My Stupid Boyfriend Bagian 13

Sekitar jam tiga, teman-teman perkumpulan kupu-kupu beracun dari bukit utara datang menjemput. Tanpa lama-lama aku langsung pergi bergabung dengan mereka. Aku heran melihat penampilannya Sisi Dan Cindi yang kelewat rapi Dan wangi.
“Kalian mau besuk orang sakit atau mau kondangan, sih?” Tanyaku heran.
“Emang kalau besuk enggak boleh rapi?” Cindi balik bertanya.
“Iya. Kali Aja nanti ketemu dokter muda yang cihuy,” tambah Sisi.
Buatku sih Rada aneh Aja. Sejak kapan Sisi mengincar dokter? Bukannya dia paling enggak mau pacaran sama dokter karena suka megang-megang pasiennya?
Di sepanjang jalan kami dihibur sama Cinta Dan Laura yang lagi mempersiapkan diri untuk audisi Indonesia mencari Bajaj. Di acara pencarian bakat Itu, Cinta Dan Laura Alan menyanyi lagu bahasa Tagalog sambil menirukan suara Bajaj. Aku takjub dengan mereka karena berani mempermalukan diri sendiri.
Tiba di tempat parkir Rumah sakit, suara Cinta Dan Laura berhenti. Hasilnya, mereka mendapatkan Dua ‘No’ Dan Satu ‘yes’ dari aku.
“Lho, Itu bukannya Mobil Iyan?” Tunjuk Sisi sambil mematikan mesin mobil.
Aku menatap ke arah yang ditunjuk Sisi. Iyan jalan bareng beberapa teman sekelasnya, mereka juga baru keluar dari mobil.
Kami keluar. Sisi Dan Cindi langsung membasahi bibirnya dengan lidah. Cinta Dan Laura jalan membusungkan dada. Aku berjalan di belakang mereka. Jangan sampai Iyan melihatku.
Saat masuk ke lobi Rumah sakit, aku jadi curiga. Jangan-jangan teman gengku ini tahu kalau cowok-cowok Itu bakal membesuk Arga.
“Aduh, aku mules, nih. Ke toilet dulu, ya. Kalian duluan Aja,” kataku kemudian ketika melihat papan penunjuk arah ke toilet. Tanpa menunggu persetujuan teman-temanku, aku langsung memisahkan diri.
Di toilet, aku langsung mengeluarkan HP. Kutuliskan pesan singkat:
Kalau Arga cerita melihat Kita ber 2, kamu harus bilang, Arga pasti berhalusinasi.
Kukirim ke HP Iyan.
Aku masih bingung antara bergabung dengan teman-temanku atau ngumpet di lobi. Setelah dipikir-pikir, aku bukan pengecut, jadi aku putuskan ke kantin Saja. Aku Haus banget.
Setelah menghabiskan Satu gelas Liang teh Dan tiga potong risoles isi stroberi, aku meninggalkan kantin menuju lobi kembali. Ternyata teman-teman geng ku sedang berjalan ke Sana pula dari arah berlawanan. Yang kukhawatirkan, wajah mereka tampak garang semua. Apakah mereka tadi diusir perawat gara-gara nyampurin infus pake saos?
“Karin! Ada yang harus kamu jelasin pada kami tentang Iyan. Ayo, Kita ngomong di kantin!” Seru Sisi.
“Jangan ke Sana. Risolesnya enggak enak. Tadi aku udah nyoba,”larangku.
“Kita bukan mau risoles party. Tapi ngomongin Iyan,” jelas Cindi.
Aku melirik si kembar yang belum ngomong apa-apa. Ini pertanda masalah gawat.
Aku mengekor mereka ke pojok kantin. Kami duduk tanpa mengambil makanan apa pun. Persis Lima orang enggak punya duit.
“Ternyata kamu punya hubungannya istimewa sama Iyan, kan?” Tanya Sisi.
“Saat kecelakaan Arga, kamu lagi berduaan sama Iyan, kan?” Tanya Cindi.
Aku bingung menjawab pertanyaan.
“Arga tadi cerita,” sambung Sisi.
“Pasti Arga berhalusinasi, tuh,” elakku.
“Iyan enggak bilang begitu. Dia bilang, emang pergi berduaan sama kamu, nganterin kamu belanja,” tambah Cindi.
“Udah deh, enggak usah mungkir lagi. Pokoknya kamu telah menyalahi aturan bersama ayat 22. Hanya boleh pacarab sama cowok yang disetujui secara bersama. Kalau melanggar, artinya kamu kudu keluar dari geng ini. Ya, kecuali dalam tiga Hari ke depan, kamu bikin Surat pernyataan putus sama Iyan Dan enggak Akan dekat-dekat sama cowok Itu lagi,” kata Cindi.
Ya ampun. Aku memang enggak pacaran sama Iyan.
Tanpa menunggu pembelaanku, mereka meninggalkan aku sendiri di kantin. Aku sedih campur marah. Aku buru-buru ke lobi Rumah sakit. Kutelusuri lorong Rumah sakit menuju kamar inap Argan. Ternyata Iyan Dan teman-temannya masih Ada di sana.
“Iyan, sini sebentar!” Pintaku memggeretnya ke Luar kamar.
“Lho, kamu enggak pulang bareng yang lainnya?” Tanya Iyan.
Aku Tak menjawab pertanyaannya. “Tadi enggak baca ya, SMS dari aku?” Tanyaku.
“SMS? Wah, ya enggak baca. Aku Kan enggak bawa HP. Nanti deh, sampai di rumah aku baca Dan kubalas.”
Ubun-ubunku seperti beruap.
Aaargh!
“Enggak perlu dibaca lagi!” Bentakku sambil pergi meninggalkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *