Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 130

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 129.

“Aku bisa mendengar, tapi sejak kecil telah kehilangan kemampuan berbicara. Bagai sebuah takdir, aku ikut istri Putra Mahkota masuk ke istana dan memahami prinsip dasar, serta bahasa dan aksara yang tengah diteliti Yang Mulia. Yang Mulia menggambarkan bagian dalam mulut manusia dan mengajarkan satu per satu lokasi asal suara dan cara mengeluarkannya dengan terperinci, sehingga aku mulai bisa membuka mulutku yang terkunci dan bisa menggerakkan lidahku yang kaku.” Hae Won berbicara sambil mengeluarkan dan membuka selembar kertas bergambar.

Itu adalah gambar kepala manusia yang dibelah dua untuk memperlihatkan struktur dalam mulut. Gambar itu juga dilengkapi dengan lokasi artikulasi masing-masing bunyi. Gambar mengerikan dan membuat gigi bergemeretak ini adalah gambar kejam yang Chung Hee lihat di ruang bawah tanah rahasia kamar mayat Gabriel.

Sekarang, Chung Hee sepertinya baru paham kenapa Gabriel melontarkan suara-suara ah, euh, ih, ga, na, da, dan lain-lain sendirian. Berarti, Gabriel tahu mengenai kotak ajaib suara dan aksara baru ini? Chung Hee merasa kacau lagi.

“Mana yang kenyataan? Siapa yang bisa dipercaya? Jika tidak bisa memercayai yang terlihat, bagaimana bisa memercayai yang tidak terlihat?”
“Tidak tahu. Tidak bisa memercayai apa pun dan tidak tahu apa pun. Bagaimana bisa aku memercayai orang yang ternyata bisa berbicara dan Yang Mulia yang mendiskusikan masalah Negara dengan seorang asisten dayang? Lalu, bagaimana bisa aku memercayai bahwa kematian para cendekiawan disebabkan oleh hal ini?”

Perempuan yang sedang memperhatikan wajah kesal Chung Hee, menegakkan tubuhnya seakan sudah menetapkan hati. Bagaimanapun, sepertinya perempuan itu memang pasti akan teringat dengan kejadian di masa lalu. Atau, mungkin ingatan yang disimpan berdesakkan di dalam hati akan mulai membuka lipatan-lipatannya.

“Kau tahu Dumun-dong?”
Chung Hee tahu kalau perempuan itu ingin mulai bercerita. Lalu, ia juga tahu kalau cerita itu sangat panjang.

Raja Gyong Si, tahun keempat bulan tujuh. Lee Seun Sahn mengakhiri dinasti Goryeo dengan raja ketiga puluh empatnya setelah berdiri selama 475 tahun untuk mendirikan Joseon. Rakyat yang terengah-engah akibat ekonomi busuk, kemiskinan, dan penderitaan mulai memuji-muji dinasti baru.

Namun, ada juga rakyat yang tidak menerima pendirian Joseon dan masih mendedikasikan kesetiaannya pada Goryeo. Ada sekelompok cendekiawan Konfusius yang mengedepankan paham Bulsaigun (menolak untuk melayani dua raja dan hanya melayani satu raja), menjaga kesetiaan pada Goryeo, dan tidak mau mendukung Joseon. Mereka ada yang dibunuh karena menolah pendirian dinasti baru. Namun, ada juga yang bersembunyi di pegunungan dalam, sampai akhirnya mundur sepenuhnya dari kehidupan dan menghabiskan hidup di sana.

Akhirnya, tujuh puluh dua menteri dinasti sebelumnya melepaskan seragam mereka dan memutuskan hubungan dengan dunia dengan bersembunyi di Dumun-dong di tepi Gunung Gwangdeok di Provinsi Gyeonggi.

Lee mengelilingi Dumun-dong dengan tumpukan kayu bakar sebesar rumah besar, lalu membakarnya. Jika para menteri berlarian keluar, ia berencana untuk memberikan posisi di pemerintahan dan membangun dunia baru bersama mereka. Namun, seakan menertawakan niat itu, para cendekiawan menyambut akhir hayat mereka di dalam api.

Empat puluh tahun setelah dinasti baru didirikan. Sekarang, hanya beberapa orang tua yang masih mengingat Goryeo. Mereka mengatakan bahwa itu adalah masa yang enggan mereka ingat karena hanya diisi oleh dewan istana busuk, raja yang tidak becus, dan kemiskinan.

Namun, bagaimana dengan kesetiaan untuk dinasti busuk dan tidak becus yang dibayar dengan nyawa? Apakah mereka yang berpaling dari dinasti baru untuk dinasti yang telah menghilang, hanyalah orang-orang bodoh yang mencoba mengubah arah aliran air sungai? Atau, apakah mereka adalah orang-orang lurus yang tidak mendahulukan dirinya sendiri demi nilai yang selama ini mereka yakini?

Chung Hee berpikir sejenak. Apa yang akan Chung Hee pilih sekarang jika ia dihadapkan pada situasi yang sama dengan mereka dan dipaksa untuk memilih?

“Kehormatan dan kesetiaan mereka patut dipuji, tapi itu merupakan kejadian empat puluh tahun lalu. Apa hubungannya Dumun-dong denganmu…”

“Ayahku adalah salah satu dari tujuh puluh dua menteri di Dumun-dong. Ayahku berhasil meloloskan diri dari kobaran api setelah melalui berbagai rintangan, kemudian bersembunyi di Hanyang dan membangun rumah tanah di tepi Namchon. Di sana banyak menteri Goryeo yang masuk ke kantor pemerintahan Joseon. Sebagian dari mereka tentu saja tergabung dalam gerakan restorasi Goryeo. Mereka yakin bahwa sesuatu yang bangkit berkat pedang akan hancur oleh pedang dan aktif dalam pergerakan restorasi tanpa harapan. Ayah mengelilingi rumah orang berkuasa sebagai pembersih kotoran sambil memperhatikan struktur dan kondisi pemerintahan.

Chung Hee menelan ludah dengan telinga yang seakan berdenging. Ia dapat memperkirakan bagaimana perempuan itu menjalani waktunya. Waktu yang menghadapkannya dengan dunia seorang diri setelah kehilangan orang tua, waktu yang tidak memedulikan nyawanya. Kehidupan itu sama dengan kehidupan Chung Hee.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 131.