Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 31

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 30.

Gabriel yang bekerja di kamar mayat menempelkan botol ke bibirnya untuk men Edit date and timeuangkan isinya. Hawa panas langsung merayap melewati tenggorokan, membuat sekujur tubuhnya diselimuti kehangatan. Sekarang, ia baru bisa menenangkan dirinya. Gabriel yang memang selalu agak mabuk, merasa lebih bebas. Jika hawa mabuk menghilang, tangannya sedikit demi sedikit bergetar dan bibirnya terasa kering. Tanpa disadari, ia menjadi tegang dan mudah emosi tanpa alcohol. Gabriel memasang tutup botol alcohol yang tadi ia tenggak.

Adik Dae Jung telah mengambil mayat Dae Jung, tapi aroma kematian yang tidak mengenakkan masih memenuhi kamar mayat. Cahaya matahari siang menerangi dari jendela kecil. Sudah sepuluh tahun lebih ia menghabiskan waktu di istana. Kehidupan di istana adalah penjara tanpa jeruji besi bagi Gabriel yang berjiwa bebas dan temperamental.

“Alkohol lagi? Sepenjuru istana sedang kacau akibat kasus pembunuhan, tapi Tetua malah minum-minum.” Chung Hee mendekat sambil menyudutkan Gabriel. Rasa kegagalan melintasi wajah Gabriel.

“Huh, ketahuan. Aku tadi mengelap tanganku yang dipakai untuk menyentuh mayat, jadi sekalian saja meminum beberapa teguk untuk menenangkan tanganku yang gemetar. Hohoho…” Chung Hee menatap Gabriel yang seakan berbicara sendiri dengan kaku. Menasihati Gabriel merupakan hal yang mustahil. Gabriel tidak dapat lepas dari statusnya yang rendah dan terus berguling di tanah berlumpur, yang membuatnya mirip dengan Chung Hee.

Siapa Gabriel? Ia adalah penjagal daging yang hidup dari memotong sapi. Kehidupan seorang penjagal daging tidak bisa dipisahkan dari cendekiawan konfusius Sungkyungkwan. Semua orang dilarang untung memotong sapi, kecuali cendekiawan konfusius. Para penjagal yang bertanggung jawab atas makanan cendekiawan Konfusius, menikmati hak khusus untuk memotong hewan, termasuk sapi, secara legal. Tapi, para bangsawan juga sering mendatangi Banchon untuk membeli daging.

Banchon yang terletak di sekitar Sungkyungkwan adalah dunia lain yang benar-benar tertutup. Bahkan, para pedagang juga tidak berani mendekat. Kebiasaan dan sikap para penjagal daging berbeda dengan penduduk Hanyang. Mereka senang berjudi dan tanpa basa-basi. Jika berkelahi, mereka tidak sungkan menusuk dada dan menyobek otot paha lawannya dengan pisau. Para perempuan menggunakan dialek Songdo ketika berbicara dan yang lelaki selalu mengenakan pakaian mewah.

Gabriel menghabiskan masa kecilnya di Banchon. Sejak kecil, ia belajar teknik memotong daging dari ayahnya yang menghabiskan seluruh hidupnya sebagai seorang penjagal daging. Ketika berumur enam belas tahun, ia dapat menggunakan pisau pendek dan pisau panjang yang tipis sesuka hatinya. Ia dapat memisahkan otot, usus, kepala, dan ekor dengan mata terpejam. Seekor kerbau yang diantarkan kepadanya langsung terpisah menjadi tiga ratus enam puluh lima bagian dalam seketika. Kemudian, daging itu akan dijadikan makan malam cendekiawan Konfusius Sungkyungkwan atau perdana menteri. Kemahirannya menggunakan pisau, bahkan juga terkenal di Banchon.

“Ada apa? Kau terlambat kalau mau melihat mayat Dae Jung. Adiknya yang bernama Dae Yoo sudah membawanya.”
“Bukan datang karena mayat, kok. Saya datang karena ada yang ingin ditanyakan.” “Apa?”
“Pernah dengar tentang tempat bernama Biseogo?” Gabriel langsung berbalik menatap Chung Hee dengan terkejut.

“Kenapa sekaget itu?”
“Tempat itu adalah makam buku-buku terkutuk yang bahkan dijauhi dayang-dayang istana. Tempat terakhir buku-buku buangan, buku-buku yang dihukum mati.”
“Buku-buku yang dihukum mati?”

“Sama halnya dengan manusia, ada manusia baik dan manusia jahat, buku juga ada yang baik dan jahat.”
“Maksudnya, mengadili dan menghukum buku?”

“Benar. Ketua Sungkyungkwan, Saheonbu, dan cendekiawan senior Jiphyeonjeon bertugas untuk memilih dan meniadakan buku-buku jahat setiap kuartal, seperti mencabut jamur beracun. Buku-buku yang dijatuhi hukuman mati akan dikirim ke Bieseogo, baik jilid asli maupun salinannya. Tempat itu sama saja dengan kuburan buku-buku yang tak terhitung jumlahnya.”

“Kenapa buku-buku yang tidak boleh dibaca bisa sampai disebut buku? Lalu, apakah mungkin menyortir buku-buku yang tak boleh dibaca di antara buku-buku yang ada?”

“Buku-buku itu menampilkan kalimat mesum, isinya juga tidak baik. Isinya memang mesum dan tidak baik, tapi jika memang bisa menyadarkan akan sesuatu yang baru, maka buku-buku itu sebenarnya bernilai… tetapi, mana mungkin seorang bangsawan yang lebih dulu menghafal buku Seribu Karakter Cina daripada belajar berjalan dan terus focus pada sastra seumur hidup bisa memiliki jiwa pemberontak?”

“Bukankah orang bodoh di pedalaman gunung tidak akan bisa menyentuh satu pun buku seumur hidupnya? Itu kan memang buku tentang kebaikan dan keburukan, tapi kenapa malah membagi-baginya menjadi ada yang tidak boleh dibaca. Terlalu mewah.”

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 32.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *