.

Hyeon seperti iblis yang baru kembali dari neraka. Kedua mata merahnya menguarkan api. Urat terlihat menonjol dan berdenyut di dahinya yang memerah.

“Mereka sudah sampai ke tempat tujuan mereka. Padahal, aku berharap hari seperti ini tidak akan datang… mereka ingin memutarbalikkan langit dan bumi dengan kecerdasan mereka yang digunakan dengan bodoh.”

Mata sipit Shim Yoo berkilauan ketika memandangi kertas di atas meja dengan serius. Tulisan kaku terlihat di atas kertas yang sudah kusut. Hyeon membaca satu per satu huruf dengan mata merah.

Jika bunyi ada di langit, bumi, dan alam, maka langit, bumi, dan alam harus memiliki aksara… tapi, dunia membagi suhu dan iklimnya sehingga tentu saja bunyi juga akan berbeda.
Bahasa Negara di luar Cina memiliki bunyi sendiri, tapi mereka tidak memiliki aksara, sehingga mereka meminjam aksara Cina untuk menulis. Hal ini sama saja dengan memasukkan tongkat persegi ke dalam lubang berbentuk bulat. Kedua hal saling menyimpang sehingga mana mungkin bisa tersambung tanpa celah? Singkatnya, aksara harus diciptakan sesuai dengan tempat hidup masing-masing dan tidak bisa digunakan secara paksa.
Sebagai bangsa Timur, adat istiadat, music, dan kalimat kita bisa dibandingkan dengan Cina, tapi kosakata kita berbeda dengan Cina. Aku mengkhawatirkan dan terusik dengan orang-orang yang kesulitan memecahkan arti tulisan yang mereka pelajari.

Di musim dingin tahun babi, Yang Mulia menciptakan dua puluh delapan huruf, seraya terus merevisinya dan menyebutnya dengan nama Hunminjeongeum.
Bentuk huruf ini dikutif dari huruf di buku klasik dan dibuat menggunakan bunyi sebagai dasarnya, sehingga sangat selaras dengan bunyi kita, bahkan mengandung makna Samjae dan teori Li Qi.
Aksara ini memiliki bentuk yang bisa berubah tanpa batas, sederhana, vital, dan bersifat tetap, sehingga orang bijaksana pasti bisa menguasai dalam kurun waktu kurang dari satu hari dan orang-orang bodoh sekalipun bisa menguasainya dalam sepuluh hari.
Melalui tulisan ini, kita dapat menguraikan tulisan Cina dan memahami artinya. Kita dapat meneliti menggunakan tulisan ini sehingga dapat mengetahui arti sebenarnya dari sesuatu.
Kita bisa menulis semuanya menggunakan aksara ini, termasuk suara angin, suara bangau, suara kokokan ayam, bahkan suara gonggongan anjing..
Penjelasan terperinci mengenai aksara ini telah dibuat oleh berbagai orang yang sudah diperintahkan untuk mengajarkan aksara ini. Selain itu, cendekiawan Eunggyo Hee Young, Bugyori Jung Hwa, Kyung, Suchan Eun Jung, Sang Min, Busuchan Kim, Lee Sang Hee, dan lain-lain telah membuat penjelasan dan contoh aksara ini, sehingga diharapkan orang yang membacanya bisa mempelajari aksara ini tanpa guru sekalipun.

Tahun sebelas bulan Sembilan, Jaheondaebu (petugas sipil dan militer level dua), Kementrian Kebudayaan dan Pendidikan, Daejehak Jiphyeonjeon, menteri pelatih Putra Mahkota, Sang Kyu menuliskan ini sambil mengatupkan kedua tangan untuk memberi hormat dan menyentuhkan dahi di lantai.

Hee Young, Jung Hwa, Kyung, Eun Jung, Sang Min, Kim, Lee Sang Hee…!”
Hyeon mengatupkan rahangnya dengan mantap sambil menyebutkan satu per satu nama cendekiawan. Amarah, rasa telah dikhianati, dan malu bercampur menjadi satu dan terlukis di wajahnya.
“Saya sudah tahu akan ada masalah besar setiap kali melihat mereka berkumpul seperti preman pasar. Orang-orang ceroboh itu akhirnya membuat masalah.”
Hyeon bahkan tidak berpura-pura mendengarkan perkataan Shim Yoo dan terus menyebutkan sesuatu berulang-ulang.

“Sang Kyu… Sang Kyu… Sang Kyu…”
Di akhir tulisan, terlihat nama seseorang yang walaupun seumur hidup makan dari panci nasi yang sama, tidak pernah memandang ke arah yang sama satu kali pun. Sang Kyu, kepala konspirasi dari semua malapetaka. Sumber yang telah membuat istana yang tenang berubah menjadi lautan darah akibat pembunuhan massal.

“Sang Kyu… walaupun tengah membunuh ilmu pengetahuan mengunakan posisinya sebagai bujehak, ia masih berani menulis tulisan jahat dengan tebal muka seperti ini?”

“Ia mengacaukan kebijaksanaan Yang Mulia melalui perkataanya yang licik dan menyeret banyak orang ke arah yang tidak benar. Ia adalah sosok yang membawa anak-anak selir dan orang-orang tidak sopan ke Jiphyeonjeon, kan?”

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 124.