Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 38

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 37.

“Apa arti dari lampu minyak yang hampir habis ini?” Chung Hee berjongkok dan memperhatikan lampu minyak itu. “Saya baru saja menemukan lampu minyak ini di teras. Tetua pasti tidak dapat menyangkal kalau ini adalah lampu minyak yang Anda bawa ke Kantor Percetakan semalam. Kasim pesuruh kemarin pagi telah membersihkan tempat ini, jadi lampu minyak dari waktu sebelumnya pasti sudah tidak ada. Tetua tidak pernah meninggalkan Daejeon sampai sehari sebelum Dae Jung mati, jadi pasti Tetua tidak perlu menyalakan lampu minyak, kan?” Chin Hwa menelan ludah melalui tenggorokannya yang licin.

“Lampu minyak untuk Pasukan Keamanan Internal Kerajaan dibuat kecil dan pendek agar bisa dipegang dengan satu tangan, sehingga tangan yang satu lagi bisa digunakan untuk memegang senjata. Walaupun sumbu apinya kecil, lampu minyak itu menggunakan minyak dari biji rami, sehingga cahaya api lebih terang. Tepat seperti ini.”

“Lampu minyak yang hampir habis itu berhubungan dengan keberadaanku atau dengan kematian Dae Jung?” Chin Hwa bertanya sambil menaikkan alisnya.

Chung Hee menetapkan hati. Jangan takut. Ketika takut menyerang, berarti kekalahan telah tiba. Itu merupakan cara bertahan hidup yang ia pelajari dari puluhan arena peperangan. Cara paling pasti untuk bertahan hidup bukan kemampuan menembakkan anak panah dengan tepat sasaran atau kemahiran memainkan pisau. Caranya adalah dengan tidak takut. Sebanyak apa pun musuh yang datang, jika tidak ciut dan takut, pasti seseorang takkan bisa terkalahkan dan dapat bertahan hidup. Chung Hee berbicara lagi dengan lebih mantap.

“Lihat lampu minyak ini. Minyak biji rami yang paling awet di antara minyak lainnya sudah hampir habis, lalu sumbunya juga hampir terbakar semuanya.” Chung Hee menunjukkan lampu minyak yang sumbunya menghitam. Chin Hwa tidak dapat membaca trik anggota Pasukan Patroli Kerajaan muda ini. Chung Hee melanjutkan bicara seakan dapat membaca ketidaktenangan Chin Hwa.

“Kalau sumbunya sampai hampir habis terbakar, berarti lampu minyak ini dinyalakan dengan sangat lama. Setelah bertemu denganku di Hyangwonji semalam, berarti Tetua singgah di Kantor Percetakan untuk waktu yang cukup lama.” Urat di dahi Chin Hwa bergetar. Hal itu bahkan tertangkap oleh mata redup Chung Hee. “Berarti, Tetua Chin Hwa menghabiskan waktu yang cukup panjang bersama Dae Jung karena sebuah urusan. Lihat lampu minyak ini. Tidak ada jejak air sama sekali. Itu artinya Tetua meninggalkan tempat itu sebelum hujan turun. Tetua berada di sana sejak matahari terbenam sampai sebelum hujan turun,” Chung Hee berbicara sambil memicingkan mata. “Tetua Chin Hwa bisa mengungkap kejadian apa saja yang terjadi selama lampu minyak ini menyala.”

“Pemikiranmu memang bukan pemikiran yang tidak beralasan, tapi aku tidak membunuh Dae Jung.” Suara Chin Hwa sangat tegas seperti pisau yang tengah membelah lobak. Itu adalah cara seseorang yang ingin menyembunyikan dirinya ketika ekornya sudah terinjak. Kedua mata Chung Hee terbakar oleh amarah. Lawannya adalah kaki tangan Yang Mulia. Ia bukan orang yangbisa disingkirka dengan mudah oleh anggota Pasukan Patroli Kerajaan jika sampai menjadi batu hambatan. Walaupun bukan pegawai pemerintah level empat, ia adalah bangsawan terhormat. Walaupun sekarang ia mengakui semua tindak criminal itu, Chung Hee tidak berhak meringkusnya.

Chin Hwa pasti akan balas menyerang besok pagi. Kalau begitu, mungkin ini adalah malam terakhir Chung Hee di istana. Tidak, Chung Hee tidak mengenal apa yang disebut malam terakhir. Semua akan sia-sia jika Chung Hee berpikir seperti itu. Tanpa disadari, Chung Hee melontarkan sebuah lelucon yang bahkan tidak ia mengerti. Apakah itu serangan terakhir yang penuh keputusasaan terhadap kasim Raja yang patut dibenci?

“Katanya Tetua Komandan menyukai sebuah buku Phalsapha, ya.” Wajah Chin Hwa langsung menjadi pucat dalam seketika. Chung Hee menunduk dalam-dalam. “Sudah larut. Maaf karena sudah mengobrak-abrik tempat tidur Tetua dengan tiba-tiba. Hamba akan mundur dulu dan menunggu perintah.” Sambil memperkirakan penderitaan yang akan menghampirinya, Chung Hee keluar dari gerbang dalam sebelah barat.

Chung Hee keluar dari pintu barat yang terhubung dengan Cheonchujeon. Ada yang harus ia kerjakan malam ini. Ia harus menguak rumor mencengangkan yang beredar di tengah-tengah dayang. Rumor hantu di sekitar Cheonchujeon. Rumor yang semakin terdengar setelah peristiwa kematian dua orang cendekiawan. Rumor yangbahkan membuat Ketua Pasukan Patroli Kerajaan turun tangan dan memerintahkan Chung Hee untuk menguaknya.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 39.