My Stupid Boyfriend Bagian 15

Sampai detik-detik terakhir keberangkatan, aku masih mencari alasan untuk tidak pergi. Tapi aku memang cewek manis Dan berhati lembut yang enggak punya aktivitas padat, jadi susah banget nyari alasan. Masa sih aku harus bilang mau ikut audisi penghuni POS Ronda terakhir?
Akhirnya, aku harus ikut Mamih Dan Papih. Dan si kucrut Iyan. Aku Cari alasab pusing, biar enggak duduk di samping Iyan.
“Agak mabok nih, Pih, kalau duduk di depan. Papih Aja, ya?” Pintaku.
Papih enggak keberatan walaupun tubuhnya berat. Aku duduk sebelahan Mamih. Akibat duduk sebelahan Mamih, aku harus mencium parfum Mamih yang baunya enggak jelas antara Bunga lavender Dan obat nyamuk. Aku jadi mabok beneran.
Setelah parkir di halaman parkir sebuah hotel, kami turun bareng. Aku langsung membayangkan hidangan lezat mancanegara. Biasanya kalau di hotel Besar gini resepsinya, paling enggak aku bisa nemuin dimsum, pasta, kebab, atau steak. Apalagi aku dengar dari Mamih, yang nikahan Itu orang Indonesia ketemu orang asing.
Saat memasuki lobi hotel, aku agak bingung juga dengan tamu yang datang. Kok banyak banget orang berkulit item? Apa semua abis pada berjemur di Bali. Tapi berapa Hari ya sampai gosong banget gitu?
Aku baru sadar ketika melihat pengantennya. Ternyata pengantennya ceweknya yang orang Indonesia menikah dengan pria adal Zimbabwe.
Pantesan.
Dan parahnya… Semua menu masakan adalah khas Zimbabwe yang enggak mungkin bisa aku telan. Cuma Ada Satu meja untuk hidangan Indonesia. Itu pun hidangan karedok. Ya, ampun… Tadi siang udah lihat karedok, sekarang karedok lagi!
“Karedoknya masih enakan buatan Mamih kamu!” Bisik Iyan sambil makan karedok.
Entahlah, aku merasa tersesat di Satu tempat yang begitu asing!
Diam-diam, aku pergi meninggalkan ballroom. Mencari tempat yang lebih bisa membuat nafasku Lega dari Iyan Dan makanan Zimbabwe Itu. Aku berjalan tanpa rencaba menyusuri lorong, mencari ruang terbuka.
“Karin…”
Aku menoleh.
“Lho… Kok?” Aku kaget. Di depanku berdiri si kembar Cinta Dan Laura. Bukankah mereka seharusnya berada di pesta ultahnya Mita?
“Lho… Karin kamu enggak datang? Terus, kok enggak pakai baju sesuai dress code?” Tanya Cinta.
Setelah diingat-ingat, aku baru nyadar acara ultahnya Mita juga Ada di hotel ini. Cuman beda ruangan. Ah, kok belakangan ini aku sering error gini? Ini pasti karena terlalu sering dekat-dekat sama Iyan Dan makan bumbu pecel.
“Aku memang ke pesta lainnya di hotel ini juga. Kalian… Ngapain di sini?” Tanyaku.
“Kami mau kabur dari pesta. Ada pertemuan ekskul paduan suara,” jawab Laura sambil larak-lirik kanan-kiri. “Sudah yaaaa!” Mereka berjalan cepat kenarag halaman parkir.
Cinta Dan Laura sejak Pertama masuk sekolah langsung ikut ekskul paduan suara. Buatku, ekskul Itu sama sekali tidak menarik. Apa enaknya menyanyi bareng dengan Gaya Kaku begitu? Apalagi peminatnya juga hanya segelintir.
“Karin…”
Duh, bosen banget deh harus ngulang adegan menoleh lagi.
“Aku nyariin kamu ke mana-mana. Papih sama Mamih ngajak pulang. Katanya sakit perut gara-gara makan kambing bakar Zimbabwe. Memangnya BB kami enggak aktif?” Tanya Iyan.
“Batrenya drop. Ya, udah. Kita pulang!” Kataku sambil berjalan ke ballroom mendahului Iyan.
Aku senang bisa buru-buru pulang. Saking senangnya, aku tertidur pulas di Mobil, Dan sempat-sempatnya mimpi ketemu Brad Pitt cuma kulitnya item banget.

BBM-ku berbunyi. Pengirimnya Cindi.
Minggu, jam 10, di rumahku. Rapat menentukan nasib keanggotaan Karin.
Aku langsung gedubrakan begitu membaca pesan itu. Ini baru jam delapan. Jadi aku masih bisa mempersiapkan diri. Aku tahu yang Akan dirapatkan nanti. Mereka Akan mendakwa Dan menghakimi aku. Lalu Akan Ada pemungutan suara, apakah aku harus dikeluarkan dari kupu-kupu beracun dari bukit utara?
Pasti mereka Akan memutuskan aku keluar! Oh, aku harus berusaha datang dengan wajah memelas. Aku enggak mau keluar dari geng ini. Aku bakalan sengsara di sekolah.
“Karin! Ada temanmu di teras. Enggak mau masuk,” kabar Mamih di pintu kamar.
“Bukan Iyan, kan?”
“Kayaknya bukan. Entahlah kalau Iyan bisa membelah diri jadi kembar Dan berubah jadi perempuan.”
Cinta Dan Laura!
Aku buru-buru ke Teras Rumah. Benar dugaanku. Si kembar itu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *