Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 143

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 142.

“Apa pasukan keamanan juga berjaga di paviliun Hae Won?”
“Tidak. Bukankah mereka malah akan semakin mencurigai tempat itu jika kita menempatkan pasukan keamanan?”
“Dayang itu dalam keadaan bahaya.”
“Jangan khawatir. Mereka tidak akan mengira kalau seorang dayang rendahan tengah menyimpan buku berharga. Lalu, Hae Won akan memberikan buku itu kepada Yang Mulia malam ini. Dengan begitu, tali pembunuhan beruntun kejam ini juga akan terputus.”

“Tetua tidak memikirkan nyawa seorang dayang rendahan asal bisa menyelamatkan buku itu?”
Chung Hee membuka pintu paviliun Pasukan Patroli Kerajaan dan bergegas berlari.
“Hee! Mau ke mana? Hee! Hei!”
Namun, telinga Chung Hee tidak dapat mendengar apa pun.

Kau harus hidup. Kumohon jangan mati…
Harus hidup.
Chung Hee berlari dengan pikiran kacau. Angin sejuk menerpa mata, membuatnya pedih sampai air mata panas mengalir. Angin yang mengempas ketika ia berlari membuat dadanya sesak.

Air mata ini keluar akibat angin. Akibat kegelapan yang menyesakkan. Dada ini terasa ingin meledak akibat angin yang mengempas tubuhnya. Chung Hee memutari pagar batu paviliun Naegaksa sambil terus berlari bagai ingin menerbangkan dedaunan.

Perempuan pertama yang membuat Chung Hee merasakan cinta sejak dilahirkan. Perempuan yang memperlihatkan senyumnya pada Chung Hee yang tidak memiliki apa-apa. Perempuan yang membuatnya mengintrospeksi dirinya dan menyadari kekurangannya. Chung Hee tidak peduli walaupun perempuan itu adalah milik raja yang tidak mungkin bisa ia dapatkan dengan status rendah seperti ini. Ia sudah merasa cukup senang dengan bisa bernapas di bawah langit yang sama dengan perempuan itu.

Chung Hee terus-terusan melirik atap paviliun-paviliun Naegaksa tanpa alasan khusus dan merasa senang ketika merasakan angin yang berembus dari pintu Yeongchumun yang ada di Naegaksa akibat perempuan itu. Hatinya berebar akibat bertanya-tanya apakah permpuan itu juga sedang memandangi ranting pohon yang agak bergoyang di seberang danau Gyeonghweru.

Chung Hee telah belajar untuk tidak menginginkan apa yang bukan miliknya. Ia telah belajar bahwa tidak mengganggu maksud Raja merupakan salah satu bentuk kesetiaan. Karenyanya, semakin memikirkan perempuan itu, Chung Hee semakin terusik karena semakin menyalahkan dirinya sendiri.

Chung Hee senang walaupun perempuan itu tidak akan bisa menjadi miliknya. Asal ia bisa memadangi perempuan itu dari kejauhan… ia sudah merasa cukup dengan itu. Tapi, seandainya ia bisa menyampaikan isi hatinya sekali saja… seandainya ia bisa melakukan itu, ia tidak keberatan walaupun tidak bisa bertemu perempuan itu lagi untuk selamanya.

Namun, kenapa Chung Hee tidak menyadarinya? Kenapa ia tidak menyadari bahwa seharusnya ia mengungkapkan isi hatinya saat itu? Kenapa ia tidak menyadari bahwa seharusnya ia mengatakannya kalau ia mencintai perempuan itu ketika bisa mengatakannya? Kenapa ia tidak menyadari bahwa jika terus menunda dengan mengatakan nanti dan nanti, nanti tidak akan pernah datang selamanya?

Napas Chung Hee terasa sangat sesak. Chung Hee menetapkan hati dengan jantung yang seakan ingin meledak. Harus hidup, Hae Won harus hidup. Hae Won harus hidup agar ia bisa menyatakan cintanya. Akan mengatakannya. Kenapa ia tidak bisa mengatakan sekarang apa yang bisa dikatakan nanti?

Chung Hee mnginjakkan kaki di asrama Hae Won. Chung Hee mencengkram tongkat heksagonalnya yang tergantung di sabuk. Lalu, ia mengatur napas terengah-engahnya sambil masuk ke dalam.

Cahaya lampu minyak kemerahan terlihat di dalam ruangan. Cahaya api seakan menenangkan dan menghangatkan hati Chung Hee yang dingin. Chung Hee menghirup napas dalam-dalam dan menaiki beranda dengan langkah tanpa suara.

Tidak terdengar apa pun dari dalam. Bayangan yang bergerak sama sekali tidak terlihat dari balik pintu. Chung Hee memegang gagang pintu dengan tangan gemetar dan langsung menggesernya. Api lampu minyak di dalam ruangan bergoyang hebat akibat angin yang ditimbulkan oleh pintu yang dibuka.

Di dalam ruangan tidak ada satu semut pun yang terlihat. Walaupun tidak dapat melihatnya, Chung Hee tahu bahwa wajahnya sudah pucat membiru.
“Yang Mulia dalam keadaan bahaya.”
Tanpa disadari, pikirannya sudah berlari lebih dulu ke Daejeon dibandingkan dengan langkah kakinya.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 144.