Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 131

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 130.

“Jika keluargamu masuk ke dewan istana Goryeo dan bersembunyi di Dumon-dong, seharusnya kau dianggap sebagai pemberontak, tapi kenapa malah menjadi dayang?”

“Ayah meminta agar aku setia pada Goryeo. Ayah menitipkanku di rumah keluarga Bong Hwa agar putri tidak bergunanya ini bisa dijadikan mata-mata di keluarga aristocrat. Tapi, takdir memang konyol. Putri majikan malah dipilih menjadi istri Putra Mahkota dan masuk istana.”

Chung Hee merinding. Chung Hee pernah dengar dan tahu bahwa ada kelompok pemberontak yang ingin menjatuhkan Joseon dan mengembalikan Goryeo. Namun, ternyata pemberontak itu adalah dayang istri Putra Mahkota, sekaligus perempuan yang disayangi Raja.

Chung Hee semakin tidak mengerti. Suara Hae Won berlanjut dengan tenang seperti tetesan air yang mengalir pelan.

Istri Putra Mahkota bertindak perlahan hari demi hari, layaknya sedang berjalan di atas es. Setiap jam malam di dini hari berbunyi, ia akan terbangun dan memberi salam di Daejeon bersama Putra Mahkota. Hae Won menyiapkan pakaian dan penampilan istri Putra Mahkota dan mengikutinya di belakang.

Istana adalah tempat yang terlalu sepi dan berbahaya bagi istri Putra Mahkota yang masih muda untuk ditinggalkan seorang diri. Hae Won adalah tempat istri Putra Mahkota menceritakan semua isi hatinya yang terdalam, serta tempat untuk berbagi kesenangan, kesedihan, kekesalan, dan keriangan.

Dua sampai tiga tahun berlalu sejak pernikahan kerajaan dilaksanakan. Saat itu dayang daejeon menemui istri Putra Mahkota. Dayang Daejeon menyampaikan titah raja agar istri Putra Mahkota menunggu di Yeonsaengjeon.
Yang Mulia, Putra Mahkota, cendekiawan Eun Jung, dan Kim sudah berkumpul di Yeonsaengjeon. Istri Putra Mahkota naik ke beranda. Hae Won menaiki tangga dengan ragu, seraya menempelkan dahinya ke lantai dari jarak yang jauh.

“Hari ini aku memanggil kalian karena ingin mendiskusikan hal khusus.” Yang dimaksud dengan kalian adalah istri Putra Mahkota dan Hae Won. Hati Hae Won bergetar bagai gendering yang ditabuh sekuat tenaga. Untuk apa seorang raja yang dipanggil ayah oleh puluhan ribu rakyat memanggil seorang dayang?

“Namamu Hae Won, kan?” Hae Won tidak bisa menjawab. Seberapa besar kesalahannya karena tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Yang Mulia? Keringat dingin mengalir di punggung Hae Won. Dayang Daejeon memberikan alat tulis yang sudah disiapkan. Hae Won saat itu baru bisa mengambil kuas dan menulis.

“Benar.” Dayang Daejeon memperlihatkan tulisan Hae Won yang tintanya masih belum kering. Terlihat seulas senyum di sela-sela kumis lembut.

“Banyak bisikan di penjuru istana ketika istri Putra Mahkota masuk istana. Katanya, membiarkan perempuan yang bisa mendengar, tapi tidak dapat berbicara masuk istana bukanlah tindakan yang tepat. Tapi, aku tetap mengizinkanmu masuk istana karena katanya hubungan lebih dekat dari saudara kandung dengan istri Putra Mahkota. Kudengar kau tidak dapat bicara, tapi memiliki kecerdasan dan kejernihan yang tidak kalah dengan putri keluarga terhormat.”

Laut gelombang dahsyat bangkit di dalam dada Hae Won. Yang Mulia melanjutkan bicara.
“Kudengar, walaupun tidak bisa bicara, kau berbicara dengan istri Putra Mahkota menggunakan cara khusus. Itu benar?”
Dengan mata jernih yang penuh dengan rasa ingin tahu, Yang Mulia menunggu istri Putra Mahkota untuk berbicara.

“Benar. Walaupun tidak bisa berbicara, kami tidak memiliki hambatan dalam berkomunikasi melalui berbagai cara.”
“Cara apa?”
“Kami belajar secara tidak sengaja ketika ada orang lain yang belajar. Karenanya, jika ada maksud yang tidak dapat disampaikan dengan gerakan tubuh dan ekspresi, kami akan menggunakan aksara Cina.”
“Kenapa cara itu bisa disebut khusus jika kalian hanya menggunakan aksara Cina untuk menyampaikan maksud?”
Yang Mulia bertanya lagi dengan mata penuh rasa ingin tahu.

“Sebenarnya, kami juga menyampaikan maksud dengan menuliskan bunyi menggunakan tulisan yang hanya dimengerti oleh kami berdua.”
Kedua mata Yang Mulia bersinar tajam.
“Menuliskan bunyi dengan huruf?”
“Benar. Satu aksara Cina dipasangkan dengan satu arti dan hal itu berbeda dengan bahasa kita, sehingga kita tidak bisa menyampaikan kejadian sehari-hari. Selain itu, kalimat harus dibuat berdasarkan struktur kalimat Cina, sehingga hal itu terlalu sulit dan tidak bisa diikuti. Karenanya, kami menyusun aksara Cina berdasarkan bunyi. Misalnya, ketika ingin menulis ‘pergi ke sungai (garame ganda), kami tidak akan menulis ganghaeng, melainkan gangehaeng yang lebih dekat dengan bunyi ‘pergi ke sungai’.”
“Ternyata seperti itu membuat tulisan dengan meminjam aksara Negara lain agar membaca dan menulis menjadi lebih mudah, toh.”

“Komunikasi antara manusia tidak tergantung pada kemampuan seseorang untuk berbicara. Jika masing-masing berniat untuk saling mendekatkan hatinya, bisu dan buta huruf tidak akan bisa menjadi penghalang.”
Yang Mulia mengangguk ketika mendengar perkataan istri Putra Mahkota.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 132.