Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 34

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 33.

Terdapat lebih dari tiga puluh petugas percetakan yang tengah bergerak dengan sibuk di dalam Kantor Percetakan. Para pembuat lempengan besi untuk mencetak, menempelkan empengan di atas pasir dan tanah liat untuk membuat cetakan. Lalu, mereka menuangkan besi cair ke dalamnya. Setelah cairan itu mendingin, karakter demi karakter pun tercipta. Para pencetak menyusun lempengan demi lempengan di papan kayu sesuai dengan isi buku yang harus dicetak.

Itu merupakan pekerjaan yang rumit, tapi mereka terus mengerjakannya tanpa jeda. Mangkuk tempat mendinginkan besi cair mengeluarkan hawa panas, membuat punggung pesuruh yang bertugas mengipasi cairan itu berkilauan Karena keringat. Petugas kertas mondar-mandir membawa puluhan lembar kertas di pundak mereka. Para pencetak kemudian menekan papan kayu berisi lempengan besi di atas kertas. Jika ada yang bilang bisa merasakan semangat panas di tengah-tengah JIphyeonjeon yang tenang, maka mereka pasti akan merasakan semangat panas membara luar biasa dari tempat ini. Chung Hee memperhatikan seisi Kantor Percetakan dengan mata penasaran.

“Siapa kau? Kenapa berkeliaran di sini?” Terdengar suara bertenaga dari belakang punggung. Seorang lelaki berpostur tubuh besar sedang melipat tangannya di dada sambil memandang tajam Chung Hee. “Aku Chung Hee, anggota Pasukan Patroli Kerajaan yang sedang menyelidiki musibah tadi malam di Kantor Percetakan.” Lelaki itu terlihat lebih jinak ketika mendengar suara jelas Chung Hee. Ia adalah Jung Eun yang bertugas mengawasi para pekerja di Kantor Percetakan.

“Cendekiawan Dae, beliau… akhirnya bisa meluruskan kaki dan beristirahat.” Ia berkata akan mengatakan apa pun yang ia ketahui asal berhubungan dengan cendekiawan Dae.
“Kupikir istana adalah tempat yang tenang, tapi ternyata ada tempat sesibuk ini juga, toh.”

“Ini karena sebenarnya Kantor Percetakan bukan bagian dari istana. Yang Mulia memindahkan Kantor Percetakan yang dulu terletak di daerah terisolasi bernama Hundobang ke dalam istana. Berkat itu, kami bisa membuat gyemija (lempengan emas untuk mencetak pertama di zaman Joseon yang dibuat pada tahun 1403), dan gabinja (lempengan tembaga untuk mencetak yang dibuat tahun 1434)”.

Jung Eun menaikkan suaranya dengan riang sambil berjalan di depan. Chung Hee mengikuti Jung Eun dengan tenang. Orang asing tengah berkeliaran, tapi para pekerja mengacuhkannya dan terus focus pada pekerjaan mereka. Jung Eun yangberjalan mendekati meja, menarik sebuah kursi dan duduk diatasnya. Chung Hee duduk di bangku seberang sambil mengeluarkan selembar kertas kumal dari balik kerah bajunya.

Walaupun menulisnya dengan terburu-buru, tulisan itu terlihat elegan. Setiap goresan memiliki jarak yang tegas. Goresan kuat dan goresan tipisnya juga terlihat sangat serasi. Tulisan itu terlihat sangat jelas. Garis kuat dan garis lembutnya saling berpadu, seakan saling melengkapi. Tulisan entah milik siapa itu dapat mengisap hati siapa pun yang membacanya.

“Kenapa membacanya dengan tidak nyaman begitu? Mau dibalik?”
“Aku sudah tiga puluh tahun bekerja di Kantor Percetakan. Orang seperti kami malah lebih nyaman jika membaca secara terbalik karena kami harus menyusun lempengan dengan urutan seperti itu.”

“Apa ada yang Tuan dapatkan dari tulisa ini?” Jung Eun yang tengah memperhatikan kertas itu, meletakkan kertas di meja sambil berbicara.

“Ini bukan tulisan manusia, melainkan dicap menggunakan lempengan. Bukan lempengan kayu, melainkan lempengan emas.”
“Bagaimana bisa tahu?”

“Lempengan besi atau kayu diletakkan satu per satu di atas papan, sehingga walaupun hurufnya sama, ukurannya pasti akan sedikit berbeda. Tapi, satu karakter hanya punya satu lempengan emas, sehingga bentuknya pasti sama. Lalu, huruf yang dicetak dari lempengan kayu pasti akan memperlihatkan guratan kayu atau bekas pisau.”

“Kalau begitu, kau tahu siapa yang membuat lempengan emas ini?”
“Siapa lagi kalau bukan cendekiawan Dae dari Kantor Percetakan?” Jung Eun berkata seakan tidak terjadi apa-apa. Chung Hee terkejut lagi dengan kecepatan Jung Eun yang langsung menebak pembuat lempengan emas hanya dengan melihat tulisan itu.

“Dae Jung memang cendekiawan Jiphyeonjeon, tapi tangannya sangat telaten. Ia bahkan lebih mahir dibandingkan para pekerja yang bertugas membuat lempengan dan mengecapnya. Ia selalu terlihat tertarik pada sesuatu, ternyata ia sedang mengembangkan lempengan baru, toh.”
“Kalau begitu, bagaimana cara membuat system huruf untuk lempengan baru?”

“Kebanyakan huruf patokan diambil dari buku cina. Memeriksa ratusan buku untuk mengumpulkan huruf. Huruf yang masih kurang ditambahkan dari surat yang ditulis sendiri oleh kaum aristocrat. Ganibja dikumpulkan dari buku Hyosunsail, Wiweoneumjeul, dan Noneo, sedangkan huruf yang masih kurang diambil dari tulisan Pangeran Junyang (nama panggilan Pangeran Shunyang waktu ia masih muda)”.

“Tulisan ini dibuat dari lempengan-lempengan almarhum cendekiawan Dae. Ada yang bisa kau dapatkan dari gaya tulisan ini?”
“Ini gaya tulisan baru yangbelum pernah kulihat sebelumnya.”

“Kenapa bisa ada lempengan dan gaya tulisan yang tidak diketahui oleh seorang dojujagong (Kepala para pekerja percetakan)?”
“Benar. Tapi, baru kali ini aku melihatgaya tulisan seperti ini seumur hidupku.”

“Berarti, cendekiawan Dae sedang mengembangkan lempengan baru tanpa sepengetahuan dojujagong?”
“Bukan hanya lempengan baru. Cendekiawan Dae juga sedang serius meneliti bahan baru untuk membuat lempengan.”
“Lempengan dibuat dari besi cair. Apa maksudnya bahan baru?”

“Besi sangat sulit untuk dicairkan. Lempengan dari besi juga berat dan memiliki permukaan kasar. Cendekiawan Dae pernah membuat lempengan logam yang dicampur dengan lilin. Lilin mudah dicairkan. Permukaannya juga cepat menyerap tinta sehingga hasil cetakannya sangat indah.”

“Tapi, kenapa Tuan bilang akhirnya cendekiawan Dae bisa meluruskan kaki dan beristirahat.” Chung Hee mengungkit gumaman Dojujagong dengan peka.

“Cendekiawan Dae baru mengetahui rasio campuran logam baru sekitar lima belas hari lalu. Tapi, ada masalah besar yang terjadi. Ketika mencetak dengan lempengan kecil, bentuk huruf berubah akibat besarnya tenaga saat menekan.”

“Maksud dari meluruskan kaki dan beristirahat adalah bahwa masalah itu sudah selesai?”

“Di luar dugaan, ternyata penyelesaiannya sangat sederhana. Lempengan besar dibuat dari lilin dan campuran logam dan lempengan kecil dibuat dari besi. Para cendekiawan cenderung berpikir rumit dan luas ketika memecahkan masalah yang sebenarnya sederhana… ketika aku memberitahukan itu, ia sangat senang sampai ingin melompat. Tapi, ia belum sempat mencetak satu pun buku denga lempengan baru.” Mata besar Jung Eun yang seperti mata anak sapi, basah akibat air mata yang menggenang. Berbeda dengan posturnya yangbesar dan cara bicaranya yang kasar, perasaan lelaki itu seperti benang sutra yang halus.

“Kalau begitu, gaya tulisan siapa yang dikadikan dasar oleh cendekiawan Dae ketika membuat lempengan?”
“Hmmm. Bukannya kau yang harus mencari tahu tentang itu? Aku hanya tahu cara mengipasi mangkuk besi cair.” Jung Eun tersenyum lebar memperlihatkan giginya.

Chung Hee terlempar sendiri lagi. Teka-teki baru tergeletak di depannya. Chung Hee memikirkan tempat yang mungkin saja disinggahi oleh petunjuk teka-teki itu. Jika ingin mencari keberadaan gaya tulisan itu, sepertinya ia harus mulai dengan mengunjungi perpustakaan Jiphyeonjeon. Namun, kebanyakan buku di sana adalah buku-buku yang dicetak dengan lempengan yang sudah diakui. Jika gaya tulisan itu bahkan membuat Dojujagong menggelengkan kepala sambil berkata tidak tahu, sepertinya tempat itu lebih cocok dijadikan permulaan. Tempat berkumpulnya buku-buku terlarang yang dikutuk. Mungkin jawabannya ada di sana. Biseogo.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 35.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *