Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 18

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 17.

“Para cendekiawan kan tidak mengkritik pemerintahan, tapi kenapa buku itu sampai dibakar dan mereka sampai dibunuh?”

“Isi buku itu menghina keluarga kerajaan dan merendahkan mendiang raja.” Ketua Joo eun mengernyitkan alisnya sambil mendecakkan lidah. “Siapa yang menulis buku seberbahaya itu?” wajah Chung Hee terlihat sangat tidak tenang. Ketua Joo Eun menggeleng. “Kasus itu berhasil diselesaikan setelah Kantor Pasukan Patroli Kerajaan dan Biro Investigasi Kerajaan turun tangan.”

“Apa yang terjadi pada buku salinan yang sudah dikumpulkan?” Chung Hee sudah tahu jawabannya. Chung Hee bertanya seakan ingin memastikan kembali jawaban yang ia dengar dari Hyeon.

“Buku-buku itu dibakar tanpa sisa setelah dilakukan proses penyelidikan yang ketat.” Chung Hee merasa pusing bagai terisap ke dalam pusaran pasir dan debu yang dahsyat. Berbagai pertanyaan berputar berdesak-desakkan di kepalanya, kemudian pertanyaan-pertanyaan itu berkedip-kedip, saling bertabrakan, dan menghilang lagi berkali-kali.

“Kalau begitu, tidak ada satu pun buku yang tersisa, kan?”
“Buku asli terakhir disimpan di tempat tersembunyi di Biseogo dalam istana.” Ketua Joo Eun memperhatikan Chung Hee yang sepertinya isi kepalanya sedang berputar dengan sibuk. Kemudian, ia berbicara dengan nada yang terdengar bagai pisau tengah membelah lobak.

“Tempat itu tidak bisa dimasuki sembarang orang, sehingga jangan coba mencari atau mendengar tentang buku itu lagi.” Tangan Chung Hee gemetar. Ia memang petugas patrol kerajaan, tapi ia masih anak kampung dari Bukkwan. Banyak hal yang tidak boleh dan tidak ia ketahui. Teka-teki semakin rumit. Hukuman mati dan buku terlarang terkutuk dua puluh tahun lalu, lalu kasus pembunuhan di tempat pembakaran buku kemarin malam. Apakah yang membuat mereka berhubungan?

“Ini di luar akal sehat. Pasti bukan perbuatan manusia.” Ketua Joo eun menggeleng-geleng sambil bergumam. “Kalau bukan perbuatan manusia, berarti perbuatan hantu?” “Waktu kau sibuk memorak-porandakan paviliun daejehak, aku pergi menemui jikjehak. Aku mendengar informasi yang berhubungan dengan kasus ini dari Tetua itu, jadi gunakanlah sebagai petunjuk.” Ketua Joo Eun menatap wajah Chung Hee dengan puas. Ia seakan sedang berkata begini.

Walaupun kau tidak tidur dan berlarian ke sana kemari, usahamu pasti akan sia-sia. Walaupun hanya duduk-duduk di lantai kantor ini, aku bisa mencari tahu tentang kasus ini dengan pasti dan mendapatkan petunjuk yang menentukan. Ini berkat kemampuanku yang luar biasa di Kantor Pasukan Patroli Kerajaan.

“Kau tahu rumor membingungkan yang beredar di istana sejak sebulan lalu?” Chung Hee mengedip-ngedipkan matanya. Ketua Joo Eun menggerutu dengan wajah tidak puas, seakan sudah dapat menebak reaksi Chung Hee.

“Rumor tentang hantu yang berkeliaran di istana dan memicu berbagai kekacauan. Hantu itu juga mengagetkan para kasim dan dayang, seraya membahayakan para cendekiawan Jiphyeonjeon.” “Ada hantu di istana yang sangat terang dan dijaga ketat?”

“Yang mengatakan ini bukan sembarang orang, melainkan jikjehak. Masa kau mau mengabaikan itu? Setelah menanyai para bawahan, kesimpulan yang didapat adalah semuanya pasti perbuatan hantu. Di Cheonchujeon, suara samar-samar pasti terdengar setiap malam. Lalu, para hantu yang berwujud manusia juga terlihat.” Mendengar cerita yang tidak masuk akal, tanpa disadari Chung Hee tertawa kecil.
“Chunchujeon adalah paviliun yang terhubung dengan Gangnyeongjeon yang merupakan tempat tidur Yang Mulia.. hantu berkeliaran di tempat setertutup itu?” Ketua Joo Eun menatap tajam Chung Hee, seakan merasa tidak senang.

“Katanya, kekacauan muncul sejak paviliun baru bernama Heumgyeonggak dibangun. Para hantu berwujud tidak biasa itu bergerak sendiri dan bersuara di tengah malam. Hantu gadis akan menarik-narik baju luar pria, hantu prajurit akan memukul gendering dan lonceng, lalu dua belas karakter shio juga akan berkeliaran.”

“Mungkin dayang yang termakan rumor itu hanya salah lihat atau berhalusinasi.” “Para dayang mendengar suara lain di sekitar tempat itu yang membuktikan bahwa mereka tidak hanya berkhayal. Setiap kali merinding, akibat mendengar suara para hantu yang berkeliaran, mereka selalu mendengar suara aliran air entah dari mana, sehingga mereka berpikir mungkin itu ulah hantu air.”

