Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 27

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 26.

“Ini adalah pembunuhan berantai. Tapi, saya masih belum tahu apakah pembunuh korban pertama dibunuh oleh orang lain, atau satu orang yang sama membunuh beberapa orang sekaligus.”

“Hei, kau! Pembunuhan berantai di istana yang dijaga ketat… Kau mau menimbulkan kekacauan, ya?” Suara penuh amarah Ketua Joo Eun memenuhi halaman depan, membuat hati Chung Hee goyah. “Tato para cendekiawan yang mati berhubungan dengan kasus ini, jadi kita harus memeriksa tubuh seluruh cendekiawan.” Chung Hee menunduk. Ketua Joo Eun kehabisan kata-kata.

“Kau tahu Jiphyeonjeon itu tempat seperti apa? Kau pernah lihat seorang anggota Pasukan Patroli Kerajaan yang letaknya di sudut istana, mondar-mandir memeriksa lengan tiga puluh cendekiawan Jiphyeonjeon? Kau mau cari mati, ya?” “Apa Jiphyeonjeon punya tiga puluh cendekiawan?” Chung Hee bertanya dengan mata terbelalak.

“Kau bahkan masih belum tahu itu? Anak bodoh! Berhenti bicara yang tidak-tidak dan kembali ke tempatmu! Kasus ini sudah selesai.” Ketua Joo Eun tidak pernah menghitung cendekiawan satu per satu. Namun, jumlah pekerja, jabatan, dan nama penanggung jawab di setiap paviliun tertulis di Kantor Pasukan Patroli Kerajaan. Di bagian Jiphyeonjeon tertulis nama Hyeon dan angka tiga puluh.

“Maaf. Ini karena kebodohan hamba.” Saat itu. Wajah Ketua Joo Eun baru berubah menjadi lebih lembut lagi. Itu karena ia bisa membaca pikiran lawan bicaranya dan karena ia menyayangi Chung Hee. Ia tiba-tiba merasa malu karena telah meninggikan suara kepada pemuda yang masih polos.

“Beristirahatlah di kamar Kantor Pasukan Patroli Kerajaan. Pasti kepalamu sangat kacau karena selama dua hari ini terus bekerja keras siang dan malam.” Mendengar perkataan lembut Ketua Joo Eun, hati Chung Hee terasa pedih. “Yang menarik perhatian hamba bukanlah mengistirahatkan tubuh rendahan ini.” “Kalau begitu, apa yang menarik perhatianmu?” “Siapa korban ketiga?” Bulu kuduk di lengan Ketua Joo Eun langsung berdiri.

“Saya berharap rantai akan putus dengan kematian Dae Jung, tapi ini adalah pembunuhan berantai. Kalau masih ada seorang cendekiawan dengan tato di tubuhnya, kecelakaan ini tidak akan berhenti,” ujar Chung Hee sambil menekankan akhir kalimatnya.

“Kau pikir Tuan Daejehak akan mengizinkan diperiksanya lengan bawah para cendekiawan hanya karena keteguhan seorang pasukan patroli?” Sekarang, ada dua hal yang penting bagi Ketua Joo Eun. Menangkap pelaku dan menyelesaikan kasus, serta tidak mengusik daejehak dan menyelesaikan pekerjaannya tanpa keributan. Jika disuruh memilih mana yang lebih utama, tentu saja ia akan memilih yang kedua. Namun, jika ia tidak bisa menghentikan kasus yang semakin menyebar, ia juga tidak akan bisa selamat.

“Setelah mendengarkanmu, sepertinya menyiapkan langkah pencegahan dengan memikirkan segala kemungkinan lumayan juga. Tapi, Jiphyeonjeon bukanlah tempat yang bisa diacak-acak oleh Pasukan Patroli Kerajaan.” “Lalu, apa yang harus hamba lakukan?” “Pertama-tama, temuilah Tuan Daejehak untuk meminta kebaikan hatinya. Jika ia mengizinkan, berarti kita beruntung. Tapi, jika ia tidak mengizinkan, jangan memaksa dan kau harus segera mundur.”

Ketua Joo Eun mengagumi sendiri langkah yang ia ambil. Ia sangat beruntung karena bisa memasang Chung Hee di garis depan, sehingga ia tidak perlu berhadapan langsung dengan orang tua yang kaku untuk menyelesaikan kasus ini. Ketua Joo Eun senang jika Tuan Daejehak mengizinkan pemeriksaan itu, tapi jika memang tidak diizinkan, setidaknya ia punya alasan untuk meloloskan diri.

“Jangan terburu-buru. Kau harus rendah hati!” Ketua Joo Eun berteriak nyaring pada Chung Hee yang sudah menghilang ke seberang pagar dalam istana. Jiphyeonjeon terasa sangat sepi di siang hari. Mata Daejehak lebih bengkak dibandingkan kemarin. Walaupun begitu, matanya masih terlihat tajam. Kedua tulang pipinya terlihat menonjol karena pipinya cekung tanpa daging sama sekali.

“Orang tua yang tidak berdaya kehilangan dua cendekiawan dalam dua hari, sehingga sekarang hanya bisa meratapinya.” “Saya datang untuk menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan kejadian semalam kepada Tuan Daejehak.” Chung Hee menunduk.

“Apa yang diharapkan orang tua penuh dosa yang tidak bisa melindungi muridnya? Aku akan melakukan apa pun asal bisa mencabut akar kejahatan orang-orang yang mengacaukan kuil ilmu pengetahuan yang sacral.”

“Apakah Daejehak tahu bahwa dua cendekiawan yang ditimpa musibah tengah melakukan tugas lain, selain kewajiban yang diberikan secara resmi?” Daejehak bingung sejenak ketika mendengar pertanyaan yang tiba-tiba.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 28.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *