Misteri Pembunuhan Para Cendekiawan Jiphyeonjeon

“Kebenaran ada di dalam kegelapan.” Chung Hee mengulang-ulang kalimat itu sambil merasakan keringat dingin menetes di punggungnya. “Kegelapan dapat menutupi kebenaran, tapi tidak dapat menghilangkannya.” Chung Hee menguatkan kedua matanya untuk memandangi apa yang di depan matanya. Kegelapan yang dalam dan lembap, suara tetesan air, wajah-wajah kosong di dalam kegelapan, suara bisikan orang-orang. Terdengar suara kokokan ayam dari kejauhan. Suara yang mengaduk-ngaduk kekosongan.

“Pindahkan mayatnya ke atas tikar jerami!”. Chung Hee berbicara sambil menelan ludah. Seorang pekerja yang sedang menarik tali tambang memperhatikan sosok Chung Hee yang mengibakan. Anggota pasukan patrol bau kencur level delapan. Bibir pekerja itu terlihat bergetar. Ia memasang wajah mual, seraya mulai menggerakkan tubuhnya.

Mayat dengan kedua tangan menjulur ke depan, terlihat basah kuyup. Terdengar suara napas pekerja yang memburu. Benar. Ia pasti lebih menderita dibandingkan dengan korban yang tewas. Chung Hee memeriksa mayat yang dibaringkan di tikar jerami. Pertama-tama, ia harus menyelesaikan kekacauan di dalam kegelapan.

Chung Hee terbangun kaget dari mimpi yang tidak nyaman, sambil memperkirakan apa yang telah terjadi. Apa yang terjadi sampai harus membangunkan pasukan patroli yang tengah tidur di kedalaman istana… Chung Hee mengikat tali dada baju luarnya, seraya melangkah ke beranda. Ia melihat komandannya yang kurus dan berkumis tipis sedang diliputi ketakutan.

“Silahkan berjalan lebih dulu,” ujar Chung Hee. Komandan mengangguk perlahan sambil berjalan di depan. Kemudian, ia menghentikan langkahnya di bibir sumur istana. Yeolsang Jinwon. Sumur berbentuk persegi dengan air yang terus mengalir memutar di dalamnya. Bagian belakangya dikelilingi oleh batu berbentuk kerangka kipas.

Seekor anjing yang telinganya dalam keadaan siaga di malam hari menggonggong. Mengkhawatirkan. Anjing menggonggong setelah yang mulia raja tidur di dini hari… Chung Hee memandangi Daejeon (pavilion tempat tinggal raja) dengan khawatir. Para dayang yang masih muda dan para dayang tengah meringkuk di bawah dinding pembatas. Chung Hee mengambil lampu minyak dari komandan dan menerangi mayat di atas tikar jerami.

Bajunya yang basah tidak terlihat kemerahan akibat cahaya fajar. It adalah darah. Sebatang pisau menancap di dadanya. Pisau buatan tangan yang gagangnya terbungkus rapi dengan kulit lembut. Ujung pisau yang tajam menancap di antara tulang rusuk, menusuk ke jantung. Chung Hee ingin mendengarkan perkataan pisau yang tertancap di dada korban.

Bicaralah! Cepat bicara! Chung Hee mengulang pemikiran itu dengan nada mendesak. Fajar semakin terang. Chung Hee mendekati sumur dan menunduk memandangi kegelapan. Lembah dalam berlumut tanpa jalan yang dapat diterka sama sekali. Apakah kegelapan itu masih mengingat kejadian tadi malam? Korban masuk ke dalam kegelapan. Namun, ia ditarik lagi dari kegelapan. Apakah ia ingin mengatakan sesuatu tentang apa yang tidak dapat dikubur di dalam kepekatan?

Chung Hee memandangi sesosok mayat di atas tikar jerami dengan saksama. Pinggang yang agak membungkuk, kedua tangan yang terjulur ke depan. Wajahnya membengkak akibat tenggelam, tapi dahinya yang putih dan ujung hidungnya masih terlihat normal. Mulutnya yang terbuka seakan sedang menceritakan kengerian yang terjadi semalam. Mulut itu tidak dapat mengatakan apa-apa. Namun, Chung Hee tahu. Korban berbicara melalui keheningan dan memperlihatkan semuanya melalui kesunyian. Kegelapan membuka pagar secara perlahan, membuat sinar menerangi semuanya.

“Siapa?” Chung Hee berbicara dengan kaku. “Kang Dae, Jeojak Jiphyeonjeon.” Seorang Jeojak, ia adalah pegawai pemerintahan kelas bawah level delapan. Seorang penganut paham konfusius muda yang masih hijau. Ia menghabiskan hidupnya yang pendek dengan membaca buku. Kenapa samapai ada seseorang yang ingin menusukkan pisau di dadanya dan menenggelamkannya ke dalam sumur istana?

Chung Hee melemparkan lampu minyak yang meredup ke dalam sumur. Cahaya lampu minyak terlihat samar-samar, sebelum akhirnya menghilang ke dalam kegelapan. “Pindahkan mayatnya ke kamar mayat. Tutup sumur ini.” Para pekerja menutup sumur dengan tutup batu, sampai mengeluarkan suara keras. Sekarang, kegelapan terkunci di tempat itu.

“Siapa yang pertama melihat kejadian ini?” Chun Hee menelan ludah kering. Tidak ada yang maju maupun mengatakan apa pun. Mata mereka kosong akibat ketidaknyamanan dan ketakutan.

Sekitar empat sampai lima belas orang? Para asisten dayang muda masih tertekan dengan kengerian di dini hari. Mereka adalah gadis-gadis remaja yang masih terlalu lembut dan lemah untuk menyaksikan kejadian seperti ini. Sedangkan, dayang lain yang usianya belum mencapai tiga puluh tahun, tengah memeluk para asisten dayang muda itu dengan ujung rok mereka.

Selanjutnya di misteri pembunuhan para cendekiawan jiphyeonjeon part 2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *