Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 71

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 70.

Musim panas datang setelah musim semi pergi, musim dingin datang setelah musim gugur pergi. Namun, cendekiawan ini meruntuhkan prinsip itu. Bagaimana bisa orang-orang percaya bahwa bunga bisa mekar dan sayuran bisa tumbuh di musim dingin?

“Sayuran dan bunga-bunga ini akan dipakai untuk keperluan Raja?”

“Yang Mulia tidak mau memakan sayur atau menghias ruangannya dengan bunga menggunakan tanaman yang ditanam di musim dingin. Yang Mulia hanya menizinkan pembangunan ini di dalam istana demi kemakmuran bersama.”

“Apa hubungannya membangun rumah kaca dengan kemakmuran rakyat?”

“Delapan dari sepuluh rakyat mencari nafkah dari bertani, sehingga dapat dikatakan bahwa bertani adalah dasar dari negeri ini. Kalau begitu, apa tugas dari seorang raja? Bukankah tugasnya untuk mempertinggi hasil panen yang dihasilkan dari tetesan keringat yang sangat berharga? Bukankah tugasnya untuk menyelamatkan rakyat yang sekarat di masa paceklik dengan mengontrol pasokan sayur dan menjaga kondisi sawah di musim dingin?”

“Kalau begitu, bertani di dalam rumah kaca merupakan teknik pertanian baru yang cocok dengan tanah dan iklim Joseon?”

“Benar. Prang-orang bertahan melawan dingin di musim dingin dan hanya bisa bertani di musim panas. Bertani hanya di musim panas tidak akan cukup. Dengan menggunakan teknik rumah kaca ini, rakyat juga bisa panen di musim dingin.”

“Sepuluh tahun lalu, Yang Mulia menurunkan buku Blak-blakan Bertani ke petani di penjuru Joseon, dan sekarang beliau ingin menyebarkan teknik bertani baru. Saya sangat terharu.”

“Aku khawatir apakah rencana negeri ini bisa berjalan sesuai dengan kehendak raja atau tidak. Walaupun Sanga Yorok (Buku agrikultur yang ditulis oleh dokter istana bernama Jeon Sun. Buku ini menjelaskan tentang cara merawat tanaman dan struktur bangunan rumah kaca yang menggunakan system pemanas tradisional Korea) ditulis tiga tahun lalu, buku itu belum disebarluaskan dan malah masuk ke Biseogo. Bukankah itu patut disesalkan?”

“Maksudnya, buku tentang teknik baru seperti ini sudah pernah ditulis?”

“Rumah kaca dan cara merawat tanaman dicatat di buku karya Tetua Dokter Istana Jeon Sun berjudul Sanga Yorok di seri Dongjeol Yachae (menanam sayuran di musim dingin).”

“Tapi, kenapa buku sepenting itu bisa tertimbun debu di Biseogo?”

“Buku itu karya seorang dokter yang bukan seorang lulusan ujian seni liberal secara formal, sehingga dianggap sebagai buku terlarang dan dikunci di Biseogo. Tetua itu juga menulis buku lain, seperti Euibang Yuchwi dan Sikryo Chanyo yang juga terlelap di Biseogo. Buku-buku itu berisi ilmu penting untuk mencegah penyakit melalui pola makan rakyat yang tidak mampu pergi ke dokter walaupun sakit, sehingga amat disayangkan kalau harus terlelap di Biseogo.”

“Walaupun yang ditugaskan memeriksa adalah para cendekiawan dan pelajar Konfusius yang sangat setia pada paham Konfusius dan Empat Buku, kenapa mereka menganggap buku yang bisa memakmurkan dan memperbaiki kehidupan rakyat sebagai buku buruk?”

“Dulu ia pernah meneliti satu pot bunga azalea di rumah kaca ini dan melaporkan hasilnya kepada Tuan Daejehak. Kau tahu apa kata Tuan Daejehak? Bunga yang tumbuh di musim dingin merupakan karya manusia.”

“Apa maksudnya?”

“Bunga dan buah tumbuhan memiliki masanya sendiri untuk menerima energy dari langit dan bumi. Bunga yang tumbuh di masa yang tidak semestinya bukanlah sesuatu yang baik karena ia adalah hasil karya manusia. Satu buku dapat diselamatkan dari celaan yang tajam itu.”

Kim Ji Woo menyodorkan buku dari atas meja yang sempit. Sanga Yorok. Chung Hee membuka buku dengan ujung kertas yang kehitaman akibat sering dibaca oleh Kim Ji Woo, seraya membaca judul yang berbunyi Dongjeol Yachae. Chung Hee membaca sekilas buku itu, membuat pikiran bagai kilat melintas di dalam kepalanya.

“Ruangan panas seperti di musim panas sehingga ujung baju luar jadi terasa tidak nyaman.” Chung Hee menggulung lengan bajunya. Kim Ji Woo juga ikut menggulung lengan bajunya. Dalam seketika, kebingungan melintas di wajah Chung Hee.

Chung Hee menutup buku, seraya membuka pintu dan berlari keluar. Di belakang rumah kaca yang diterangi cahaya lembut bulan, terdapat dua ekor kuda jantan yang diikat di istal. Chung Hee membuka ikatan itu dan langsung naik ke punggung kuda. Kuda itu kaget dan memberontak akibat penyusup mengejutkan di malam yang senyap. Chung Hee bersusah payah mengembalikan keseimbangan di atas punggung kuda yang bergerak-gerak, seraya memukulkan kakinya ke tubuh kuda. Kim Ji Woo yang berlari menyusul beberapa saat kemudian, hanya bisa berdiri bimbang.

“Tuan tenang saja karena tidak akan ada yang terjadi mala mini. Hamba pinjam kuda ini sebentar.” Kuda sudah berlari sebelum Chung Hee selesai berbicara. Angin dingin menerpa wajah. Pagar pembatas paviliun meluncur di depan mata. Lonceng jam malam berbunyi ketika Chung Hee tiba di sekitar paviliun Cheonchujeon.

Dalam seketika, seakan terdengar suara aliran air entah dari mana. Suara lonceng, tabuhan gendering, dan gong juga sepertinya terdengar. Keringat dingin mengalir di punggung. Itu adalah suara air, gong, dan gendering yang terdengar ketika hantu di belakang Cheonchujeon terbangun. Kalau begitu, malam ini seorang cendekiawan juga harus mati?

Chung Hee memohon dengan tulus dar atas punggung kuda yang tengah berlari. Tunggu. Masih belum waktunya. Suara langakah kaki kuda meninggalkan jejak memusingkan di dalam dada.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 72.