Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 168

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 167.

Pintu sebelah barat kamar tidur terbuka dan memperlihatkan jalan yang menghubungkan kamar tidur dengan Heumgyeonggak. Fajar masih belum tiba. Tapi, partikel cahaya sudah berterbangan di kegelapan menyesakkan ini.

Setelah keluar dari kamar tidur, terlihat aula dan tangga batu yang menyegarkan mata. Entah berapa banyak buku yang dibaca dan berapa banyak perenungan dalam yang dilakukan Yang Mulia di aula itu.
Chung Hee menyusuri koridor yang terhubung dengan Gyeongseongjeon. Di tempat itu Yang Mulia menemui, melakukan diskusi, memarahi, serta menenangkan keluarga dan para bawahannya.

Gyeongseongjeon dan Yeongsaengjeon adalah tempat raja memanggil para dayang dan mengajarkan pelafalan huruf yang tepat. Baru kali ini ada seorang raja yang berjalan di kamar tidur sebelum hari terang bersama bawahannya yang masih muda. Kesendirian setipis jarum pun tidak diizinkan menghinggapi pemimpin sebuah negara. Ia bahkan tidak boleh hanya berduaan dengan orang lain walaupun menggunakan statusnya sebagai manusia biasa. Hukum istana melarangnya untuk menemui bawahannya sendiri tanpa pegawai pemerintahan atau kasim. Membeberkan segala hal tentang dirinya merupakan siksaan kejam bagi seorang raja.

Namun, fajar gelap ini merupakan satu-satunya waktu yang bisa ia tujukan untuk dirinya sendiri.
Yang Mulia menghirup udara pagi yang menggigit sambil melangkah ke Heumgyeonggak.
“Kau tahu apa arti Heumyeong? Artinya adalah pemberitahuan masa bertani yang baik kepada rakyat setelah mengamati pergerakan langit dan waktu. Bukankah itu adalah tugas utama seorang raja?”
Yang Mulia berbicara dengan suara rendah sambil menyusuri jalan.

“Hamba tidak mengerti kenapa arwah jahat bisa berkeliaran di tempat seagung dan sebermakna itu?”
“Mana mungkin hantu tinggal di dunia yang ditinggali manusia? Manusia licik lebih jahat dari hantu, politisi kejam lebih menakutkan dari iblis.”
“Tapi, bagaimana bisa hantu itu mengeluarkan suara aneh dan melakukan hal jahat?”
“Jika sesuatu yang bisa bergerak sendiri dianggap sebagai hantu, apakah kincir air juga hantu? Itu tidak ada bedanya dengan orang yang mengira suara angin sebagai suara napas hantu ketika ketakutan. Karenanya, jika hantumemang ada di dunia ini, itu pasti hanya disebabkan oleh pikiran yang lelah dan kosong.”

“Kalau begitu, apakah hantu di Heumgyeonggak adalah buatan para pegawai pemerintah?”
Ketika pertanyaan itu dilontarkan, langkah kaki ketiga orang itu sudah masuk ke Heumgyeonggak. Terdengar suara aliran air yang seakan membelah-belah kegelapan.
“Benar. Ini adalah alat – alat rahasia buatan Jenderal besar Jung Hyun Ki dan Lee Jae yang tidak mengenal siang dan malam ketika bekerja. Alat-alat astronomi, termasuk jam air yang dimimpikan para pengrajin handal ada di tempat ini.”
“Apa itu jam air?”

“Itu adalah alat untuk membaca waktu, misalnya malam atau siang, yang dibuat oleh jenderal besar Jung Hyun Ki dengan menggunakan bola armilari. Kita harus membuat sebuah gunung setinggi tujuh ja (sekitar 30,3 cm), kemudian memasang kincir air di dalamnya. Kincir air ini akan diputar menggunakan tenaga air. Air disimpan dalam beberapa kantong air. Alirannya dapay dibuat untuk memperkirakan waktu sehingga dinamaka jam air.”

Setiap pagi Yang Mulia membaca waktu di depan alat rahasia itu untuk menentukan waktu yang tepat bagi rakyat.

“Kalau begitu, yang terbangun dan bergerak selama ini bukan hantu?”
“Benar. Air yang volumenya sudah ditentukan, akan mengalir ke kantong air kecil di bawah jika kantong di atas sudah penuh. Aliran ini akan menggerakkan kinciran. Setiap jam setengah empat sampai setengah lima, pendulum besar akan terjatuh akibat berat air. Hantaman ini akan menggerakkan boneka-boneka yang melambangkan waktu.”

“Boneka bergerak akibat tenaga air. Apakah ada alat rahasia semencengangkan itu?”
“Itu adalah kekuatan pembelajaran terhadap ilmu benda dan alam. Layaknya hantu, benda dan alam dapat melakukan hal mencengangkan yang tidak dapat dilakukan manusia. Namun, benda dan alam bukan hantu, kan? Ketika matahari terbit, negara ini akan menyebrangi sebuah zaman dan memasuki zaman baru.”

“Zaman baru yang seperti apa?”
“Ketika hari sudah terang, aku akan meresmikan kedua puluh delapan huruf. Bunyi tepat yang diajarkan kepada rakyat. Itu dapat membuat negara ini memiliki jiwanya sendiri, bukan jiwa cina. Jika rakyat mau belajar, mereka dapat mempelajari apa pun. Jika mereka ingin menguasai sesuatu, mereka dapat menguasainya. Rakyat negara ini dapay menyanyikan jiwa tanah ini dengan bahasa tanah ini di daerah kekuasaan tanah ini.”

Yang Mulia menatap Chung Hee lagi sambil melanjutkan kalimatnya.
“Sama seperti aku yang menjalankan tugasku, Hee, kau punya tugasmu sendiri.”
“Hamba akan mempertaruhkan nyawa untuk melaksanakannya.”
“Tinggalkanlah istana bersama Hae Won sebelum matahari terbit.”
Chung Hee mengangkat kepalanya akibat terkejut. Petir di siang bolong. Yang Mulia tidak memedulikan Chung Hee dan terus berbicara.

“Aku sangat ingin menempatkan kalian di sisiku. Tapi, banyak kelompok yang tengah menyembunyikan taring mereka di dalam istana seperti ular berbisa. Aku hanya khawatir kalian akan terluka akibat ketamakanku”.
“Tidak, Yang Mulia. Hamba memang bodoh dan tolol, tapi hamba tetap ingin melindungi Yang Mulia dari kelompok-kelompok itu walaupun harus dikirim ke sudut istana yang paling terpencil.”
“Beberapa pengawal sudah cukup untuk melindungi tubuhku. Karenanya, kau hanya perlu melindungi maksudku, bukan tubuhku.”

“Mana ada yang lebih penting dari menjaga keselamatan Yang Mulia di sisi Yang Mulia?”
Yang Mulia membuka bungkusan sutra di sampingnga. Terlihat dua buah buku.
“Ini adalah perincian prinsip dasar dan ilustrasi pengajaran Hunmingjeongeum. Yang satu lagi adalah salinan asli Gogunthongseo.”

“Bagaimana mungkin Yang Mulia memberikan buku seberharga ini pada hamba?”
“Jika disimpan di dalam istana, buku ini akan menjadi sumber masalah yang sangat besar. Lalu, berapa orang bijak lagi yang harus ditimpa musibah?
Bulu kuduk di lengan Chung Hee langsung berdiri. Chung Hee sudah tahu apa yang ingin dikatakan Yang Mulia. Yang Mulia menatap dalam-dalam cahaya mata Chung Hee yang bergetar sambil melanjutkan perkataannya pelan.

“Kau dan Hae Won harus menjaga buku ini baik-baik, jadi pergilah jauh-jauh dari istana sebelum langiy terang.”
“Hamba akan melindungi buku ini sampai titik darah penghabisan. Tapi, hamba cukup senang jika Hae Won ada di sisi Yang Mulia.”
“Tubuh manusia harus singgah di tempat yang disinggahi hati. Tidak ada yang lebih menyedihkan jika tubuh singgah di tempat yang berbeda dengan hati.”

Yang Mulia menatap mata sedih Hae Won sambil melanjutkan perkataannya.
“Sudah lama aku menyayangi kecerdasan dan keindahan dayang ini, jadi aku tahu di mana hatinya singgah. Jika seorang raja tidak bisa memikirkan perasaa seorang penduduk, bagaimana bisa ia meningkatkan kemakmuran rakyat? Karenanya, pergilah dengan Hae Won. Sampaikanlah jiwa yang dijaga para Cendekiawan dengan mempertaruhkan nyawa mereka kepada generasi berikut dan generasi berikutnya lagi.”

Kedua mata Chung Hee menjadi basah sedikit demi sedikit.
“Bagaimana bisa generasi selanjutnya mengenal pertarungan bijak para cendekiawan bijak yang bahkan tidak dikenal rakyat zaman ini?”
“Aku tidak khawatir generasi selanjutnya tidak akan mengenalku. Aku bahkan tidak sedih karena rakyat saat ini tidak memahami maksudku. Tugasku hanyalah mengkhawatirkan rakyat yang dipercayakan padaku saat ini. “

Kedua mata Chung Hee dan Hae Won basah ketika mendengar suara jernih itu. Laut timur di kejauhan semakin nampak terang.

The end.