Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 134

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 133.

“Setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Cendekiawan yang agung pun memiliki kekurangan. Ahli bela diri terbaik pun memiliki celah yang tidak terduga. Kesedihan akibat tidak dapat berbicara sudah cukup besar, tapi kenapa kekurangan itu malah dijadikan kesalahan?”

Hae Won mengambil alat tulis yang ada di depan matanya yang terlihat samar akibat air mata. Istri Putra Mahkota yang memandangi ujung kuas Hae Won dalam diam, membaca dan menyampaikan makna yang muncul dari ujung kuas yang bergetar.

“Bagaimana bisa keadaan orang cacat yang tidak bisa bicara dijadikan kekurangan?”
Yang Mulia yang entah bagaimana mengetahui kesedihan dan keterharuan Hae Won yang tengah membuncah, malnjutkan kalimatnya.
“Di istana ini tidak ada cendekiawan yang menguasai ilmu fonem sebaik dirimu. Walaupun mencari-cari di jalan pasar dan mengobrak-abrik penjuru negeri, aku tidak akan bisa menemukan orang yang tidak dapat bicara dan menyampaikan maksudnya sepertimu melalui tulisan.”

Hae Won tahu. Tahu betapa tidak akurat dan menyedihkannya perkataan yang dituliskan orang. Walaupun mengatakan “ah”, tidak berarti semuanya mengatakan “ah” yang sama. Hae Won menyadari sedikit perubahan intonasi dan perbedaan nada yang tidak terdengar di telinga orang biasa.

“Kau memang tidak bisa bicara, tapi telingamu lebih teliti dan sensitive dibandingkan orang biasa. Kau mendengar bunyi yang tidak didengar orang lain dan bisa membedakan bunyi yang tidak bisa dibedakan, kan? Lalu, karena tidak pernah berbicara sama sekali sejak remaja, bibirmu sama saja dengan kertas kosong yang belum dicoret sama sekali. Kau bisa menyerap tinta sesuai dengan yang dituliskan. Mulutmu berbeda dengan mulut orang-orang yang sudah tidak asing dengan ucapan sehari-hari.”

Tidak ada yang salah dengan perkataan Yang Mulia. Walaupun “ah” yang sama, bunyi anak-anak dan orang tua berbeda. Perbedaan bunyi yang dikeluarkan di musim panas dan musim dingin disebakan oleh suara yang menjadi berbeda sesuai dengan jam alam dan tubuh manusia. Bunyi “ah” yang keluar dari orang yang baru bangun tidur dengan bunyi “ah” yang keluar dari orang yang sedang lapar dan kenyang berbeda. Hae Won juga tahu kalau bunyi “ah” bangsawan dan pelayan berbeda.

Telinga Hae Won bisa memisahkan masing-masing bunyi polos yang ada dalam gumpalan bunyi yang jumlahnya tidak terhitung. Telinga Hae Won juga dapat mengetahui perbedaan setiap suara yng tergantung pada pemiliknya.

Waktu berlalu dengan cepat. Pertemuan rahasia yang diadakan tiga hari sekali atau lima hari sekali merupakan kebahagiaan terselubung bagi Hae Won. Ia dapat bertemu dengan istri Putra Mahkota dan Raja di tempat itu. Lalu, ia juga bisa menyadari bahwa bunyi adalah hal yang sangat indah.

Hae Won teringat dengan suara nyaring dayang dan ucapan lambat para asisten dayang dengan samar-samar ketika kelas Yang Mulia berlanjut. Yang Mulia menyiapkan alat tulis di depannya dan menulis di atas kertas kosong. Hae Won memandangi gerakan ujung kuas yang lembut itu.

Kertas puth mengisap tinta hitam, seakan sudah menunggu. Tulisan yang kaku tertoreh di atas kertas.
Sungai (garam).
“Apa ini?” Yang Mulia bertanya sambil membersihkan sisa tinta di ujung kuas.
“Sungai.” Suara rendah dan tenang membungkus seisi ruangan.
“Dibaca sungai karena aku menulis sungai. Bukankah ini adalah huruf yang tepat untuk bahasa kita?”
Hae Won melihat sosok seorang lelaki yang sangat bahagia dari senyum itu. Pertanyaan dan jawaban Yang Mulia dan para dayang terus berlanjut.

Tempat, musim panas, air, akar, penjara selatan….
Ketika Yang Mulia menulis dengan huruf yang terlihat kaku, para dayang dan asisten dayang membacanya dengan perlahan. Kadang, Yang Mulia menulis pertanyaannya dan para dayang serta asisten dayang menorehkan jawaban mereka.

“Apa yang paling kalian rindukan di musim panas?”
Membaca pertanyaan seperti itu, para dayang dan asisten dayang membubuhkan jawaban yang sesuai dengan pikiran mereka masing-masing.

“Es”, “Salju”, “Sungai.”
Di sana, ada perbedaan antara komunikasi secara verbal dan melalui tulisan. Berbeda dengan perkataan yang dapat menghilang dalam sekejap mata, tulisan tertinggal selamanya.

Kelas yang menghabiskan setengah hari berlangsung dengan lambat. Kelas itu terlalu asing untuk disebut sebagai kelas pembelajaran ilmu pengetahuan, tapi lebih panas dibandingkan dengan diskusi pemikiran Konfusius dan paham Li Qi mana pun.

“Hae Won, tinggallah di tempat ini sebentar lagi.” Hae Won yang berlutut sambil berjalan mundur setelah kelas selesai, langsung menghentikan langkahnya. Terdengar bunyi rok para dayang yang mengenai rumput di telinga Hae Won yang tengah menunduk.

Yang Mulia membacakan jawaban yang dituliskan para dayang dengan perlahan satu per satu.
“Es, salju, sungai… hoho… luar biasa, ya? Orang yang mengatakan itu sudah tidak ada di sini, tapi perkataannya tertinggal apa adanya di sini, sehingga kita bisa kembali ke masa itu dan memikirkannya.” Yang Mulia tidak berhenti tersenyum ceria.

“Benar. Huruf luar biasa ini sama dengan air yang tidak akan kehilangan sifatnya walaupun terus mengalir. Perkataan yang mengalir sesukanya, akan membeku menjadi tulisan yang bisa menyimpan makna apa adanya sesuai dengan bunyi asal.” Istri Putra Mahkota menjawab dengan mata penuh rasa ingin tahu. Yang Mulia melayangkan tatapannya kepada Hae Won dan melanjutkan kalimatnya lagi.

“Jika membaca tulisan-tulisan yang tertoreh di sini, kita bisa mengetahui pembicaraan apa yang berlangsung tanpa ada yang ditutupi sama sekali. Karenanya, kau harus membawa kertas-kertas ini ke tungku perapian setelah kelas selesai dan bakar semuanya sampai ke kertas terakhir.”
Hae Won terkejut. Yang Mulia tahu kalau Hae Won tengah berbicara melalui matanya, bukan melalui bibirnya.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 135.