Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 6

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 5.

“Kalau begitu, sebenarnya tugas apa yang diemban Cendekiawan Kang Dae di Jiphyeonjeon?”
“Pangkatnya hanya jeojak yang berada di strata paling bawah, sehingga ia hanya mengerjakan tugas-tugas kecil yang tidak penting. Merapikan meja dan mengklasifikasikan buku. Mengurus alat tulis. Meminta dan menyetor uang ke Kementrian Keuangan. Mengurus jurnal penelitian.”

“Hanya itu?” Chung Hee tiba-tiba mendekat. Anak sombong ini tidak mau menjawab, ya? Eun Jung mengelus janggut berkilauannya terus-menerus. “Pasti cendekiawan berpangkat terendah tidak hanya diwajibkan mengerjakan hal itu… Ah! Setelah diingat-ingat, pekerjaannya yang paling penting adalah… membakar buku.”
“Buku Jiphyeonjeon seperti apa yang harus dibakar? Jiphyeonjeon kan tempat suci bagi ilmu pengetahuan.”

“Dalam sebulan, ada lebih dari seratus buku yang masuk Jiphyeonjeon. Yang Mulia sangat dekat dengan buku, sehingga ia memerintahkan para menteri untuk menyelamatkan buku-buku. Selain buku-buku yang dibeli para menteri di toko buku daerah Yeongyeong dan toko buku milik orang berpengaruh di Cina, buku-buku karya pelajar Konfusius dan sastrawan dalam negeri juga dikumpulkan di Jiphyeonjeon.”
“Bagaimana caranya merapikan buku sebanyak itu?”

“Geomseodan yang terdiri dari tetua cendekiawan akan mengklasifikasikan buku-buku itu, lalu mengirimkannya ke Departemen Perpustakaan. Tapi, tentu saja Departemen Perpustakaan juga meledak akibat terlalu banyak buku.”
“Karenanya, kalian membakar buku-buku berharga?”

“Buku juga memiliki bermacam-macam subjek. Ada buku-buku yang menyimpang dari jalan yang benar atau bahkan berbau pornografi. Kang Dae yang sangat paham pada trik-trik gelap seperti ini, bertugas membenahi lagi buku-buku yang telah diklasifikasi.”
“Bisa dijelaskan dengan lebih terperinci apa tugasnya?”

“Ada buku yang dibutuhkan ilmu pengetahuan walaupun menyimpang dari standar. Ia bertugas untuk memeriksanya sekali lagi dan mendatanya. Buku yang diselamatkan disimpan di Biseogo, tapi buku yang tidak lolos akan dibakar di pembakaran buku. Singkatnya, anak itu adalah hakim terakhir dan algojo bagi buku-buku yang mendapat hukuman mati.”
“Kenapa cendekiawan rendahan seperti Kang Dae bisa menjalankan tugas sepenting itu?”

“Tradisi akademis sudah menyusup hingga ke tulang para cendekiawan, sehingga mereka menganggap semua buku sebagai karya ilmiah, termasuk buku Empat Buku dan Tiga Klasik. Kang Dae berasal dari keluarga terpandang di zaman Goryeo yang sudah runtuh. Ia juga masih muda sehingga sangat cocok diberikan tugas seperti itu.”

“Walaupun sering dihina, Kang Dae terus membakar buku tanpa mengeluh sama sekali?”
“Kang Dae sama sekali tidak punya kemampuan dan ketertarikan pada apa pun, sehingga pekerjaan itu bagai anugerah dari langit baginya.”

“Bagaimana prosedur pembakaran buku?”
“Buku dibakar di tempat pembakaran buku di setiap musim, yakni musim semi, panas, gugur, dan dingin.”

“Sendirian?”
“Awalnya, ada dua jeojak yang mengawasi bergantian, tapi tidak lama kemudian hanya Kang Dae yang mengerjakannya.”
“Kenapa bisa begitu?”

“Mereka tidak tenang ketika berada di dekat buku yang terbakar, sampai-sampai badan mereka terasa gatal. Kau pikir mereka bisa berlama-lama di tempat pembakaran itu?”
“Kalau begitu, tidak ada satu pun badan pengawas yang mengawasi Kang Dae walaupun ia bertugas membakar buku.”

“Jika tidak takut dengan hukuman penarikan kaki dan tangan, tentu ia bisa membakar satu atau dua buku penting. Tapi, ia bukan pemuda seberani itu yang dapat mempertaruhkan nyawa untuk melakukan hal seperti itu.”
“Kapan pembakaran buku terakhir dilakukan?”

“Kemarin malam. Kemarin adalah hari pertama musim dingin, jadi sangat tepat untuk membakar buku,” ujar Eun Jung dengan wajah yang langsung menjadi kaku dan dingin. “Apa kau sedang menghubungkan kematian Kang Dae dengan pembakaran buku?”
“Saya masih belum tahu.”

Elang yang terbang di langit kelam, menegakkan tubuhnya sambil menukik. Bersamaan dengan itu, terdengar suara mencicit dan terlihat seekor tikus yang terperangkap di sela-sela kuku makhluk siang itu.

“Hal itu sangat aneh dan mengejutkan. Cepat seperti angin, tak dapat ditebak seperti hutan, kuat seperti api, tenang seperti gunung.” Chung Hee memandangi elang yang menjauh sambil mengepakkan sayapnya dalam waktu yang sangat lama.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 7.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *