Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 160

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 159.

Chung Hee ditanyai di ruang utama Biro Investigasi Kerajaan. Walaupun Bujehak Sang Kyu dan para cendekiawan sudah berlarian ke sana kemari untuk memohon pengampunan akan naywanya, usaha mereka tetap tidak berhasil. Menyusup ke kamar tidur Yang Mulia merupakan perbuatan yang tidak diizinkan apa pun alasannya.

Chung Hee yang sekarat diseret ke ruang utama Biro Investigasi Kerajaan ketika matahari sudah terbenam. Chung Hee yang bahkan belum diobati dengan layak, sudah harus duduk di kursi tahanan lagi. Dua tongkat penyiksa terlihat di antara kedua kakinya.

Orang-orang yang memberi kesaksian semakin banyak, di antaranya adalah Bujehak Sang Kyu, Jikjehak Shim Yoo, Suchan Eun Jung, Dong Sun, dan Gabriel.
“Kejahatanmu telah terungkap ke dunia. Kau takkan bisa meloloskan diri dari maut walaupun berbohong.”
Komandan Biro Investigasi Kerajaan berteriak dan bertingkah seakan tidak butuh jawaban.

“Kenapa kau bisa bertindak keterlaluan dengan menyusup ke kamar tidur Yang Mulia?”
“Ketika mendengar keberadaan Gogunthongseo, hamba mendapati bahwa buku itu berada di sana, sehingga tanpa disadari bahwa hamba telah berlari ke sana.”
“Kenapa kau bisa tahu kalau buku itu ada di sana?”

“Hamba berkeliaran di dalam istana selama sepuluh hari terakhir ini untuk mencari buku itu. Keberadaan buku berhubungan dengan kematian para cendekiawan sehingga hamba harus mencarinya untuk menangkap pelaku.”
“Kau bukan anggota komplotan itu dan pergi ke kamar tidur setelah menerima perintah dari Hyeon sebelumnya?”
Komandan Biro Investigasi Kerajaan mendesak Chung Hee. Wajah Chung Hee terlihat pucat.

“Be…benar.”
Orang-orang terkejut. Mulut Eun Jung langsung terbuka karena kaget. Mata Gabriel terbelalak, sampai terlihat hendak melompat keluar. Dong Sun yang temperamental langsung menyingsingkan lengan bajunya. Ia mendecakkan lidah sambil membatin, li…li…lihat anak bodoh itu. Komandan Biro Investigasi Kerajaan juga terkejut dengan jawaban yang tidak disangka-sangka itu.

“Kau menolong Hyeon untuk mendapatkan Gogunthongseo dan kelompok yang membahayakan keselamatan Yang Mulia?”
Semuanya menahan napas. Chung Hee membuka mulut dengan wajah tenang.
“Tidak. Daejehak mengatakan ada orang-orang jahat yang akan menyusup ke kamar tidur semalam, sehingga beliau menyuruh hamba untuk menghentikannya.”

Halaman dalam Biro Investigasi Kerajaan sekali lagi dipenuhi oleh bisikan penuh keterkejutan. Itu merupakan perkataan yang memutarbalikkan kesimpulan yang dimiliki Biro Investigasi Kerajaan. Daejehak Hyeon yang dipenjara dengan tuntutan melakukan pemberontakan tingkat tinggi, sudah mengetahui konspirasi para pemberontak dan berusaha menghentikan mereka.

“Kau ini! Kenapa bisa mengatakan dua hal bertentangan dengan satu mulut? Tadi pagi kau mengatakan bahwa Hyeon menganggap para cendekiawan yang sudah mati sebagai duri dalam daging dan merupakan sosok yang menolak tujuan besar Raja yang mementingkan ilmu benda. Kau juga bilang Hyeon tahu kalau Yang Mulia sedang menciptakan aksara baru dan rela menghalalkan segala cara untuk menghentikan hal ini, kan?”

“Benar. Tapi, hamba tidak pernah sekali pun mengatakan kalau Daejehak telah membunuh para cendekiawan. Hamba juga tidak pernah mengatakan beliau menyuruh pengikutnya untuk mengambil Gogunthongseo di kamar tidur Yang Mulia.”
“Walaupun begitu, kenapa kau bisa mengatakan dua hal berbeda dari satu mulut di bawah siksaan Biro Investigasi Kerajaan?”
“Hamba tahu. Hamba tahu sehingga sengaja memberikan laporan yang tidak konsisten.”

Orang-orang yang berkumpul kehilangan kata-kata. Kenapa anggota Pasukan Patroli Kerajaan ini berani mempermainkan Komandan Biro Investigasi Kerajaan dengan kata-katanya, ini tidak mungkin terjadi. Komandan biro Investigasi Kerajaan mengatur suaranya dengan wajah putus asa.

“Kau tahu apa?”
“Tahu bahwa malapetaka yang menimpa para cendekiawan dan kasus penyusupan ke kamar tidur ada di ujung lidah pada penjahat yang dibawa ke tempat ini.”
“Apa maksudnya?”
Komandan Biro Investigasi Kerajaan terlihat serius. Chung Hee membasahi bibirnya yang ternoda darah kering dengan lidahnya yang kering.

“Komandan Biro Investigasi Kerajaan meringkus Tuan Hyeon berdasarkan perkataan pembunuh yang ditangkap di kamar tidur dan perkataan hamba. Orang itu sudah mati di dalam penjara sehingga sekarang hanya hamba yang bisa membuktikan segalanya, kan? Dengan begitu, ketidakbersalahan Tuan Hyeon akan terbukti berkat kesaksian hamba, kan?”
Komandan Biro Investigasi Kerajaan memasang wajah sinis.

“Jangan bicara yang tidak-tidak. Hyeon sudah mengaku dengan mulutnya sendiri kalau ia adalah sosok yang mengendalikan pemberontakan kalian.”
“Tuan Hyeon tidak menyangkal dan tidak mengakui kejahatan itu. Tapi, kenapa Komandan bisa memutuskan statusnya sebagai pelaku?”
“Orang itu bukan hanya pemberontak, melainkan juga pemimpin kelompok pemberontak. Siksa ia.”

Algojo bergerak untuk menyiksa Chung Hee, membuat Chung Hee mengeluarkan rintihan yang menyayat hati. Eun Jung dan Gabriel mengatupkan mulut mereka rapat-rapat sambil mengernyitkan wajah mereka.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 161.