Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 39

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 38.

Embun mengalir perlahan di talang Cheonchujeon. Di dekatnya terdapat Heumgyeonggak, sebuah paviliun segi empat yang tidak terlalu besar. Chung Hee memperhatikan sekitar dan mulai berlari. Di sana tidak terlihat satu pun penjaga. Chung Hee bergegas bersembunyi di dalam Heumgyeonggak. Paviliun itu dipenuhi dengan kegelapan samar-samar. Bau getah damar yang belum kering membungkus ruangan itu. Chung Hee memeriksa sekelilingany secara perlahan di dalam kegelapan. Bagian dalam paviliun yang dari luar terlihat kecil, dibagi menjadi tiga bagian menggunakan pintu geser.

Paviliun ini bukan tempat yang layak ditinggali oleh orang. Selain tidak memiliki penghangat ruangan, seisi ruangan juga dipenuhi oleh tong kayu yang sangat besar. Di undakan yang setinggi lutut, terlihat puluhan tong kayu kecil. Tong-tong kecil itu ditumpuk menjadi tiga sampai empat tingkat, sehingga membuat gundukan yang cukup besar. Sebuah tong kayu besar diletakkan tepat di bawah langit-langit dengan tong-tong yang lebih kecil disusun di bawahnya. Lalu, terdengar suara air mengalir yang terdengar samar-samar entah dari mana.

Kenapa paviliun aneh ini bisa diletakkan tepat di samping tempat tidur Raja? Jika hantu memang meninggali tempat ini, bagaimana dengan keselamatan Raja? Chung Hee tidak memahami fenomena itu. Ia harus menunggu sampai hantu bangun ketika jam malam tiba. Chung Hee menciutkan pundaknya dan bersembunyi di dalam paviliun yang gelap. Udara semakin dingin ketika malam semakin larut. Chung Hee melipat tangannya ke bawah ketiaknya. Tubuhnya gemetar. Kurang tidur dan ketegangannya selama dua hari bersatu menjadi rasa lelah, membuat kantuk langsung menerjang.

Chung Hee berusaha sekuat tenaga melawan rasa kantuk sambil membuka matanya lebar-lebar. Yang terdengar hanya suara air mengalir yang entah datang dari mana di dalam kegelapan. Suara air mengalir yang membosankan terdengar seperti lagu nina bobo. Apa lebih baik ia mengalah pada rasa kantuk dan memejamkan mata sebentar? Chung Hee tiba-tiba membuka mata terkejut.

Ia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Tiba-tiba suara air terdengar semakin keras, seakan aliran air bertambah deras. Suara aliran air yang terdengar ketika hantu bangun. Suara itulah yang membuat orang-orang yakin ada hantu air yang tinggal di sini. Tanpa disadari, kedua tangan Chung Hee sudah memegangi tongkat di sabuknya. Suara aliran air semakin keras. Lalu, suara keras seperti batu yang terjatuh juga terdengar, membuat kedua mata Chung Hee membesar karena ngeri. Seluruh tenaga menghilang dari ujung rambut sampai ujung kakinya, sehingga tubuhnya terasa seperti sehelai bulu.

Itu pasti hantu. Suara aliran air yang semakin besar dan suara dentaman seakan bumi tengah bergoyang menandakan bahwa hantu tengah bangun. Setelah hantu perawan berbaju putih bangun, terdengar suara trompet. Lalu, hantu lelaki bagai iblis yang berjanggut hitam panjang juga bangun dan memukul gong. Pemandangan aneh berputar memusingkan di depan mata.

Suara gong kemudian diikuti oleh suara tambur dan lonceng. Chung Hee merasa seperti sedang kerasukan hantu. Walaupun melihat dengan kedua matanya sendiri, ia tidak dapat memercayainya. Namun, tidak mungkin ia tidak percaya. Satu-satunya yang bisa digunakan sebagai senjata adalah tongkat di sabuknya. Giginya bergemeretak akibat ketakutan.

Chung Hee tidak mau datang ke sini dengan sia-sia. Ia salah karena telah meragukan keberadaan hantu. Bagaimana mungkin ia tidak memercayai fenomena itu ketika sudah menyaksikan hantu-hantu bangun dan bergerak di depan matanya? Chung Hee membenamkan kepalanya di lutut sambil memohon agar waktu cepat berlalu dari sudut dinding. Di kejauhan terdengar suara lonceng yang menandakan datangnya jam malam. Baru sekarang ia sebahagia ini ketika mendengar suara lonceng.

Ketika lonceng berhenti terdengar, keributan di seberang mulai terlihat lebih tenang. Yang terdengar hanya suara tetesan air yang melintasi telinga, sampai akhirnya keadaan berubah menjadi sanagt tenang seakan tidak pernah ada yang terjadi. Para hantu yang berputar-putar seperti orang gila di seisi ruangan telah menghilang, lalu suara lonceng, tambur, dan gong juga semakin jarang terdengar. Ini adalah kesempatan untuk bertahan hidup. Chung Hee menahan napas sambil mengintip melalui celah pintu. Untungnya tidak ada penjaga yang terlihat di halaman depan. Lagi pula, siapa penjga pemberani yang rela bertugas saat hantu sedang turun ke bumi?

Chung Hee bergegas membuka pintu. Ia berjalan menyusuri teras untuk memutari paviliun, melewati pagar belakang. Ia membersihkan tanah yang menempel di bajunya, kemudian memandangi atap Gyeonghweru yang sudah tidak asing. Chung Hee akhirnya bisa bernapas lega. Ia kemudian berjalan dengan terburu-buru. Tidak lama setelah atap Kantor Pasukan Patroli Kerajaan terlihat, pintu terbuka dan terlihat jejak cahaya samar-samar lampu minyak yang mendekat. Mereka adalah ketua kelompok dan junior di Pasukan Patroli Kerajaan yang berjumlah sekitar enam sampai tujuh orang.

“Kau tidak tahu kalau istana sedang kacau? Keluyuran ke mana saja kau? Dasar! Ikuti aku!” Langkah para anggota Pasukan Patroli Kerajaan berderap dengan sibuk. “Ke mana saja kau? Kenapa tidak berpatroli di tempat yang sudah ditentukan? Dasar!” Lelaki yang berkata seperti itu adalah Young Jae, ketua kelompok Pasukan Patroli Kerajaan yang sudah tua. Ia terkenal sebagai sosok baik dan menyenangkan di antara para anggota Pasukan Patroli Kerajaan. Ia berusia tiga puluh enam tahun dan sudah memiliki dua orang putra yang harus ia besarkan sendiri karena istrinya sudah meninggal.

“Ada apa?” Wajah Young Jae yang memegang lampu minyak, terlihat berkilauan karena keringat. “Ada kerjaan baru!” gerutu Young Jae. “Apa? Apa maksudnya?” “Katanya ada kasus pembunuhan. Padahal, aku tidak mau bertugas karena tahu akan ada hal seperti ini.” Ia merupakan sosok yang sangat baik sampai memicu timbulnya pertanyaan kenapa ia bisa menjadi seorang anggota Pasukan Patroli Kerajaan. Hari ini bertugas karena menggantikan bangsawan yang seharusnya bertugas. Malam ini ia juga tidak bisa menolak permintaan orang lain, sehingga ia harus menjadi petugas pengganti.

“Di mana? Siapa yang mati?” “Katanya di Jiphyeonjeon. Korban adalah seorang cendekiawan bernama Ha Jae.” Young Jae yang berjalan cepat sambil membawa lampu minyak, mengambil napas dengan terengah-engah. Chung Hee mulai berlari kencang seperti tengah kerasukan sesuatu. Terlihat beberapa lampu minyak yang menyala di Jiphyeonjeon yang ada di kejauhan. Cahaya-cahay itu menjadi satu dan menyinari kegelapan dengan sangat terang. Chung Hee tidak ingin ke sana. Ia takut menghadapi kekacauan, kepanikan, dan kecurigaan yang ada di depan mata. Namun, ia tidak dapat menghindari tempat itu.

Kegelapan yang samar, kacau, dan tidak pasti bukan tempat untuk bersembunyi. Ia harus keluar ke bawah cahaya dan menghantam sinar. Lalu, ia akan menarik satu per satu kenyataan yang ada di dalam kegelapan. Ia harus menerjang rasa takutnya untuk melakukan hal itu. Rasa takut datang dari tempat yang samar-samar. Takut datang karena ketidaktahuan. Chung Hee tahu bahwa pengetahuannya masih kurang. Namun, kesadaran akan kurangnya pengetahuan itu juga bisa dijadikan senjata untuk menerjang segalanya. Chung Hee memasuki cahaya lampu minyak dengan mantap.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 40.