Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 46

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 45.

Lapangan polo luas di halaman belakang ramai dengan suara ketukan kaki kuda yang mengembuskan napas panas dan teriakan para cendekiawan muda. Setiap kali para kuda bertabrakan, terdengr suara dentaman besi yang nyaring. Seruan “haah” terdengar bersamaan dengan melayangnya pecut, membuat kuda meringkik dan berlari.

Para cendekiawan muda termasuk Kim, Eun Jung, Sang Ook, berteriak sambil menunggangi kuda yang tengah berlari setelah sekian lama. Para cendekiawan muda akhir-akhir ini tertekan karena musibah yang terjadi. Untuk mengusir kemuraman itu, Yang Mulia ikut berlari di atas kuda bersama mereka.

Eun Jung sibuk menarik tali kekang kuda sambil meluncur mengikuti bola putih. Ketika bola mendekat ke depan mata, ia tersenyum puas sambil mengangkat tongkat polo tinggi-tinggi. Namun, tongkat lain tanpa disadari telah melayang dan memukul bola itu.

“Kenapa selemas itu? Eun Jung! Tidak mengikuti dengan cekatan. Hahaha.” Yang Mulia menyunggingkan senyum penuh semangat, sebelum menarik tali kekang kudanya dan berlari seperti angin. Eun Jung terkejut dan memecut kuda.

Yang Mulia memang ahli menunggang kuda. Sosoknya yang menempel di punggung kuda sambil mengayunkan tongkat polo, tidak kalah dengan pasukan berkuda Mongolia yang kehebatannya sangat tersohor. Eun Jung meluncur mengikuti Raja yang berada tidak jauh di depan sambil menetapkan hati untuk selalu mengikutinya. Ketika bola mendekat, Yang Mulia mengayunkan tongkatnya sambil bergantungan di punggung kuda yang tengah berlari. Bola keluar melewati area lawan dan melayang ke sela-sela pohon pinus di seberang lapangan. Kasim yang berdiri di belakang, bergegas membuka kantong bola yang disematkan di sabuknya dan menjatuhkan tiga bola baru.

Yang Mulia menyiduk bola dengan tongkatnya, seakan sedang menggunakan sendok, lalu menerbangkannya ke tengah lapangan sekuat tenaga. Tiga sampai empat kuda langsung berlari ke arah bola yang melayang membelah udara. “Yang Mulia baik-baik saja? Wajah Yang Mulia pucat dan banyak keringat.” Eun Jung yang tanpa disadari sudah mengikuti di belakang, bertanya dengan wajah khawatir.

“Kau tahu kalau tidak banyak yang mengikutiku di lapangan polo? Eun Jung, aku naik kuda karena berkeringat bisa membuat badan dan hati menjadi bersih.” Yang Mulia tersenyum cerah sambil menepuk-nepuk bokong kuda Eun Jung yang sedang memajukan mulutnya. Kuda yang terkejut langsung melompat berlari ke tengah lapangan. Eun Jung bergegas mencari keseimbangan sambil menghentikan kudanya.

“Jangan khawatir dan berlarilah. Aku mau mencari bola yang kuterbangkan ke ladang pinus dulu, ya.” Sambil berteriak “haah”! Yang Mulia menghilang di antara pepohonan pinus di belakang lapangan.

Suara tok tok kaki kuda terdengar di tengah hutan pinus yang tenang. Akibat hujan yang turun semalaman, hutan diselimuti oleh kelembapan yang menyenangkan. Yang Mulia duduk rapi di atas pelana kuda sambil menunduk. Terdengar suara teriakan para cendekiawan dan langkah kaki kuda di lapanngan polo di seberang hutan yang jauh.

Pertandingan tadi sangat intens sehingga tubuhnya banyak bergerak. Bergantungan di atas kuda sambil memukul bola bahkan sulit dilakukan oleh pemuda-pemuda yang masih kuat. Menteri-menteri senior sering melarangnya bergerak berlebihan. Namun, Yang Mulia tahu hidup merupakan keseimbangan antara jiwa dan raga. Jika jiwa disamakan dengan langit, maka raga yang dianggap bumi tidak boleh dibiarkan berdiam diri begitu saja. Karenanya, Yang Mulia senang memanah dan menunggang kuda.

Yang Mulia turun dari kuda dan duduk di rerumputan kecoklatan. Ia tidak mengatakan kepada siapa pun, tapi tubuhnya sangat lemas. Ia tidak dapat menahan kantuk yang menerjang, matanya seakan tidak bertenaga. Pemandangan di depannya juga semakin kabur, membuatnya tidak dapat mendengar atau membaca lama. Biasanya, ia melayangkan lima puluh anak panah, tapi sekarang bahkan kesulitan walaupun hanya melayangkan kurang dari tiga puluh anak panah.

Kenapa begini? Ingatan dan kesadarannya bertambah awas, sehingga ia yakin tubuh lemahnya ini bukan disebabkan oleh umur. Namun, kenapa napasnya jadi sangat berat ketika menggerakkan tubuh? Lalu, ia tidak mengerti kenapa masih mengeluarkan keringat berlebih, walaupun musim panas sudah berlalu.

Apa karena terlalu memaksakan diri…” Ketika berlari kencang selama setengah hari, energy tubuh akan membawakan keberanian hati. Karenanya, ia tidak pernah menghindari menunggang kuda dengan cepat layaknya pasukan Mongolia.

“Apa tubuh Yang Mulia benar-benar baik-baik saja?” Eun Jung yang tanpa disadari sudah turun dari kudanya, tengah mendekat. Yang Mulia berbaring di tempatnya. “Umurku baru empat puluh. Kau pikir akan ada kejadian di luar dugaan?” Eun Jung melihat bibir Raja yang bergetar ketika berbicara begitu. Ia juga dapat merasakan napas berat dan tidak teratur. Yang Mulia mendongak menatap Eun Jung yang tengah membungkuk kikuk.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 47.