“Jam berapa?”
“Para hantu pasti bangun saat lonceng jam malam dibunyikan.”
“Berarti, jam bangun para hantu ada kaitannya dengan waktu kematian cendekiawan, ya?”
“Dasar Bodoh! Kau baru memahami maksudku sekarang.”
“Tapi, saya masih sulit percaya kalau hantulah yang membunuh seorang cendekiawan di tengah malam.”
“Jangan bersikap bodoh. Ungkap keberadaan hantu yang aneh itu. Hantu pasti bisa ditangkap dengan cepat. Kalau hantu itu ternyata hanya bualan orang jahat menyedihkan, kau harus mengungkap kesalahannya!”

Gabriel berkata perutnya lapar. Sepertinya ini karena autopsy mayat yang dilakukan sejak pagi. Yang membuat penjagal daging gemuk ini tidak tenang hanya ketika sedang lapar. Chung Hee memandangi lelaki berpenampilan kasar itu dengan mata kosong. Janggu hitam da berkesan garang yang menutupi wajahnya. Wajah, mata, hidung, telinga, dan dua tangan kuat seperti tutup kuali nasi yang semuanya berukuran besar.

“Anda tahu Komandan Pasukan Keamanan Internal bernama Chin Hwa?” Gabriel melepeh daging yang tadi ia kunyah. “Kenapa kau menanyakan masalah internal istana kepadaku?” Chung Hee gentar ketika mendengar teriakan yang bercampur kekesalan. Penjagal daging berhati lembut ini kenapa bisa sekesal ini?

“Saya malu menanyakan ini, tapi bukankah seorang pelayan raja harus memiliki hati dan fisik yang lembut seperti perempuan?” Gabriel tidak menjawab dan hanya mengangguk. “Tuan Chin Hwa dulu juga seorang pelayan raja, tapi kenapa ia bisa mendapatkan posisi sebagai komandan Pasukan Keamanan Internal yang bahkan sulit didapatkan pemuda-pemuda kuat? Posisi di kemiliteran membutuhkan orang sekuat batu dan secepat kilat, tapi kenapa seseorang dengan fisik seperti perempuan bisa naik ke posisi itu?” Gabriel tahu kalau Chung Hee bertanya bukan karena ia tidak tahu, melainkan karena ingin memastikan fakta yang ia ketahui.

“Sejak dulu, banyak orang-orang yang lebih kuat di antara orang-orang kuat dari Negeri Myeong dan Song. Seseorang dengan kemampuan bela diri yang semakin dekat dengan batas tertinggi malah akan terlihat lebih lembut. Seseorang yang memiliki kekuatan dan kecepatan yang semakin dekat dengan batas tertinggi malah akan terlihat gemulai dan lambat.”

“Berarti, kekuatan dan kekasaran merupakan sumber pengebiri kejantanan dan membuat seseorang menjadi lembut dan gemulai.”
“Seorangpelayan raja pasti bisa naik menjadi anggota militer berpangkat tinggi. Menurutku, itulah yang terjadi pada Chin Hwa.”

“Ada kabar beredar di istana yang mengatakan bahwa Chin Hwa menjadi pelayan raja karena ingin sukses. Katanya, rasa haus akan ketenaran dan ketamakannya berbeda dengan orang lain. Rumor bahwa ia ingin mendapatkan kekuasaan.”
“Apa maksudmu?”

“Sebelum naik jabatan menjadi pengawal Yang Mula raja, bukankah ia hanya seorang prajurit pasukan pengawal putra mahkota? Setelah naik menjadi pengawal Yang Mulia raja, kudengar ia masuk ke pasukan keamanan internal kerajaan karena tidak bisa menjadi pasukan pengawal istana. Akhirnya, ia memutuskan kalau lebih baik mendapatkan otoritas dari pusat sambil menjaga Yang Mulia Raja dari dekat.” Gabriel memicingkan matanya.

“Memang kau tahu apa! Dasar. Sewaktu Chin Hwa masih berada di pasukan pengawal putra mahkota, kau bahkan masih belum melihat cahaya di dunia.”

“Saya bertemu dengannmya di Hyangwonji setelah matahari terbenam. Seseorang yang seharusnya melindungi Yang Mulia tepat di sampingnya, kenapa bisa berkeliaran di taman belakang di tengah malam? Terlebih, ia tidak ditemani bawahannya dan hanya sendirian seperti kucing pencuri.” Kedua mata Chung Hee terlihat kosong selama dua hari ini. Keteguhannya untuk memecahkan kasus membuatnya melupakan segalanya.

“Ia tidak perlu dicurigai paling ini hanya karena sikapmu yang belebihan. Ini bukan masalah besar, jadi lebih baik kau membenahi pikiranmu yang berantakan.” Gabriel membuka tutup geser laci dapur dan mengulurkan cairan hitam di dalam mangkuk porselen.

“Ini sup rebusan berbagai obat herbal. Pasti sangat bermanfaat untuk kepala yang ruwet dan pusing. Habiskan dan tidurlah dengan cukup. Matahari masih akan terbit besok.” Chung Hee menenggak cairan obat pemberan Gabriel.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *