Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 149

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 148.

Ketua Joo Eun menghela napas lega ketika mendengar suara langkah kaki kuda dari luar Kantor Pasukan Patroli Kerajaan. Itu pasti Chung Hee yang kelelahan. Ketua Joo Eun harus melewatkan malam tanpa tidur karena pemuda itu berlarian di penjuru istana tanpa meminta izin sama sekali.

Ia memang kasar dan tidak dapat dihentikan seperti kuda liar yang tali kekangnya baru dilepaskan, tapi tindakan dan perkataannya dapat dipercaya sepenuhnya. Entah sejak kapan, Ketua Joo Eun tersadar bahwa ia tengah mengkhawatirkan Chung Hee dengan sungguh-sungguh. Ia bahkan beberapa kali menyalahkan dirinya sendiri karena telah mendorong Chung Hee yang malang ke dalam malapetaka.

“Kau ini seperti kuda liar yang kekangnya dilepas saja!” kenapa setiap malam selalu tidak sabar untuk berkeliaran ke penjuru istana? Kau tidak tahu menyusup ke kamar tidur Yang Mulia merupakan kejahatan berat?”

Ketua Joo Eun berteriak, seakan ingin menutupi kekhawatirannya selama ini. Dada Chung Hee yang lemas, ternoda kemerahan akibat darah yang keluar dari luka yang belum sembuh. Ketua Joo Eun melirik Chung Hee dengan tatapan tidak senang sambil mengibaskan tangan untuk menyuruhnya naik.

“Hmmm, mari kita dengarkan. Mari kita dengarkan alasan kenapa kau berlarian seperti jin malam.”
Ketua Joo Eun mengeluarkan kotak tempat menyimpan kain perban dan obat herbal dari negeri Myeong dari lemari. Ia membukakan pakaian Chung Hee dan menempelkan obat di luka Chung Hee, serta membungkusnya dengan perban. Setelah rasa sakit mereda, Chung Hee membenahi isi kepalanya perlahan. Ketua Joo Eun mengikat kencang ujung kain perban, seraya menepukkan tangannya.

“Saya sudah mengerahkan seluruh tenaga, tapi tidak dapat membawa hasil memuaskan. Lalu, saya juga sudah melakukan kesalahan tak termaafkan, jadi hukumlah saya sekarang.”
“Kenapa kau bicara tidak masuk akal begitu?”
“Gogunthongseo baru saja jatuh ke Kantor Utusan Negeri Myeong.”

Pupil Ketua Joo Eun membesar.

“Kalau begitu, orang yang menyusup ke kamar tidur Yang Mulia mengincar Gogunthongseo?”
“Benar. Saya berusaha setengah mati untuk menghentikannya, tapi… ” Chung Hee tidak dapat meneruskan kalimatnya.

“Keributan besar pasti akan muncul ketika hari sudah terang. Apa yang harus dilakukan… Ketua Joo Eun mendecakkan lidahnya. Chung Hee tahu. Ia tahu kalau sekarang masalah ini tidak akan berhenti di dalam istana. Gelombang air kecil semakin besar dan berubah menjadi pusaran, sampai akhirnya gelombang tsunami menerjang pagar istana dan mengisap Kantor Utusan Cina.

Chung Hee memandang Ketua Joo Eun lekat-lekat. Ia tidak dapat memercayau orang ini. Bukankah ia adalah sosok yang hanya mengejar kemasyhuran dan kedamaian dirinya sendiri? Seumur hidup ia selalu meremehkan bawahan dan menjunjung atasan. Ia adalah seorang oportunis yang selalu menjaga posisinya. Sosok berdarah dingin yang memandang sepele nyawa manusia lain demi keuntungannya sendiri.

Namun, tidak ada pilihan. Seseorang pasti akan memilih yang lebih baik di antara yang kurang baik. Namun, Chung Hee selalu hanya bisa memilih yang tidak terlalu buruk di antara yang buruk. Apa pun yang dipilih, hasil yang didapat dari pilihan menyedihkan itu tidak akan terlalu berbeda.

Sekarang juga sama. Chung Hee tidak punya pilihan untuk tidak memercayai sosok licik, jahat, dan suka menjilat ini. Itu karena sosok ini adalah Ketua Joo Eun yang merupakan komandan resmi kasus ini. Awalnya, Chung Hee hanya tameng yang digunakan untuk menerima tanggung jawab jika ada yang salah dalam penanganan kasus. Chung Hee tahu kalau sampai sekarang perannya tidak akan bisa berubah.

Namun, seseorang harus mengetahui secara utuh mengenai kasus ini. Sekarang adalah saatnya untuk membenahi hal-hal mencengangkan yang terjadi di dalam istana. Pertanyaan masih banyak. Hal yang belum terpecahkan juga masih lebih banyak dibandingkan dengan yang sudah terpecahkan. Kasus juga terkubur di dalam kecurigaan, tapi… Waktu tidak bisa diulur lagi.

“Dengarkanlah perkataan hamba. Ini adalah kebenaran akan kasus yang hamba kejar dengan mempertaruhkan nyawa, walaupun hamba hanyalah anggota Pasukan Patroli Kerajaan yang bodoh dan masih hijau.”

Mata Ketua Joo Eun bergetar ketika mendengar perkataan yang teguh itu. Chung Hee menelan ludah sambil memandangi leher tebal Ketua Joo Eun.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 150.