Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 82

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 81.

Chung Hee melangkahkan kaki ke Gyeonghweru. Pagar batu rapi mengelilingi paviliun berlantai lebih dari satu yang tinggi itu. Chung Hee mendatangi Gyeonghweru karena ingin mengungkap bagian mencurigakan dari kematian Tuan Shin Ji. Untuk apa pembunuh memindahkan Tuan Shin Ji dari ruangannya dan menggantungkannya di tiang Gyeonghweru?

Seperti Yeolsang Jinwon, Kantor Percetakan, dan Jiphyeonjeon, Gyeonghweru pasti juga menyimpan suatu rahasia. Chung Hee harus menemui dophyeonsu (Kepala tukang kayu yangbertugas memimpin dan bertanggung jawab ketika membangun bangunan besar seperti paviliun dan kuil Buddha di dalam istana) yang mendirikan Gyeonghweru. Kebanyakan dophyeonsu paviliun istana menyombongkan karyanya dan menumpuk kekayaan dengan membangun rumah para bangsawan di luar istana. Namun, dophyeonsu Gyeonghweru adalah seorang kakek sederhana dan jujur yang jauh berbeda dengan mereka. Ia terus merawat paviliun bertingkat yang ia bangun di masa mudaya sambil menjalani waktunya yang tersisa. Bagaimanapun, Chung Hee harus menemui kakek itu.

Chung Hee memperlihatkan lencana Pasukan Patroli Kerajaan dari balik sabuknya, membuat para penjaga langsung membuka gerbang dalam dan menyingkir. Danau tenang dan paviliun bertingkat tinggi terhampar di depan mata. Terlihat atap Geunjeongjeon di seberang kolam kotak.

Chung Hee memperhatikan dengan teliti kawasan di sekitar paviliun bertingkat. Ia mencatat jumlah dan perkiraan panjang pilar, serta menggambar bentuknya dengan kuas yang disimpan di balik sabuk. Panjang kolam ke selatan sekitar 350 bo dan ke timur sekitar 340 bo. Berbentuk kotak besar. Gyeonghweru berdiri di atas pulau kotak.

Lantai bawahnya menggunakan pilar batu dan lantai duanya merupakan rumah kayu dengan atap kayu bergaya phaljak (Atap rumah tradisional Korea yang bagian bawahnya merentang ke empat arah dengan ujung yang melengkung). Salah satu ujung bubungan atapnya berbentuk kepala burung yang tengah membuka paruhnya dan bagian lainnya berbentuk ekor burung.

Paviliun bertingkat itu dikelilingi oleh pembatas batu. Tiang pembatas batu itu dihiasi dengan burung dan hewan yang melambangkan keberuntungan. Di sebelah timur, terlihat jembatan batu penghubung paviliun dengan daratan yang membelah danau dengan elegan.

Angin dingin melewati lantai bawah. Lantai dari batu yang dipotong kotak-kotak lebih tinggi dibandingkan dengan bagian luar. Chung Hee memperhatikan lantai batu dan menaiki tangga menuju rumah kayu lantai dua. Ia berharap dapat menemukan petunjuk-petunjuk yang tidak dapat ditemukan di malam hari. Paviliun bertingkat sudah dipel dan dilap dengan bersih.

“Sedang apa kau? Kau pikir tempat apa ini sampai berani-beraninya melangkahkan kakimu yang kotor itu?” Terdengar suara bergetar lelaki tua yang tengah meringkuk di lantai kayu. Chung Hee langsung berlutut di tempat.

“Hamba Chung Hee dari Pasukan Patroli Kerajaan. Hamba ingin mencari petunjuk musibah semalam.” Lelaki tua itu menghela napas sambil mengelap lantai kayu menggunakan lap jerami dengan penuh kasih sayang.

“Raja terdahulu mendirikan paviliun bertingkat ini. Ia memanggil keluarganya, pegawai pemerintahan, dan para menteri dengan senang, kemudian menamakannya Gyeonghweru. Itu terjadi dua puluh tahun lalu, tapi siapa yang mengira hal buruk seperti hari ini bisa terjadi?” Gumaman lelaki tua itu akhirnya berubah menjadi tangisan.

“Anda dophyeonsu yang mendirikan paviliun bertingkat ini, kan?” Lelaki tua itu berhenti mengepel lantai dengan penuh kasih sayang, seraya berbicara dengan sedih. “Aku mendirikan pilar kayu, memasang tiang langit-langit, dan meratakan lantai kayu dengan tanganku sendiri. Mana mungkin aku tidak tahu setiap potongan lantai kayu dan pilar tempat ini?” Chung Hee harus mencari tahu lebih banyak dari lelaki tua ini.

“Anda mendirikan paviliun bertingkat yang megah di pulau buatan di tengah-tengah kolam. Anda juga menghiasnya dengan atap phaljak. Kemampuan Anda tidak ada tandingannya. Apa hanya itu? Di lantai dua kita bisa melihat dua dewa penjaga gerbang kuil, pesisir utara, dan kebun kapas. Di lantai satu kita bisa melihat air danau dan pulau.”

“Paviliun bertingkat ini didirikan sekitar dua puluh tahun yang lalu, pada masa rezim pemerintahan mendiang raja. Namun, pendirian paviliun bertingkat ini merupakan hasil dari usaha dan ketekunan Yang Mulia. Yang Mulia saat itu masih seorang pangeran. Beliau menggambar rancangan bangunan ini secara pribadi dan menunjukku yang tidak berarti ini sebagai dophyeonsu.”

Ada sesuatu yang melintas di dalam kepala. Namun, Chung Hee masih belum tahu pasti apa itu.

“Yang Mulia dan Tetua bekerja dengan sangat keras untuk membangun paviliun ini, sehingga pasti paviliun ini memiliki perbedaan dengan paviliun lain.” Lelaki tua itu mengelus-elus janggut putihnya sambil menggeleng, seraya sibuk mengepel lantai lagi seakan tidak ada apa-apa.

“Sudahlah. Aku hanya kaki tangan yang mewujudkan maksud agung Yang Mulia. Lalu, kau pikir aku mau menceritakan maksud agung itu pada orang rendahan seperti dirimu? Lebih baik kau segera turun dari paviliun bertingkat ini.” Chung Hee berlari mendekat bagai ikan pari abu-abu yang menggigit umpan.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 83.