Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 81

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 80.

Walaupun istana sama seperti papan catur yang terbuka lebar, di sana ada dunia yang tidak terlihat mata. Geunjeungjeon, Hyangwonji, Gyeonghweru, dan Jiphyeonjeon, semua papviliun dan kolam menyimpan rahasia. Daun yang berjatuhan menyembunyikan tanda kedatangan musim gugur. Pola permukaan air kolam menyembunyikan angin. Hal yang terlihat merupakan bayangan hal yang tak terlihat. Fenomena-fenomena yang muncul hanyalah bayangan kenyataan yang tidak muncul.

“Tuan Shin Ji wafat tadi malam,” ujar Chung Hee setibanya ia di depan kamar Eun Jung setelah melewati taman bunga panjang di bawah pagar pembatas. “Udara di luar dingin. Masuklah.” Ketika pintu terbuka, tercium aroma tanah dan jerami yang menyenangkan. Di kamar tanpa hiasan sama sekali itu hanya terdapat sebuah meja dan sehelai seragam pemerintah yang digantung di dinding. Lalu, ada sebuah lukisan kecil yang mencolok mata.

Itu adalah lukisan kecil dengan panjang sekitar satu ka (23,4 cm) dan lebar enam phun (15, 7 cm). di tengah pemandangan dengan dinding batu hitam bergua dan batu yang kokoh, terlihat seorang cendekiawan yang tengah berpangku tangan. Ia tengah memandangi air dengan santai, tapi matanya yang terlihat mengantuk sangat tajam. Chung Hee seakan dapat merasakan air sungai yang tenang dan mendengar suara hati cendekiawan itu.

“Ada apa dengan lukisan itu?” Eun Jung bertanya pada Chung Hee yang memandangi lukisan dengan tajam. “Saya jarang melihat lukisan, tapi sepertinya ini bukan lukisan biasa.” “Ini sketsa yang dibuat langsung oleh seorang inje (sebutan untuk menghormati bawahan).”

“Inje? Maksudnya Tetua Sang Min?” Saat itu, Chung Hee baru melihat cap berbunyi “inje” yang dibubuhkan di kiri lukisan. “Benar. Ia lulus ujian seni liberal, tapi menolak ditempatkan di kantor pemerintahan dan mengubur dirinya dalam alam dan keindahan lukisan. Ia sangat menyukai bunga dan pohon, sehingga ia menulis ensiklopedia tanaman berjudul Yanghwasorok, tapi sekarang buku itu malah tertimbun debu di Biseogo… kepandaian di bidang puisi, perbukuan, dan lukisan malah menjadi penyakit.”

“Kenapa bakat semenakjubkan itu bisa dibiarkan membusuk?”

“Ia menggemari gambar dan lukisan yang dinilai rendah, jadi bukankah ia hanya terlihat seperti pelukis tidak berguna di mata para kaum Konfusius?”

Chung Hee mengingat detail-detail penting di dalam lukisan, seakan ingin mengukirnya di dalam kepala. Senyum cendekiawan yang terlihat tenang, gua yanghampir roboh, aliran air yang tenang… di mata mengantuk cendekiawan itu juga terlihat jelas kekuatan membara dan kewaspadaan. Manusia tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan alam yang megah, tapi tatapan mata dan ekspresinya bisa membuat orang lain terhipnotis.

“Apa yang membuat saya bisa merasakan perasaan yang sangat intens dari lukisan tenang dan kecil itu?”

“Lukisan ini memiliki jiwa karena adanya cendekiawan tua yang tengah menikmati dirinya sendiri dan sudah melepaskan keduniawian, bukan karena adanya gua yang hampir roboh, tebing yang terpotong, atau aliran air yang tenang. Manusia yang memahami alam dapat memperluas pemahamannya dan tidak akan pernah melewati ilmu pengetahuan dan pengalaman. Lihatlah mata cendekiawan yang tengah memperhatikan permukaan air sambil menopang dagu dan menelungkup di atas batu. Sosok itu memperlihatkan semangat akademis baru Joseon dan kepintaran Sang Min dengan apa adanya.”

“Lukisan sederhana dapat menggambarkan hal seperti itu. Lukisan tentang hal yang terlihat. Lukisan bahkan menyimpan pemikiran dan jiwa, kan?” Pasti ada alasan tersembunyi di balik kematian para cendekiawan. Chung Hee sangat ingin mengungkapkan kenyataan itu.

“Kaisar Hye Sang yan kembali ke utara pernah mengeluarkan perintah untuk menggambar aroma bunga yang tercium setiap kali kuda melangkah di musim semi sepulangnya dari jalan-jalan singkat di ujian tentang lukisan.”

“Saya tidak tahu apakah jejak kuda yang memusingkan sekembalinya dari jalan-jalan singkat di musim semi bisa digambar dengan baik atau tidak, tapi bagaimana caranya menggambar aroma bunga yang tidak terlihat?”

“Ada seorang pelukis handal. Ia menggambar kupu-kupu yang terbang mengejar di belakang kuda yang tengah berjalan pulang. Kupu-kupu mengikuti kuda yang seharian berada di lading bunga sehingga keharuman bunga menempel di tubuhnya. Lukisan ini menggambarkan sesuatu yang tak terlihat, kan?”

“Tuan Sang Min adalah sosok hebat yang diakui Joseon. Tapi, kenapa ia hanya memberikan lukisan yang terlihat kepada Tuan Eun Jung, sahabat dekatnya? Pasti lukisan itu memiliki tanda yang tidak terlihat.” Chung Hee memperhatikan lukisan itu. Eun Jung yang terpesona dengan cerita lukisan itu, memasang wajah kebingungan.

“Orang yang hendak melihat sesuatu yang tak terlihat dan orang yang hendak mendengar yang tak terdengar pasti melihat segala sesuatu di dunia sebagai pertanda. Kau hanya perlu melihat apa yang terlihat dan mengagumi apa yang terasa dari lukisan itu.” Chung Hee mendekat sambil berlutut, seraya membuka bibirnya yang tadi digigit.

“Semalam pelaku membunuh lagi berdasarkan prinsip lima elemen. Mokgeuktho! pelaku menggantung Tuan Shin Ji yang menulis Blak-blakan Bertani di tiang Gyeonghweru. Tiang terbuat dari pohon, berarti masih termasuk kayu, kan?” Alis tebal Eun Jung bergetar.

“Aku sudah menyuruhmu untuk mundur dari kasus ini, tapi kenapa masih melontarkan kalimat tidak berguna begitu?” Dengan perasaan bersalah bercampur amarah, Chung Hee menunduk.

“Hamba memang bodoh dan tidak tahu apa-ap, tapi itu adalah tugas yang dibebankan pada hamba. Urutan berikutnya adalah cendekiawan yang berhubungan dengan air. Siapa itu?”

“Hentikanlah. Aku tidak tahu apa-apa.”

“Tuan tahu. Tapi, tidak mengatakan apa yang Tuan tahu. Tuan tahu siapa pembunuh dan korban selanjutnya. Hamba yang harusnya menghentikan malapetaka ini malah tidak tahu apa-apa, sehingga hamba hanya bisa menyalahkan kebodohan hamba.”

“Kalau kau hanya ingin mengatakan hal-hal tidak berguna seperti itu, pergilah!” Urat tebal menyembul di dahi Eun Jung yang menendang meja dengan keras. Pintu besar di depan mata seakan sudah tertutup.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 82.