Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 76

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 75.

Kamar Hyeon dipenuhi dengan kesepian. Cahaya mata penuh kewaspadaan memenuhi sepenjuru halaman depannya. Hyeon yang mengenakan baju putih dengan jaket berwarna emas, mengaduk-aduk mebalik-balik batu bara dengan penjepit di dalam ember api yang menyala.

“Aku sudah tua, jadi walaupun hanya terkena sedikit udara dingin, tubuhku rasanya seperti ditusuk-tusuk. Aku menyuruh pelayan yang bertugas menyalakan api untuk meletakkan beberapa bongkah batu bara ke dalam ember api, sehingga aku bisa melalui malam dingin dengan lebih baik.”

Hyeon tidak mengalihkan pandangannya dari bongkahan batu bara yangmerah menyala sambil tersenyum getir. Walaupun sudah menjaga diri sekuat tenaga, manusia hanya bisa pasrah pada takdir, sehingga Hyeon menerima kenyataan bahwa tubuhnya sudah tua. Seorang lelaki dengan mata tajam menunduk di seberang meja. Lelaki itu menyadari gerakan tangan Hyeon yang menyuruhnya memasuki ruangan, sehingga ia mendekat sambil berlutut, seraya berbisik.

“Istana sedang kacau. Kejadian yang harus muncul akhirnya muncul juga. Orag-orang dangkal menghilang bersama angin yang menerbangkan mereka.” Walaupun rendah, suara itu terdengar tajam bagai tengah memotong tahu. Jikjehak Jiphyeonjeon bernama Shim Yoo. Berasal dari keluarga terpandang sejak masa mendiang Raja. Setelah lulus ujian masuk di usia dua puluh dua tahun, ia ditempatkan di Departemen Utusan sebelum menjadi cendekiawan Jiphyeonjeon.

Ia adalah murid Hyeon yang sangat menyukai teori Konfusius dan pandai menulis. Dengan intuisi tajam dan pemahamannya yang akurat, siapa pun pasti tahu kalau ia adalah penerus Hyeon. Hyeon mendiskusikan semua masalah kecil maupun besar dengan Shim Yoo dan sangat memercayai penilaian tajamnya.

“Kelompok-kelompok yang menggoda Yang Mulia dengan buku jahat tidak berguna dan paham bagai monster tidak ada bedanya dengan rumput yang tumbuh di halaman. Mereka sama saja dengan rumput beracun yang dapat menggulingkan Raja, sehingga mereka harus dicabut dan dibinasakan. Menyingkirkan orang-orang tamak yang ingin mengacaukan sepenjuru istana dengan benda-benda berbahaya. Mencabut satu per satu akar penyebab kekhawatiran.”

Hyeon memegang kantong yang disematkan di sabuknya. Gigi kekuningannya bercahaya di dalam kegelapan. Yang dimaksud dengan orang tamak adalah Jenderal Besar Jung Hyun Ki yang dipecat dari pekerjaannya dan dipenjara.

“Mari kita kesampingkan masalah Jenderal Besar. Tapi, jika ingin menutupi pertanggungjawaban atas kematian para cendekiawan yang disebakan oleh malapetaka, tanggung jawab Daejehak.” Shim Yoo tidak bisa menyelesaikan kalimatnya dan hanya memperhatikan raut wajah Hyeon. Kumis Hyeon bergetar.

“Mereka adalah orang-orang yang tidak takut menyalakan api dan melompat ke dalamnya demi mengejar status bangsawan. Kau ragu untuk menyapu bersih buku sejarah?” Hyeon menakankan kata demi kata. Mengusir orang-orang luar bodoh dari Jiphyeonjeon, menjaga kesucian sastra dari buku-buku tidak bermoral, menyingkirkan orang-orang yang menggoda Yang Mulia dengan buku buruk dan omong kosong, menjaga kesucian Jiphyeonjeon dari orang-orang yang ingin menjatuhkan kewibawaannya dengan memecah sastra sejati menjadi dua, semua tugas itu memenuhi beban di pundak seorang daejehak. Mengembalikan hati Yang Mulia yang terbujuk oleh bisikan-bisikan orang berbahaya juga merupakan tugas yang sangat mendesak.

“Akibat maksud tetua, Jung Hyun Ki dan Park Woo jatuh terjerembap, serta Kyung yang seperti tikus kabur ke luar negeri. Para cendekiawan muda yang tidak mengenal dunia juga sekarang sudah tamat.” Hyeon berbicara sambil mengelus janggut putihnya.
“Tidak akan berakhir dengan cara itu. Memotong tangan dan kakinya dengan menyedihkan hanyalah akar dari kejahatan, kita harus mendapatkan umpan vital yang dapat membuat kita mencekik leher lawan secara langsung, yang dapat membuatnya tidak dapat menghindari maupun membebaskan diri.” Hyeon meresapi dalam-dalam perkataan yang ia lontarkan sendiri. Bongkahan api di dalam ember api berbunyi sambil memuntahkan lidah api.

“Taktik apa yang ingin Tuan gunakan?”

“Istri Putra Mahkota.”

Suara yang sangat berat bagai bongkahan batu. Kedua mata Shim Yoo langsung berkilauan.

“Jika kita menggigit istri putra mahkota, semuanya akan terluka dengan parah.” Hyeon menusukkan penjepit dalam-dalam ke ember api. Orang tua ini benar-benar ingin mengakhiri sampai tuntas? Apakah ini adalah pertarungan berbahaya yang membuat nyawa melayang jika ia tidak membunuh lawannya? Pikiran rumit berlalu-lalang di dalam kepala Shim Yoo.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 77.