Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 61

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 60.

Permukaan air tenang Hyangwonji menyimpan kegelapan pekat. Cahaya bulan berkilauan di atas permukaan air tenang, sampai terlihat seperti pasir keemasan. Chung Hee duduk bersandar di undakan batu di tepi air sambil memandangi permukaan air yang tenang. Sejak kecil ia senang sendirian akibat bertugas di medan perang.

Apa ini karena ia selalu melihat seseorang yang baru sekali ia temui sebagai musuh di arena peperangan? Setiap berpapasan dengan seseorang, pertarungan akan langsung terjadi. Ia baru bisa mengalahkan kematian setelah melihat akhir hidup dari musuhnya. Walaupun sudah masuk istana, naluri dasar untuk bertahan hidup yang sudah terukir dalam di benaknya tidak kunjung menghilang.

Chung Hee membatasi diri dari orang yang baru sekali ia temui. Ia merasa tidak tenang dan bahkan menganggap orang itu sebagai musuh. Ia baru bisa merasa damai ketika sendirian. Setiap kali memikirkan keluarganya yang sudah pergi, setiap kali teringat medan pertempuran intens di Bukkwan, ia akan menenangkan hatinya di pinggir air ini.

Satu per satu lampu minyak di paviliun-paviliun di Naegaksa mulai menyala. Obor juga di atas jembatan yang terhubung dengan Chwirojeong juga mulai terbakar satu per satu.

“Aku sudah menebak kau ada di sini.” Canda selalu tercampur di kalimat Dong Sun. chung Hee terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya yang setengah bersandar di undakan. “Hohoho… santai saja. Memang paling enak memandangi danau tenang di malam hari dengan cahaya bulan seindah ini.” Chung Hee melemparkan pandangannya ke permukaan air tenang dengan pola yang dibuat oleh cahaya bulan.

“Luar biasa. Saya menjadi lebih tenang hanya dengan berdiri di tepi danau ini.”

“Apa salahnya mencari ketenangan di Hyangwonji? Apalagi danau ini menyimpan prinsip alam semesta yang misterius dan pemahaman akan kosmis dengan sempurna.” Chung Hee mengernyitkan alis tebalnya.

“Danau ini menyimpan prinsip langit dan tanah?”

“Benar. Langit itu bulat, kan? Bintang dan bulan terbit dan tenggelam di langit yang bulat. Di lain sisi, bumi bersudut dan horizontal. Tanaman tumbuh dan manusia hidup di atas tanah yang kaku. Itu prinsip dasar langit yang bulat dan bumi yang datar, kan?”

“Apa hubungannya prinsip langit bulat dan bumi datar dengan Hyangwonji?”

“Apa bentuk langit?”

“Bulat.”

“Lihat pulau kecil di dalam Hyangwonji.”

Cahaya-cahaya lampu minyak berbentuk octagonal berkedip. Bentuk pulau di depan mata terlihat dengan jelas. Lingkaran yang sempurna. Di tengah pulau berbentuk lingkaran, terdapat Chwirojeong yang berbentuk octagonal. Mata Chung Hee dipenuhi dengan keterkejutan.

“Apa bentuk tanah?”

“Datar.”

“Sekarang, lihat bantaran Hyangwonji.”

Terlihat tangga batu berbentuk persegi yang disusun mengikuti alur bantaran danau. Itu merupakan pemandangan yang menggambarkan prinsip langit bulat dan bumi datar dengan sempurna. Langit bulat dan bumi datar tergambar dengan jelas di tempat buatan ini. Itu adalah keajaiban yang sangat mengejutkan. Walaupun sudah lama dan sangat sering Chung Hee mendatangi danau ini, kenapa ia bisa tidak tahu? Saat itu, ia sepertinya baru tahu kenapa hatinya menjadi damai dan tenang ketika memandangi tepi danau ini.

“Orang-orang jahat dan tidak bermoral mengotori danau yang dibuat dengan prinsip langit dan bumi.”

Chung Hee tidak mau melepaskan Dong Sun yang bicara sendirian tanpa menyelesaikan kalimatnya.

“Siapa yang mengotori danau ini?” Kebingungan melintas di wajah Dong Sun. anak kampung ini tidak akan berhenti jika belum menyelesaikan pertanyaan yang ia miliki. Apakah ia memang tipe orang yang harus memecahkan segalanya walaupun harus bertanya pada siapa pun dan membalik-balik buku apa pun? Kalau memang begitu, Dong Sun merasa lebih baik jika jawaban yang Chung Hee dapat berasal dari mulutnya sendiri.

“Apa itu sumur Yeolsang Jinwon yang tercemar dengan darah Kang Dae?”

“Saya dengar, itu adalah sumber air paling dingin dan jernih di dalam istana.” Chung Hee menjawab dengan mata seakan memandangi bibir sumur Yeolsang Jinwon tempat Kang Dae mati yang terletak di kejauhan.

“Kau tahu ke mana air yang ditampung di Yeolsang Jinwon meresap?” Chung Hee tidak menjawab dan hanya menunggu perkataan Dong Sun. “Airnya akan mengalir berbelok ke sebelah barat Hyangwonji. Selama air dingin dan jernih mengalir di saluran yang sempit, air itu akan menjadi hangat dan lembut. Ia akan mengalir masuk dengan tenang tanpa membuat permukaan air tenang bergoyang sama sekali. Sumber air Yeolsang Jinwon dicemari dengan darah cendekiawan muda Kang Dae. Darah yang kasar mengalir bersama dengan air dingin melalui saluran air, sampai akhirnya masuk ke Hyangwonji.” Kesadaran panas bangkit di dalam kepala seperti lidah api.

“Kalau begitu, siapa yang membangun danau yang menyimpan prinsip langit dan bumi?”

“Yang Mulia.”

Chung Hee teringat dengan bibir sumur tempat Kang Dae mati. Pembatas sumur berbentuk persegi kaku, tutup batu berbentuk persegi yang ada di atasnya, lalu saluran air bulat yang mengelilingi sumur. Bentuk itu juga merupakan gambaran dari langit bulat dan bumi datar.

Kalau begitu, tujuan pelaku adalah merendahkan bangunan buatan Raja yang menggunakan prinsip langit dan bumi? Chung Hee menjadi tegang ketika memandangi permukaan air yang tenang. Danau yang senyap dan tenang ternyata menyimpan prinsip langit dan bumi yang luar biasa. Bulan putih yang bergantung tinggi, menerangi tengah-tengah permukaan air tenang. Cahaya keperakan terbayang di dalam air yang gelap dan membuatnya berkilauan.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 62.