Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 145

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 144.

Jika dilihat dari luar, kamar di Gangnyeongjeon terlihat seperti satu buah ruangan besar. Itu adalah tempat tidur raja yang memimpin sebuah Negara sehingga tentu saja harus besar dan megah. Namun, sejak Yang Mulia naik takhta, ia menambahkan fasilitas rahasia di ruang tidur. Ini berkat saran Jenderal Besar Jung Hyun Ki yang telah meramalkan hari seperti ini. Jung Hyun Ki memasang pintu sedemikian rupa untuk membagi satu ruangan besar dan megah menjadi beberapa ruangan kecil.

Biasanya, Yang Mulia tidur di kamar tengah. Kamar yang lain kosong. Jika ada seseorang yang ingin memberontak dan menyerang paviliun tempat tidur, ia tidak akan mengetahui struktur ruangan, sehingga tidak bisa menebak di mana Yang Mulia berada, sementara Yang Mulia bisa mengawasi pergerakan mereka seperti sedang mempelajari garis tangannya sendiri.

Setiap pintu dibuat dari dua lapis kertas tebal yang permukaan kasarnya dipasang ke arah yang sama. Itu karena permukaan kasar kertas dapat menyerap suara dan permukaan halusnya dapat memantulkan suara. Jika berada di ruangan dengan kertas kasar, Yang Mulia dapat mendengar suara musuh dengan jelas, sementara suara yang didengar musuh akan mengecil. Yang Mulia sangat mengenal arah kertas di setiap pintu.

Yang Mulia memasang telinga untuk mendengarkan langkah kaki para musuh. Mata pedang panjang berkilauan, membelah kegelapan. Darah merah menodai kertas pintu. Yang Mulia berpindah ke ruangan selanjutnya dengan langkah cepat. Para musuh sedang kebingungan. Mereka bergerak sembrono akibat tidak tahu di mana posisi mereka sendiri dan posisi Yang Mulia. Empat orang tersisa. Satu orang ada di kamar sebelah kanan, satu orang lagi berada di samping kamar sebelah kanan, dan dua orang ada di kamar seberang.

Yang Mulia memegang pedang dengan posisi Baekwon Chuldong (salah satu posisi kuda-kuda seni bela diri yang dikembangkan di masa Joseon). Bayangan pedang yang tengah diacungkan memantulkan cahaya bulan yang kemudian menyinari kertas pintu. Yang Mulia langsung menghindar. Mata pedangpanjang membelah kosen pintu. Suara jeritan terdengar secara bersamaan di dalam kegelapan. Pembunuh yang berada di ruangan berseberangan saling membelah perut satu sama lain secara bersamaan.

Pembunuh-pembunuh yang tersisa bergerak dengan kalap. Mereka pasti sedang emosi. Yang Mulia menelan ludah, masih dalam keadaan waspada. Kali ini ia memasang posisi Jinjeon Gyeokjeok (maju ke depan sambil menghantam tubuh lawan dari atas ke bawah. Ini merupakan teknik menusuk dengan pedang yang paling dasar dan mirip dengan tusukan frontal di olahraga anggar saat ini). Terdengar suara pintu ruangan terbuka. Mereka tengah mendekat ke ruangan tempat Hae Won bersembunyi. Bulu kuduk Yang Mulia langsung berdiri. Ia seakan dapat mendengar suara napas Hae Won yang tercekat.

“Ternyata perempuan bagai rubah ini bersembunyi di sini, toh.” Salah satu penjahat berbicara dengan suara tamak. Hae Won tidak mengatakan sepatah kata pun. Terdengar suara buk. Itu suara Hae Won yang dipukul dengan punggung atau gagang pedang. Apa Hae Won pingsan? Yang Mulia menelan ludah keringnya lagi. Mulutnya kering kerontang. Mata pedang yang sedang diacungkan terlihat samar-samar di balik pintu.

“Berhenti!”
Lelaki bertopeng terkejut ketika mendengar suara jernih dan rendah Yang Mulia. Yang Mulia tengah mengacungkan pedang di balik pintu samping. Para penjahat berseru dan menerjang secara bersamaan.

Mata pedang menghantam mata pedang lain, membuat kembang api biru berlompatan. Suara besi yang saling menghantam terdengar di dalam kegelapan. Dalam seketika, helaan napas ugh keluar dari mulut Yang Mulia. Ketika memblokir mata pedang salah satu penjahat, penjahat lainnya mengenai ketiak Yang Mulia dengan mata pedangnya. Yang Mulia kehilangan keseimbangan dan terlihat sempoyongan. Penjahat itu tidak mau kehilangan kesempatan. Ia menyimpan pedangnya dan menancapkan tombak ke sisi samping tubuh Yang Mulia. Ekspresi penuh penderitaan melintas di wajah damai Yang Mulia.

“Yang Mulia! Tidak!”
Jeritan Hae Won menjalar di lantai paviliun tempat tidur dan menyobek gendang telinga Chung Hee.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 146.