My Stupid Boyfriend Bagian 10

Ke sekolah lagi. Hari yang menyenangkan buatku. Maklum, aktivitasku kebanyakan di sekolah. Kalau dulu sih aku sempat ikut beberapa Les. Mulai dari Les mengemudi Bajaj sampai tarian menolak hujan khas dayak. Tapi enggak bertahan lama karena aku bosan. Aku berpikir untuk ikut Les tari menolak tsunami, tapi belum Ada sanggarnya.
Jadi aku benar-benar memanfaatkan waktu di sekolah untuk belajar Dan Gaul. Untunglah aku punya teman geng kupu-kupu beracun dari bukit utara yang menyenangkan. Selalu Ada agenda asyik yang dilakukan setiap harinya.
Hari ini Hari kamis. Waktunya kami berdiri di depan kelas, menatap ke pintu gerbang sekolah. Setiap penghuni yang datang Akan kami komentari, mulai dari Cara berpakaiannya sampai ramalan nasibnya.
“Pasangan paling Sok romantis bulan ini. Paling juga minggu depan bubar. Aku lihat di Facebook Haikal, sudah banyak cewek yang merayu-rayunya,” ungkap Cindi ketika melihat pasangan yanh berjalan mesra Itu.
“Tapi Naura Kan enggak punya Facebook. Tahu sendiri, dia anak paling gaptek sedunia. Sama Haikal Aja, pacarannya masih suka surat-suratan lewat Pak Pos. Jadi, enggak mungkinlah dia tahu,” sergahku.
“Nanti sore, aku Alan mengajarinya bikin FB di tempat Les,” jawab Cindi yang memang rajin Les, baik pelajaran sekolah sampai meramu jamu.
“Lihat… Itu Linda.” Tunjuk Sisi. “Kurasa dia sengaja memakai beha ukuran Besar setelah tiga cowok menolaknya.”
“Mudah-mudahan ganjelan busa di dalamnya enggak copot,” tambah Cinta Dan Laura.
“HAI!”
Aku menoleh, juga teman-temanku. Manusia ondel-ondel berdiri di depanku. Mita, anak kelas sebelah yang merasa dirinya titisan Paris Hilton kecebur empang.
“Aku ultah weekend ini. Datang, ya. Dress code nya army look. Ada door prize untuk best costume sama best couple. Tiket ke Singapore plus akomodasi,” kata Mita sambil membagi undangan untuk kami dengan jarinya yang sengaja dilentik-lentikkan. Padahal, sumpah deh, tuh jari semuanya jempol saking gede-gedenya kayak jari supir Bajaj.
Mita memang dari keluarga Kaya semacam Paris Hilton. Bedanya, kalau Paris Hilton adalah keluarga pemilik Kerajaan hotel mewah, kalau babehnya Mita adalah bandar kontrakan di daerah pinggiran Jakarta. Konon jumlahnya mendekati angka seribu.
Begitu Mita pergi, kami saling berpandangan. Dress code nya Itu lho enggak jelas.
“Aku enggak punya model baju army look,” keluhku.
“Untung kami punya baju lireng tentara dengan warna pink,” timpal Cinta Dan Laura.
“Aku sih Ada baju model tentara dari bahan brokat, berenda-renda gitu,” ujar Sisi.
Aku enggak bisa ngebayangin model yang disebutkan Sisi. Masa sih baju tentara berenda-renda? Bukannya lebih keren kalau berbulu-bulu merak?
“Kayaknya kakakku punya, tuh. Pinjamin sama dia Aja, ah. Mau beli atau bikin baru juga belum tentu menanh door prize,” sahut Cindi.
Jadi, cuma aku yang enggak punya. Duh, tadinya aku ngebayangin bisa hunting baju bareng mereka. Tapi aku enggak mau berbeda dengan mereka.
“Aku juga punya. Jadi Kita semua bakal datang, kan?” Tegasku.
“SIIP!”
Enam jam kemudian, aku menelepon Iyan. “Antat aku sekarang, ya,” kataku. Dia memang berjanji, sebagai permintaan maafnya atas kejadian di apartemen, siap Menjadi supirku kapan Saja ke Mana Saja.
“Mau ke Mana?”
“Beli Kain kafan busy kamu.”
“Ah, kamu baik banget. Tapi tunggul sebentar, ya. Tanggung, nih!”
“Tanggung ngapain?”
“Aku lagi di toilet, mules.”
Klik. Aku nyesel pakai acara tanya-tanua segala. Lima belas menit kemudian, Iyan menjemput. Aku langsung pamit sama Mamih.
“Hati-hati, ya, di jalan. Jangan jajan sembarangan, jangan parkir sembarangan, jangan meludah sembarangan…”
“Eca…” Potongku.
“Eca apaan?”
“Eca pedeh!” Kataku sambil ngeloyor pergi.
Iyan cengengesa. Membuka pintu depan Mobil. Tapi aku enggak mau. Aku membuka sendiri pintu belakang. Statusnya kan supir, jadi aku enggak mau duduk di sebelahnya.
“Maaf, kursi belakangnya Kotor. Tadi nyokap sama bokap main gebuk-gebukan bantal di situ. Sampai bulunya pada keluar dari bantal. Belum dibersihin,” kata Iyan buru-buru.
Aku enggak jadi duduk di belakang. Jadinya duduk di depan, deh. Biar enggak diajak ngobrol sama Iyan, aku langsung pasang headset dari HP ku. Beres, kan? Tapi sepuluh menit kemudian, aku mencabut headsetku.
“Kok, jalannya ke sini? Emangnya Kita mau ke Mana?”
“Ke bengkel.”
“Siapa yang mau ke bengkel?”
“Kamu.”
“Kapan aku bilang mau ke bengkel?”
“Tadi waktu baru jalan, aku Tanya mau diantar ke Mana. Terus kami enggak jawab. Nah, aku Tanya lagi, mau ke bengkel, ya? Terus kamu juga diam. Aku anggap diam Itu iya, jadinya aku arahkan mobilnya ke bengkel.”
“Sotoy! Aku tuh mau ke outlet nyari baju buat ke ulang tahun Mita.
“Oh… Bilang dong dari tadi. Aku juga rencananya pengen beli Hari ini.”
“Oh ya?”
“Iya. Aku Ada ide pake baju satpam.”
“Sejak kapan satpam jadi Bagian army?” Ledekku.
“Kan masih Ada hubungannya dengan menjaga keamanan. Daripada aku pake baju silat, malah enggak nyambung banget.”
“Iya, sih.”
“Kalau seragam satpam yang batik Ada enggak, ya?”
“Otakmu, tuh, yang harus dibatik dulu!” Rutukku karena Iyan mulai ngaco.
Begitulah kalau dia dikasih kesempatan ngoceh. Jadi, aku mendingan pakai headset lagi. Aku baru membuka headsetku setelah Iyan menghentikan Mobil di halaman parkir outlet khusus yang menjual pakaian army look Dan narapidana look.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *