Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon Part 85

Sebelumnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 84.

Hae Won duduk di ujung beranda kayu tempat tinggalnya sambil memandangi awan yang melewati ujung atap. Di kejauhan terlihat ujung atap Donggungjeon (paviliun Putra Mahkota).

Hae Won sudah mendengar tentang rumor dahsyat yang tengah berputar di dalam istana akhir-akhir ini. Kenapa istri putri mahkota yang lembut dan mais bisa diterpa rumor sekejam itu? Hae Won tahu kalau tempat ini memang haus darah, tapi ia tidak pernah menyangka ada orang yang memfitnah istri Putra Mahkota yang merupakan calon ibu Negara, menjadi perempuan mesum yang lebih rendah dari pelacur di jalan pasar.

Ujung awan yang melewati tepi atap di kejauhan tiba-tiba mengingatkannya akan hari-hari hangat di masa lalu. Hari-hari itu adalah ketika ia menjadi pelayan seorang perempuan, bukan istri Putra Mahkota. Hae Won sampai sekarang masih ingat senyum hangat sosok yang memeluknya ketika ia masih menjadi anak yatim piatu berusia empat tahun. Gadis yang terkurung di dalam dunianya sendiri akhirnya bisa mengulurkan tangan dengan hati-hati berkat senyum itu.

Hae Won tidak ingat ayahnya. Ia hanya ingat kalau ayahnya adalah pembersih kotoran di rumah-rumah orang kaya. Anak gadis berusia empat tahun adalah beban yang sulit untuk ditanggung seorang pembersih kotoran. Saat itu, ayahnya mendengar keluarga Bong Hwa yang sering ia datangi tengah mencari pelayan perempuan berusia lima tahun. Dengan tangan kasarnya yang biasa digunakan untuk membersihkan kotoran, sang Ayah memeluk Hae Won sambil berlari. Bong Hwa sangat senang ketika melihat anak itu.

“Anak ini sangat pendiam dan tenang.” Ketika mendengar perkataan itu, sang Ayah langsung mengatakan bahwa anak itu kehilangan kemampuan bicaranya setelah kehilangan ibunya akibat kebakaran ketika ia masih kecil. Anak itu dinamai Chun Hei dan menjadi pelayan putri satu-satunya Bong Cha.

Putri Bong Cha merupakan anak yang pintar. Bong Cha tetap mengajari putrinya baca tulis walaupun tahu hal itu merupakan tindakan tidak terpuji untuk perempuan. Namun, ia menyuruh putrinya untuk menjauhi buku Cheonjamun (Buku yang berisi seribu karakter Cina). Perempuan dilarang menimba ilmu di sekolah Konfusius, sehingga ia membina hubungan baik dengan para cendekiawan miskin yang menjadi gurunya.

Chun Hei tidak dapat berbicara, tapi ia tidak asing dengan aksara berkat menguping belajar karena ingin mengikuti kakak perempuannya. Chun Hei tidak dapat mengungkapkan apa-apa, tapi otaknya menyerap semua ilmu pengetahuan seperti angin tornado dahsyat.

Bong Hwa hanya bisa memandang Chun Hei dengan takjub. Ia menyayangkan kebisuan Chun Hei, tapi ia juga merasa lebih baik Chun Hei tidak bisa berbicara daripada banyak mengatakan hal yang tidak ada gunanya. Bagaimanapun, sepertinya Chun Hei bisa menjadi tema baik putrinya seumur hidup.

Entah sejak kapan mereka berdua mulai memiliki cara berkomunikasi yang hanya mereka pahami. Chun Hei mencari kapur putih dan papan kayu hitam untuk mencoba menulis menggunakan aksara Cina sederhana. Jika Hyun Ae menceritakan sesuatu, Chun Hei akan menulis tulisan Can yang kasar menggunakan kapur putih untuk mengekspresikan pikirannya.

Itu adalah alat komunikasi luar biasa. Memang berbeda dengan cara orang-orang biasa bercerita, tapi mereka bisa bertukar isi hati yang lebih dalam dibandingkan siapa pun. Namun, belajar diam-diam tidak berlangsung lama. Para guru juga akhirnya mengangkat tangan mereka dan mengundurkan diri. Hukum alam sudah menyatakan bahwa putri kerajaan dan putri selir tidak diperbolehkan belajar baca tulis. Semuanya akan tertawa jika sampai tahu kalau sebuah keluarga yang bahkan bukan menteri memiliki guru baca tulis untuk mengajari anak perempuan.

Chun Hei dan Hyun Ae beranjak dewasa dengan pemikiran yang semakin dalam. Mereka tidak bisa menyampaikan kedalaman pemikiran dan kerumitan hati mereka yang timbul akibat pembelajaran aksara selama ini. Walaupun tidak dapat berbicara, Chun Hei membutuhkan cara baru untuk menyampaikan isi hatinya.

Cara pertama adalah dengan menggunakan aksara Cina sederhana yang mereka berdua gunakan sejak dulu. Aksara sederhana merupakan aksara yang ditulis dengan menyederhanakan goresan yang rumit dan hanya mempertahankan ciri khasnya.

Semakin lama, Chun Hei juga menulis karakter Cina berdasarkan bunyinya agar bisa dirangkai menjadi kalimat bahasa Korea. Ketika ingin mengatakan tidak, ia menuliskan ‘an yi o’ yang bunyinya mirip dengan kata tidak dalam bahasa Korea. Chun Hei menggunakan bunyi aksara Cina untuk mengungkapkan maksudnya.

Setelah bisa menuliskan bunyi, komunikasi di antara mereka berdua semakin meningkat. Kalimat demi kalimat mengalir bagai air di antara mereka. Air yang tidak mengalir akan membusuk. Pikiran-pikiran yang sudah terlalu matang di dalam hati Chun Hei yang tidak dapat berbicara, berubah menjadi gelombang air dan mengalir ke Hyun Ae.

Selanjutnya misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 86.