Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 72

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 71.

Kuda yang mengeluarkan uap putih dari mulutnya berhenti di depan Jiphyeonjeon. Chung Hee mendorong anggota Pasukan Keamanan Internal Kerajaan yang menanyakan keperluannya dan langsung berlari ke ruangan cendekiawan Shin Ji.

Shin Ji adalah sastrawan berwajah kaku, serta bermata jelas dan ramah. Dua tahun setelah lulus ujian seni liberal, ia lulus dalam ujian masuk pemerintahan khusus yang diadakan sepuluh tahun sekali, kemudian masuk Kementrian Dalam Negeri. Ia memiliki pengetahuan lebih dalam dari siapa pun pada bidang yang berhubungan dengan kemakmuran dan pembelajaran benda dan alam.

Chung Hee berputar ke tempat ini setelah memastikan tidak ada tato di lengan bawah Kim Ji Woo. Malam mokgeumtho. Cendekiawan Jiphyeonjeon yang pekerjaannya berhubungan dengan tanah adalah Kim Ji Woo dan Shin Ji. Chung Hee memilih Kim Ji Woo karena usianya sepantaran dengan para cendekiawan. Skala kantor pengurus taman istana memang kecil, tapi Kim Ji Woo mengelolanya secara langsung.

Walaupun sudah lama, Blak-blakan Bertani juga berhubungan dengan tanah. Selain sudah berumur, Shin Ji merupakan sosok berpengaruh yang bahkan sudah menjadi menteri, sehingga Chung Hee yakin akan sulit untuk mencelakainya. Namun setelah dipikir-pikir, Blak-blakan Bertani merupakan tulisan mengenai tanah yang sangat komprehensif dan penting. Kenapa Chung Hee bisa tidak menyadari hal itu?

Chung Hee masih ingat akan ayahnya yang selalu membawa salinan buku itu ke mana-mana. Tiba-tiba, ia teringat suara nyaring ayahnya yang tengah membaca buku itu di bawah cahaya lilin temaram. “Ini bagai kitab untuk petani, jadi bacalah baik-baik.”

“Yang bertugas membaca dan menulis kan cendekiawan, jadi untuk apa petani yang tugasnya pergi ke lading ikut membaca buku? Disbanding membaca satu per satu karakter, lebih baik mengerjakan satu petak sawah.” Ibu menghela napas sambil memarahi Ayah. Namun, Ayah tidak mengalihkan pandangannya dari buku. Ayah juga bertekad berimigrasi ke Bukkwan yang tanpa bukit untuk bersandar sama sekali, karena ia yakin dapat mengolah tanah seperti apa pun dengan teknik bertani baru.

“Buku ini membahas tentang saat yang tepat untuk bertani, cara bertani, cara meningkatkan panen dengan menyuburkan tanah, cara menyebarkan bibit, cara menghilangkan rumput, dan bahkan cara memupuk. Hasil panen akan meningkat dua kali lipat jika menggunakan cara itu.” Ayah berkata begitu sambil menjilat bibirnya yang kering.

“Berhentilah. Itu kan buku buatan para bangsawan hebat. Aku anggap tidak mengerti semuanya saja.” Chung Hee meludah. Mana mungkin satu paragraph di buku pertanian bisa meningkatkan hasil panen. Chung Hee khawatir pada ayahnya yang terus membaca buku itu setiap hari, padahal bukan bangsawan. Ayah berbicara sambil mengguncang tubuh Chung Hee yang setengah tertidur.

“Berterimakasihlah pada Yang Mulia. Beliau menyesuaikan teknik bertani Cina yang tanah dan langitnya berbeda dengan Joseon, seraya mengajarkan teknik baru itu ke kita. Beliau telah menyediakan cara untuk melewati masa paceklik, bahkan untuk para petani bodoh di sudut desa pegunungan.” Sambil mengenang suara rendah ayahnya, Chung Hee berlari ke teras belakang yang panjang, seraya menelungkup di depan kamar Tuan Shin Ji.

“Tuan! Tuan!” Chung Hee memanggil sebanyak dua kali, tapi tidak terdengar apa-apa dari dalam. Sambil berlutut, Chung Hee perlahan menarik gagang pintu. Pintu kamar tidak terkunci dari dalam. Chung Hee yakin pasti ada yang terjadi.

“Tuan! Tuan!” Bulan menebarkan cahaya putihnya ke halaman. Mendengar suara kiik yang tajam ketika gerbang dalam di depan halaman terbuka. Dari sana, terlihat tujuh sampai delapan anggota Pasukan Patroli Kerajaan yang memasuki halaman. Wajah Ketua kelompok Pasukan Patroli Kerajaan berubah pucat pasi. Chung Hee turun dari teras.

“Peristiwa yang tidak dapat diperkirakan. Tuan Shin Ji… Tuan Shin Ji.” Bibir Young Jae bergetar. “Sekarang ada di mana?” Suara Chung Hee lebih dingin dari peti es. “Gyeonghweru… pergilah ke Gyeonghweru.” Chung Hee naik ke punggung kuda sambil menarik kekangnya. Kuda berjalan keluar melalui gerbang dalam yang sempit, menuju Gyeonghweru.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 73.