Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 135

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 134.

“Kau bertanya apa yang ditakuti seorang raja yang memimpin puluhan ribu rakyat, sampai harus memusnahkan barang bukti, ya?”
Hae Won tidak menjawab dan hanya menunduk. Pertanyaan yang sangat langsung. Yang Mulia masih tersenyum hangat.

“Menulis bahasa nasional menggunakan aksara nasional merupakan hal yang paling pasti, tapi juga tidak semudah itu. Ada yang dinamakan Negara besar dan Negara kecil. Dan, Negara kecil harus memikirkan cara untuk bertahan hidup. Jika Joseon membuang aksara Negara besar dan membuat aksara baru, Negara besar tidak akan tinggal diam. Kita bisa saja malah menjerumuskan puluhan rakyat ke dalam penderitaan akibat pembuatan aksara yang ditujukan untuk menyamanan dan kehidupan rakyat yang lebih baik, kan? Karenanya, ini adalah hal rahasia yang bahkan tidak boleh diungkapkan sembarangan kepada cendekiawan Jiphyeonjeon. Dayang dan asisten dayangku juga berniat untuk merahasiakan pembelajaran ini.”

Hae Won mengumpulkan lembaran jawaban para dayang dan asisten dayang, seraya membawanya ke tungku perapian. Lidah api yang terus menyambar, mengisap kertas tipis satu per satu dan hanya meninggalkan abu hitam. Hae Won memeriksa bagian dalam tungku dua sampai tiga kali. Ketika ia pergi setelah memastikan semuanya sudah berubah menjadi abu, Yang Mulia dan istri Putra Mahkota tengah menunggunya di depan halaman.

“Ada yang mau kubicarakan lagi, jadi ikutlah!”
Istri Putra Mahkota berjalan di belakang Yang Mulia, lalu Hae Won juga menyusul di paling belakang dengan tenang. Kemudian, Komandan Pasukan Keamanan Internal Kerajaan Chin Hwa mengikuti mereka dengan mata penuh waspada.

Yang Mulia menyebrangi jembatan kayu panjang yang terhubung dengan Chwirojeon tanpa berkata-kata. Jembatan kayu kuat itu berbentuk melengkung sehingga bagian tengahnya terlihat membubung.

Setelah menaiki rumah musim panas, Hae Won merasa seakan tengah berada di dunia lain. Gelombang air Hyangwonji mengelilingi di empat arah mata angin. Rumah musim panas tenang seakan berada terpisah dengan dunia luar. Rumah musim panas mungil itu merupakan tempat rahasia untuk mereka bertiga. Pertemuan yang tidak dapat diganggu dan didekati oleh siapa pun.

Di seberang gelombang air tenang yang berkilauanakibat cahaya matahari siang, terlihat atap paviliun yang jumlahnya tidak terhitung dan tepian atap yang terlihat seakan mau terbang. Ini hanya rumah musim panas menyedihkan yang tidak dilirik seorang pun, tapi pemandangan yang dilihat dari tempat itu terasa sangat berbeda. Rumah musim panas kecil itu seakan membuat semua pemandangan dan paviliun-paviliun istana yang besar dan luar biasa terlihat semakin menonjol.

Bagaimanapun, Yang Mulia tidak tahu kenapa ia memanggil Hae Won ke tempat ini, sama seperti ia tidak tahu kenapa ia menggali Hyangwonji dan membangun Chwirojeong. Di mata orang yang tidak peka, Hae Won pasti haya terliaht seperti pelayan perempuan bisu yang mengibakan, walaupun sebenarnya ia memiliki kecerdasan yang tersembunyi.

Hae Won sepertinya tidak dapat melupakan pemandangan yang ia lihat dari Chwirojeong. Yang mulia yang tadi mendengarkan suara gemercik air, akhirnya membuka mulut.

“Sistem yang berfungsi untuk mengeluarkan suara milikmu baik-baik saja, jadi kau pasti bisa bicara jika mengetahui prinsip dasar bunyi dan hukum artikulasi.”
Pupil Hae Won membesar dan mulutnya terbuka. Berbicara? Orang bisu sejak remaja bisa berbicara? Yang Mulia berbicara seperti itu.

“Huruf vocal dan konsonan yang merupakan akar dari bunyi telah dibuat. Aksara itu dibuat berdasarkan bentuk bibir yang mengeluarkan bunyi, sehingga siapa pun pasti bisa berbicara jika mengikuti bentuk tersebut. Aku ingin mengajakmu untuk menguji aksara ini. Jika kau jadi bisa berbicara lagi, berarti aksara ini bisa digunakan.”

Walaupun aksara itu sangat menakjubkan, anjing juga pasti akan tertawa jika mendengar orang bisu bisa berbicara lagi dengan aksara itu. Apakah kewarasan Yang Mulia sudah mulai berkurang akibat terlalu focus pada ilmu pengetahuan? Kenapa ia mengatakan omong kosong yang bahkan tidak dikatakan oleh orang tua yang sudah pikun?
Istri Putra Mahkota juga terkejut.

“Saya malu, tapi tabib hebat yang banyak dibicarakan orang juga sudah menggelengkan kepalanya.” Yang Mulia melanjutkan berbicara sambil masih tersenyum.

“Penderitaan orang yangbisa berbicara tapi tidak bisa menulis dan orang yang bisa menulis tapi tidak bisa bicara pasti tidak ada bedanya. Penduduk bodoh yang mendirikan pagar tinggi untuk membatasi diri mereka dengan aksara Cina dan Hae Won yang kesulitan karena tidak bisa berbicara pasti sama-sama merasa kesal. Sekarang, aku tidak bisa mengurangi penderitaan orang-orang di sampingku, jadi bagaimana mungkin aku bisa disebut sebagai pemimpin puluhan ribu rakyat?”

Yang Mulia mengakhiri kalimat dengan bergetar. Hae Won dapat mengintip keyakinan terisolasi seorang lelaki di dalam getaran itu. Keyakinan akan niatnya untuk membuka pintu tertutup seluruh rakyat dan membuka mulutnya sendiri yang membeku melalui kenyataan.

Apa itu mungkin untuk dilakukan? Apakah orang bisu bisa berbicara dan orang-orang bodoh buta huruf dapat membaca?
Bagaimanapun, Hae Won percaya kalau lelaki ini pasti bisa mewujudkan mimpi yang mustahil sekalipun. Bukan karena ia adalah seorang raja yang bisa mendapatkan segalanya di bawah langit, melainkan karena keyakinan Raja yang memimpikan era baru dengan system baru. Tanpa disadari, Hae Won yakin kalau mimpi itu pasti terwujud dan ia sangat berharap semua akan menjadi kenyataan.

Hae Won mengambil kuas dan mulai menulis. Ia menuliskan kalimat asing menggunakan aksara Cina yang disusun sesuai bunyi seperti yang biasa ia pakai dengan istri Putra Mahkota, serta dengan mencampurkan aksara baru yang baru dipelajari oleh beberapa orang. Istri Putra Mahkota membaca huruf demi huruf mencengangkan dengan terbata-bata.

“Hamba akan mengerahkan seluruh jiwa dan raga untuk masalah ini.”
Yang Mulia membaca niat membara dari beberapa huruf di kalimat pendek tersebut.

“Sekarang kau sudah memahami prinsip aksara, jadi ungkapkanlah maksudmu melalui kata-kata.”
Titah yang sangat membingungkan. Menyuruh orang bisu yang bahkan membuat tabib terkenal menyerah. Jika hal itu bisa terjadi, itu akan menjadi sebuah keajaiban. Namun, semua orang tidak menganggap hal itu membingungkan. Keajaiban pasti akan terjadi.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 136.