Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 69

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 68.

Chung Hee berjalan menuju Kantor Pengurus Taman Istana di utara taman belakang. Jalan berdaun dengan cahaya bulan temaram, terlihat sangat sepi. Hati Chung Hee terasa sangat kering, sampai sepertinya akan terdengar bunyi daun kering terinjak jika disentuh.

Chung Hee tidak pernah sekali pun mencurigai Gabriel. Gabriel adalah satu-satunya bukit tempat Chung Hee bersandar di istana dan satu-satunya orang yang bisa menjaga Chung Hee di dunia. Namun, Gabriel tidak hanya memotong-motong hewan, ia bahkan memotong dan membuat gambar mengerikan mayat manusia. Apa alasannya? Chung Hee bahkan tidak dapat memikirkan alasan itu karena masih tidak memercayainya.

Ia teringat akan pertemuan pertamanya dengan Gabriel. Satu bulan setelah ia ditempatkan di Kantor Pasukan Patroli Keamanan Kerajaan. Chung Hee berlari setelah mendapat pesan darurat tentang seekor babi hutan yang tengah turun dari gunung Bukhan ke taman belakang. Babi hutan jantan berusia sekitar enam atau tujuh tahun itu sepertinya turun dari gunung karena mengejar mangsanya. Beberapa kasim dan pasukan keamanan ditempatkan untuk menghadapi babi hutan itu.

Ketika Chung Hee maju, mata babi hutan itu berkilauan. Babi itu kelaparan sehingga pasti akan kembali ke gunung jika perutnya sudah penuh. Setelah Chung Hee mencoba menenangkannya dengan perlahan, napas babi hutan yang kasar berubah menjadi lebih tenang sedikit demi sedikit.

Namun, saat itu terdengar jeritan asisten dayang yang baru masuk dari gerbang dalam, membuat babi hutan itu berlari dengan kekuatan mencengangkan. Chung Hee mengeluarkan pisau dari balik sabuknya dan mengenai tubuh besar dan gigi depan bai. Chung Hee memotong babi itu dengan segenap kekuatannya. Saat itu, Gabriel masuk dari gerbang dalam yang terbuka.

“Ternyata ada juga yang bisa memotong babi selain aku.” Gabriel tertawa riang sambil memandangi babi hutan yang sudah tumbang dan Chung Hee secara bergantian. Gabriel membaringkan Chung Hee yang jatuh menelungkup. Ia memandangi kedua mata Chung Hee, menyentuh dadanya dengan hati-hati, serta memeriksa kedua lengannya.

“Walaupun terbuat dari besi, tulang tubuh seseorang yang posturnya hanya sebesar ini seharusnya hancur berkeping-keping… untung hanya lengan kanan yang patah.” Chung Hee kesal mendengar nada suara yang menyebalkan, tapi napasnya terasa sangat sesak sampai ia tidak dapat menjawab.

“Berkat pemuda yang tidak dapat dihentikan ini, Yang Mulia bisa makan babi hutan enak malam ini. Hohoho!” Chung Hee mendengar suara tawa menyegarkan di dalam rasa sakit di seluruh tubuhnya.

“Butuh setidaknya dua bulan untuk menyembuhkan tulangmu yang patah,” ujar Gabriel sambil membelat lengan Chung Hee.

“Seperti anak kampung saja.”

“Kenapa Tuan bisa tahu?”

“Kau ini! Mana ada kutu buku kota zaman sekarang yang bisa seganas itu ketika berhadapan dengan babi hutan?” Nada suara Gabriel terdengar seperti sedang memarahi, tapi Chung Hee tidak marah.

“Minum ini. Ini sup rebusan tulang lutut anak sapi. Ini obat paling manjur untuk merekatkan tulang.”

Gabriel menyodorkan mangkuk berisi kuah sup hangat. Suara hangat itu seakan terdengar di kegelapan. Namun, Gabriel adalah penjagal kejam. Perbuatan gila di ruang rahasia bawah tanah yang gelap. Chung Hee tidak tahu harus berbuat apa pada orang itu.

Terlihat cahaya lampu Kantor Pengurus Taman Istana di kejauhan. Kantor pengurus taman istana beragar batu rendah terletak di taman bunga berbentuk persegi di ujung utara taman belakang. Di salah satu sisinya, terlihat rumah kaca rendah yang atapnya hanya terbuat dari kertas mulberi berwarna putih. Gabriel mengatakan kalau bunga tetap mekar, sayuran tetap tumbuh, dan buah terus berkembang di tengah musim dingin karena udara di dalam ruangan itu sangat hangat seperti udara musim semi.

Chung Hee berjalan ke bukit rendah di seberang pagar Kantor Pengurus Taman Istana untuk mengamati bagian dalamnya. Kegelapan semakin pekat dan dedaunan semakin lembap terkena embun malam. Sambil berharap tidak terkena demam, Chung Hee terus memandangi Kantor Pengurus Taman Istana dan rumah kaca.

Semua anggota Pasukan Patroli Kerajaan ditempatkan di sekitar Jiphyeonjeon. Itu karena pembunuhan selalu berpusat pada Jiphyeonjeon dan korbannya adalah para cendekiawan Jiphyeonjeon. Namun, kantor pengurus taman kerajaan merupakan tempat paling kuat untuk mokgeumtho. Sosok yang setiap hari bergulat dengan tanah, membajak tanah, menanam bunga, dan memupuk tanah merupakan target paling pas bagi pelaku.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 70.