Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 3

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 2.

Sambil memandangi mayat itu, Gabriel kembali dengan ringan ke meja autopsy. Ia dapat membaca, melihat, dan mendengar melalui tubuh. Lalu, ia juga mengenal dunia dan memahami manusia dari tubuh. Baik itu dari tubuh orang yang masih hidup atau yang sudah tak bernyawa.

Dada korban tertusuk mata pisau yang tajam. Tusukan dilakukan dengan mantap dalam satu kali coba. Tusukan yang dilakukan tanpa ragu dan berhenti sejenak untuk menghindari tulang rusuk. Kemampuan yang sangat tinggi sampai tidak mninggalkan darah atau hal lainnya yang tidak penting.

“Pisau yang tertancap di dada lelaki ini mengatakan banyak hal.” Terdengar suara mantap yang sudah focus kembali kepada mayat setelah agak terganggu oleh keberadaan kancing giok. Chung Hee menggenggam kancing giok dengan erat. Sama seperti korban beberapa waktu lalu.

“Pertama, kemungkinan besar pemakai pisau ini berasal dari rumah kaum aristocrat. Ini dapat dilihat dari gagang pisau berkelas yang dibungkus kulit hiu.”
“Lalu?”
“Kedua, kemungkinan besar pelaku adalah kidal. Bagian kiri gagang pisau terlihat lebih kotor, kan?”
“Lalu ada apa lagi?” Chung Hee mendesak dengan suara datar.
“Ketiga, pelakunya berkemampuan tinggi. Setelah menusukkan pisau secara horizontal di sela tulang rusuk dan menusuk jantung, ia memutar pisau ke arah vertical. Ketika jantung yang sobek terkoyak, darah akan cur cur… mengerti, kan?” Gabriel berbalik menatap Chung Hee sambil menekankan kata “cur cur”.

“Tapi, penyebab kematian Kang Dae bukan karena ditusuk pisau.” Gabriel berbicara sambil memperhatikanluka mayat. Chung Hee terkejut. “Apa maksudnya? Ia kan mengeluarkan sangat banyak darah sampai air sumur ternoda warna merah.”
“Ada tiga kemungkinan penyebab kematiannya. Pertama, pisau yang tertancap di dada. Kedua, luka di sekujur tubuhnya. Lalu, tubuh yang tenggelam… pisau merupakan penyebab luka fatal, bekas luka dapat membahayakan nyawanya, dan tenggelam dapat merenggut nyawa seseorang.”

“Yang mana? Kalau tidak mati karena ditusuk, berarti tenggelam?” mendengar desakan Chung Hee, Gabriel tersenyum lebar sambil melanjutkan kalimatnya. “Seharusnya paru-paru orang yang mati tenggelam penuh dengan air, tapi dilihat dari dadanya yang tidak mengembang, sepertinya paru-paru korban baik-baik saja. Penyebab kematiannya adalah lebam di bagian lehernya. Pelaku mencekik leher korban.” Gabriel menunjuk sebuah lebam kehitaman di leher bagian depan korban.

“Lalu, apa maksud dari pisau itu? Jika memang sudah mencekik lehernya, normalnya pelaku akan buru-buru meninggalkan lokasi kejadiannya… kenapa susah-susah menusuk dadanya dan menenggelamkannya ke sumur?”

“Pelakunya sudah ahli. Ia bisa mendekat ke belakang korban dan mencekiknya dengan kekuatan yang dapat meremukkan leher tanpa sepengetahuan siapa pun, ia juga bisa membopong dan memindahkan mayat ke bibir sumur, ia juga bisa menusuk jantung dengan sangat akurat.”

“Membopong dan memindahkan mayat?”
“Iya. Peristiwa pembunuhan tidak terjadi di bibir sumur. Pelaku mencekik korban entah di mana. Lalu, mayat menjadi kaku ketika dibopong oleh pelaku. Itu bisa dilihat dari posisi aneh mayat yang tangannya kaku ke depan seperti ini. Setelah sampai di bibir sumur, pelaku menusuk dada korban dan menjatuhkannya ke sumur.” Gabriel berbicara dengan mantap.

“Sepertinya pelaku ingin menodai sumur istana dengan darah dan memberitahukan kematian ini ke seluruh dunia. Ya, kan?”
“Aku tidak tahu pasti siapa pelakunya, tapi sepertinya, ia satu kepala lebih tinggi dibandingkan dengan orang normal. Lebam di leher atas terlihat lebih dalam dan jelas, sehingga pasti tenaga lebih banyak datang dari atas sebelum akhirnya sampai ke bawah. Ini bisa menjadi bukti bahwa pelaku satu kepala lebih tinggi dibandingkan orang biasa.”

“Kira-kira jam berapa korban dijatuhkan ke sumur?”
“Asisten datang melihat air sumur yang ternoda darah sekitar pukul tiga sampai lima subuh. Kau datang ke lokasi tidak lama setelah itu, kan? Kalau begitu, korban dijatuhkan ke sumur sekitar pukul satu sampai tiga malam.”
“Bagaimana kau bisa tahu itu?”
“Kita bisa tahu dari perhitungan waktu pertemuan antara nyawa pemuda ini dan nyawa sumur. Darah dari jantung pemuda ini hanya butuh waktu sebentar untuk menodai air sumur. Pemuda ini memang sudah mati, tapi sumur masih hidup.”
“Apa maksudnya?”
“Air sumur tidak bergerak, tapi terus mengalir. Darah mengalir melalui celah dinding batu. Lalu, air batu akan keluar. Butuh tepat satu jam agar air berganti dengan air baru.”

“Kenapa Tetua bisa tahu itu?”
“Di musim panas tahun lalu, air sumur tercemar total dengan air tanah. Saat itu butuh tepat satu jam sampai air berubah jernih lagi.” Gabriel berbicara sambil berjalan mondar-mandir di samping meja autopsy. “Kalau begitu, apa maksud dari lebam kebiruan di sekujur tubuh korban?” Chung Hee menunjuk beberapa lebam kebiruan berukuran besar dan kecil di sekujur tubuh korban yang putih pucat. Lebam berukuran besar banyak terlihat di bagian bokong, lalu dada, pinggang, dan wajahnya juga dipenuhi lebam.

“Lebam-lebam ini setidaknya disebakan oleh dua orang. Lebam di bokong merupakan lebam terlama. Dilihat dari tepiannya yang kekuningan dan konturnya yang samar, sepertinya usianya sudah tiga sampai empat hari. Bekas luka pukulan yang sangat parah. Lebam di dada, wajah, dan leher masih baru. Pasti bekas pembelaan diri atas penyerangan semalam.”

“Kalau begitu, kapan korban mati?”
“Sepertinya belum lama. Jika dilihat dari lebam di lehernya yang masih kebirua, ya.”
“Pasti ada sesuatu yang mencurigakan, kan? Jika Tetua tahu sesuatu, katakanlah.”
“Hanya itu yang kuketahui. Kebenaran pasti ada di dalam kegelapan.”
“Kegelapan sudah memudar.”
“Matahari memang sudah terbit, tapi ada tempat yang terkunci di dalam kegelapan.” Gabriel menunjuk mayat dengan dagunya. Benar. Tubuh korban pasti dipenuhi dengan kegelapan. “Maksudnya kau ingin melakukan autopsy? Membelah perutnya?” Gabriel tidak menjawab dan hanya tersenyum lebar. Lagi pula, ia memang tidak mengharapkan jawaban.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 4.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *